MAKAN BERSAMA DALAM KELUARGA: HARTA BERHARGA


3 min dibaca
09 Jun
09Jun

Suara Keheningan | Yancen Wullo

Kebiasaan yang baik selalu diajarkan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Orang tua menjadi guru pertama yang mengajarkan sekaligus mempraktekkannya dalam lingkup keluarga. Dengan demikian seorang anak belajar mendengar, melihat dan menghidupi kebiasaan-kebiasaan itu sejak dini. 

Inilah model pembelajaran dasar yang begitu kuat mengakar hingga bertumbuh pada tata perilaku hidup yang benar.Salah satu kebiasaan yang cukup menarik bagi saya dalam keluarga adalah “makan bersama”. Ini moment yang  paling ditunggu-tunggu karena amat membahagiakan. 

Bila tiba waktu makan, orang tua selalu memanggil anak-anak untuk membantu mempersiapkan makanan. Masing-masing anak sudah mengerti tugasnya. Mengambil tempat makanan, membersihkan meja makan, menata atau merapikan meja makan dan lain sebagainya. 

Satu persatu meninggalkan kesibukannya dan mulai berkumpul di sekeliling meja ataupun tempat makan lainnya. Ini kesempatan yang paling indah bagi seorang anak bersama dengan orang tuanya. Ketika semuanya sudah hadir, orang tua mulai menunjuk siapa yang memimpin doa sebelum makan. 

Begitu juga saat hendak menyelesaikan makan bersama. Makanan dibagikan orang tua, sambil bertanya kepada anak tentang kemampuan menghabiskan makanan itu, sehingga takaran makanan pun harus sesuai. Semua menikmatinya dengan penuh sukacita. 

Orangtua memperhatikan satu persatu anaknya yang asyik menikmati makanan mereka. Betapa indahnya kebersamaan ini, momen cinta penuh makna.Bukan soal enak tidaknya makanan namun kebersamaan mengelilingi meja makan, memulai dengan doa bersama, saling berbagi dan diskusi itulah arti terdalam dari sebuah kebiasaan makan bersama. 

Inilah saatnya orang tua mengajarkan tentang tatakrama, etiket ketika makan bersama, pentingnya menghargai makanan. Saya belajar mendengarkan pengajaran orang tua dan belajar tentang hal baik berkaitan dengan pola pikir dan pola tindak. Ilmu dari orang tua dibagikan secara cuma-cuma dan menyeluruh tanpa membeda-bedakan. Semua anak mendengarnya, penuh perhatian.

Jika ada yang tidak mampu menangkapnya, orang tua mempraktekkannya, dan semua mata tertuju ke sana. Satu persatu diajarkan dengan tujuan bisa dimengerti dengan baik dan benar. Kadang makanannya biasa saja, tanpa banyak menu, namun enak dinikmati dan dalam sekejap dihabiskan. 

Tak ada yang mempersoalkan tentang makanan, tugas sebagai anak adalah menghabiskannya dengan penuh cinta.  Menu “cinta’ menjadi kesempurnaan dalam makan bersama.

Tak bisa dihindari waktu makan bersama menjadi lebih lama karena sering muncul banyak pertanyaan anak-anak kepada orang tua, tentang apa saja. Ketidakmengertian ini menjadi momen diskusi hangat antar orang tua dan anak, ataupun antara kakak dan adik. 

Jika  memungkinkan saudara-saudara yang lain ikut membantu menjelaskan dan memberi jawaban. Dengan demikian nilai-nilai kebajikan semakin kuat berakar dalam tindakan hidup selanjutnya. Saling menyampaikan pendapat dan mempertahankan kebenaran adalah hal menarik bagi sebuah keluarga. 

Disinilah saya belajar berbicara sekaligus belajar mendengarkan jika ada yang sedang berbicara. Belajar menghargai pendapat dan bagaimana caranya mencapai kesepakatan bersama. Selain itu, inilah kesempatan untuk saling memberi koreksi tanpa harus menjatuhkan dan menyingkirkan jika ada yang salah. Menariknya, orang tua selalu memberikan kesimpulan yang tepat. 

