KULIHAT WAJAHMU


2 min dibaca
30 Mar
30Mar

Suara Keheningan | Yancen Wullo

Tentang perasaan, banyak orang sulit mengungkapkan dan  mengartikannya secara tepat. Dibalik rasa, ada kekaguman dan keterpesonaan akan sesuatu yang indah, menarik dan mengesankan.  Rasa kita bisa saja sama, pengungkapan rasa bisa juga berbeda, ekspresinya pun sama dan bisa berbeda. 

Ketika untuk pertama kalinya kulihat wajah itu, rasa kagum menguasaiku dan selalu terbayang-bayang ketika mengingatnya. Sekali saja ku memandangnya, saat itu pula kuingat terus dalam hidupku. Kisah pilu bagian dari cerita kami  yang tidak pernah putus dalam setiap kesempatan. Merasa nyaman ketika masuk dalam bagian ceritanya dan kami pun terlibat dalam rasa yang sama. Rasa yang terus kami jaga dan tak ingin pisah dalam jarak dan waktu manusia.

Persahabatan kami begitu mahal dan sulit tergantikan. Bukan lagi logika yang menyatukan, bukan pula harta dan ikatan darah, melainkan ikatan rasa yang begitu kuat.  Rasa membuat kami satu dalam cinta, rasa membuat kami saling peduli, rasa membuat kami saling membutuhkan dan rasa itu menjadikan  kami satu dalam persaudaraan.

Dia bercerita tentang hidup yang pahit. Bagaimana kisah ditinggalkan kekasihnya, susahnya mencari pekerjaan, belum lagi perjuangan melawan sakit kronisnya. Terkadang kata tidak terucap dari mulutnya. Melihat wajahnya kosong, hampa dengan penuh derain air mata sebagai sebuah cerita yang menggangguku. Dia diam dalam kata namun ekspresinya bercerita tentang sesuatu yang hanya bisa dimengerti tanpa harus bertanya.

Ekspresi menyembunyikan kata, namun menyingkap rasa dan makna. Kulihat wajahmu, kutahu isi hatimu, dan merasa seperti yang engkau alami. Betapa luhurnya sebuah persahabatan kami. Terkadang cerita kami tanpa kata, tanpa ekspresi namun ada rasa. Tidak peduli apa katanya, dan dia pun tak mengerti apa maksudku. Kami sampai pada pemahaman bahwa bukan soal apa yang kami katakan, dan kami lihat, bukan seberapa kami saling mengenal tetapi sejauh mana “hadir” itu menyentuh rasa walau itu tidak bisa terkatakan.

Beberapa kali sahabatku  itu meminta nasihat seadanya. Dengan seadanya juga saya memberi nasihat kepadanya. Walaupun demikian, tidak terlihat dan  terdengar ucapan merasa puas ataupun sebaliknya. Setiap kata dan ucapanku didengar tanpa meresponnya. Namun, di setiap ujung perbincangan kami, terucap satu kata ‘terimakasih.”

Ia meminta kami berdoa bersama pada waktu-waktu tertentu apabila ia merasa sendiri. Keyakinan akan kekuatan doa mencerahkan wajah dan ekspresinya  serta nyaman dalam setiap perasaan takutnya.

Cerita kami berakhir

Beberapa bulan tidak ada komunikasi sedikitpun. Setiap sapaanku tidak dibalasnya. Setiap kali ingin menghubunginya, ada rasa bersalah yang kuat. Muncul sejuta pertanyaan dan kegelisahan. Dia memutuskan komunikasi kami entah lewat suara maupun untain kata –kata, walau sekedar menanyakan kabar. Komunikasi kami tanpa kata dan ekspresi lagi. Kami diam berapa saat, mungkin itu pilihan terbaik, namun tidak menghentikanku untuk terus mendoakannya. Doa adalah ungkapan cinta yang paling tinggi. Ketika aku mengasihinya, maka doa adalah cara tepat untuk mengungkapkan rasa kerinduan itu.

Harus diyakini bahwa kerinduan dalam doa menghadirkan kembali rasa itu. Beberapa hari  ini, dia kembali menyapaku dan kami pun bercerita. Pertanyaan demi pertanyaan tertuju padanya. Anehnya, senyuman selalu menghiasi bibirnya, wajahnya ceria, segar dan suaranya pun begitu semangat. Kali ini, saya terdiam melihatnya. Ada apa dengan dirimu, begitu kata hatiku.

Dia pun bercerita amat sederhana.  Ceriteranya demikian; setiap kata-katamu adalah motivasiku, diammu adalah nasihat dan doamu adalah cintaku. Itulah yang membuatku kembali terseyum dan sembuh dari keterpurukan masa laluku. Tetapi dengan kebiasan lamanya, di akhir cerita dia berucap terimakasih untuk persahabatan ini. Kali ini, saya diam seribu bahasa, tanpa kata.

Bangga sebagai sahabat bagi siapapun. Walau kata terucap dari bibirku biasa saja, namun emas bagi yang membutuhkan. Walau ekspresi tanpa kata menyembuhkan luka batin mereka. Walau diam dalam doa, menjadi kekuatan yang tak tergantikan apapun. Kulihat wajahmu, wajah penuh cinta, wajah yang hidup sekalipun kita berbeda dalam jarak dan waktu. Terimakasih untukmu.

Setiap kata-katamu adalah motivasiku, diammu adalah nasihat dan doamu adalah cintaku. Itulah yang membuatku kembali terseyum dan sembuh dari keterpurukan masa laluku.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.