Walau mereka tidak mendapat banyak ilmu namun mereka amat bijaksana dalam memberi solusi. Selain ilmu yang didapatkan, saya belajar dari pengalaman orangtua bagaimana cara menyelesaikan sebuah persoalan. Keterbukaan sebagai orang tua, dan kepolosan hati seorang anak menjadikan sebuah keluarga saling mengenal satu sama lain. 

Tidak ada sikap saling mempersalahkan. Keterbukaan berarti siap memberi apa yang terbaik dan menerima apa yang mesti dikoreksi. Justru pada saat inilah ikatan kekeluargaan semakin dipererat. Kelihatan sangat sederhana namun mengandung nilai kebaikan jika kelak anak berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas. Orangtua menjadi penentu yang mengatur semuanya. 

Bagi saya, kehadiran orangtua mengajariku untuk menjadikan saat makan bersama sebagai saatnya belajar dan berbagi. Maka, makan bersama dalam keluargaku menjadi hal yang wajib dilakukan. Sesibuk apapun orangtuaku bila tiba saatnya makan bersama, meninggalkan semua kesibukkan dan memberi waktu untuk anak-anak. Inilah tanda cinta dan perhatian mereka bagi kami anak-anak. 

Cinta berarti memberi waktu, perhatian dan mau berkorban bagi orang yang dicintai. Harapan untuk makan bersama di waktu pagi, siang dan malam tak mungkin terjadi sepenuhnya. Banyak kesulitan yang dihadapi karena kesibukkan kerja dan lain sebagainya. 

Namun, makan malam bersama adalah saat yang paling tepat untuk dilakukan secara bersama-sama.Kebiasan yang baik ini, kini semakin jarang dilakukan. Dengan alasan kesibukan, masing-masing anggota keluarga bisa menghindari kebiasaan ini. 

Moment ini semakin hari semakin dirasa tidak begitu penting dan bermanfaat lagi. Tidak wajib dilakukan. Jarang ditemukan keluarga-keluarga mempunyai waktu untuk makan bersama. Kadang-kadang kebiasaan ini mulai ditinggalkan. Meninggalkan kebiasaan ini sesungguhnya  menggambarkan kehilangan banyak hal baik dalam keluarga.

Tak bisa disangkal lagi bahwa, saat makan bersama tidak bisa dilakukan secara bersama-sama di sekitaran meja makan, ataupun tempat makan lainnya. Masing-masing orang bisa mengaturnya secara bebas. Tempat makan bersama bukan lagi menjadi patokkan bersama. 

Yang penting mencari tempat yang nyaman. Di depan televisi, di kamar, di halaman rumah ataupun depan HP dan lain sebagainya. Jika terpaksa dilakukan bersama, maka komunikasi secara langsung tidak begitu dihiraukan. 

Sibuk dengan dirinya sendiri, lebih konsen pada handphone dan mengabaikan orang yang ada disekitarnya. Komunikasi dengan orang dekat terasa jauh. Yang dipikirkan sekarang adalah saya bisa makan, bisa kenyang, yang penting ada di rumah. 

Soal komunikasi langsung, diskusi dan lain sebagainya bisa diatur secara mandiri. Itu tidak terlalu penting lagi. Nyaman dengan diri sendiri tidak berarti tidak mempedulikan kebiasaan baik. Makna kebiasaan makan bersama menjadi pudar dan bahkan hilang. 

Saat orang tua mengajar atau mentranswerkan nilai-nilai hidup semakin sulit dilakukan secara bersama-sama. Anggota keluarga hidup berdasarkan prinsip dan kebenarannya. Mereka lupa bahwa dalam hidup keluarga ada prinsip dan kebenaran bersama yang harus dijalani bersama-sama dengan mengorbankan kepentingan pribadi. Prinsip dan nilai kebersamaan menjadi nilai yang tak tergantikan dan begitu penting sekalipun hidup manusia dikuasai oleh perkembangan jaman. 

Nilai dan rasa kekeluargaan jauh lebih tinggi dari sarana komunikasi. Dalam kebersamaan itulah setiap orang belajar untuk saling melengkapi, memahami demi tercapainya tujuan bersama. Maka tak ada salahnya jika kita kembali kepada kebiasan-kebiasaan kecil yang sederhana dalam keluarga karena inilah harta yang paling berharga yang akan terus disimpan dan diwariskan karena mengajarkan nilai besar terhadap pola pikir dan pola tindak manusia.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.