“KEPO” BOLEH SAJA, ASAL DI LUAR RUANG PRIVASI


2 min dibaca
25 Jun
25Jun

Suara Keheningan | Yancen Wullo


Pada tahun 2012, salah satu istilah yang populer dan sering didengar pada kalangan orang muda adalah “Kepo”. Diambil dari singkatan Bahasa inggris, Knowing Every Particular Object (KEPO). Kepo merupakan gambaran diri seseorang yang ingin tahu akan segala hal secara detail. Jika ada orang yang merasa serba tahu, atau serba ingin tahu, apalagi ingin tahu urusan orang lain bisa digolongkan sebagai “kepo”.

Sebagai orang yang bukan masuk kelompok orang muda lagi, istilah ini sangat kreatif dan inspiratif. Orang muda berkreasi, sekaligus menginspirasi generasi tua dan  anak-anak. Entah mengerti maksudnya ataupun tidak, dua generasi inipun ikut-ikutan menggunakan istilah “kepo” dalam pelbagai kesempatan. Ingin tahu adalah sebuah proses belajar untuk mengetahui dan mengerti banyak hal yang belum diketahui dan dimengerti. Seorang anak misalnya akan banyak bertanya tentang apa saja secara detail jika tidak mengerti tentang sesuatu. Semakin banyak pertanyaan menggambarkan seorang anak ingin mencari tahu kebenaran.

Orang tua tak akan bosan memberi jawaban secara langsung. Namun orang tua juga memberi kesempatan anak untuk memahami sendiri jika umur anak semakin dewasa. Dalam arti ini tak semua jawaban diberikan. Di sini anak belajar memahami dan mengerti tentang segala sesuatu dalam pengawasan orang tuanya. 

Jika ingin tahu, muncul banyak pertanyaan. Apabila mendapat jawaban, kecenderungan manusia selalu merasa tidak puas. Maka yang terjadi selanjutnya adalah mencari tahu dengan cara yang berbeda. Jika sebelumnya hanya bertanya kepada seseorang, kini harus bertanya kepada beberapa orang. Atau  membaca lebih dari satu buku atau beberapa sumber lain untuk mendapat jawaban yang dimaksudkan dan memuaskan hati. 

Proses belajar ini amat kreatif. Prinsipnya jika ingin tahu, orang harus mencari tahu, namun apabila sudah mengetahuinya maka tugasnya harus mampu memberitahu kepada orang lain jika itu penting dan diperlukan. Namun apabila yang di ketahui itu tak seharusnya diberitahukan, maka cukuplah baginya untuk menyimpannya sebagai sebuah kekayaan pribadi.

Sampai pada titik inilah manusia belajar tentang pentingnya menjaga sebuah privasi diri dan privasi orang lain. Privasi berkaitan dengan kemampuan seseorang atau sebuah kelompok yang secara bebas berusaha menjaga dirinya dengan menutup atau melindungi informasi kehidupan dan urusan personalnya dari ruang publik.  Privasi bukan rahasia. Karena rahasia berkaitan dengan menyembunyikan masalah atau persoalan agar tidak diketahui orang lain. 

Privasi itu lebih kepada sikap kebebasan untuk terhindar dari pengawasan orang lain. Pertanyaan mengapa privasi menjadi penting? Karena privasi itu berkaitan dengan ruang pribadi, kebebasan pribadi yang tak boleh diketahui orang lain. Karena itu tidak semua hal harus diketahui orang lain dan tidak semua orang bisa menjaga mulut dengan tidak menceritakan privasi seseorang.

Maka ketika bicara tentang privasi, sesungguhnya kita masuk pada suatu wilayah khusus yang tidak secara gampangan orang lain masuk ke dalamnya. Ruang privasi mestinya terbebas dari pengawasan atau gangguan dari orang lain siapapun dia. Inilah sesungguhnya ruangan yang tidak boleh dimasuki atau diketahui oleh orang lain. Ruang yang khusus (privat). Yang tidak punya urusan ada di luar ruang ini. 

Setiap kelompok apapun memiliki privasi yang hanya diketahui anggota kelompoknya itu. Namun di dalam kelompok itu masih ada ruang pribadi atau privasi pribadi yang tidak bisa dipaksa masuk oleh orang lain sekalipun mereka berada dalam satu kelompok yang sama. Maka pentingnya belajar menghargai privasi kelompok dan menjaga privasi pribadi.

Maka ketika seseorang itu “kepo”, Ia harus menyadari diri pada batasan ini. Ada batasan, dan tidak semua jawaban bisa diperoleh ketika sudah berkaitan dengan privasi kelompok atau individu tertentu. Jika pertanyaan itu berkaitan dengan hal yang sangat sensitif seseorang, janganlah dipaksa untuk mendapatkan jawaban. Hargai privasi seseorang jika ia tidak ingin memberitahu secara detail. Dan tidak ada alasan apapun untuk memaksa masuk pada privasi orang sekalipun dia orang terdekat dalam hidupmu.  

Namun jika ia terpaksa memberitahumu karena alasan mempercayaimu, maka jangan engkau menyebarkannya, karena itu bukan tugasmu. Tugasmu hanya menjaganya. Ruang privasinya tak harus dibuka pada orang lain jika, orang yang telah mempercayaimu tidak mengizinkannya. Etika harus menjadi nilai dasar dari menjaga privasi seseorang atau kelompok tertentu. 

Jadi pahamilah bagaimana pentingnya menjaga privasi. Bisa jadi privasi justru menyerang diri sendiri jika tidak bisa dijaga atau salah mempercayai seseorang. Ruang itu milikmu, engkau berhak membuka atau menutupinya tanpa harus tergoda dengan satu rayuan manis. 

Sehingga alangkah baik dan terhormatlah engkau jika mampu menjaga privasi kamu dan kelompokmu dan setidaknya belajar untuk menghargai privasi orang atau kelompok orang lain.

Kepedulian terhadap seseorang bukan diukur ketika kebaikanmu berbagi privasinya kepada orang lain. Mungkin engkau sedang mencari solusi untuknya, namun itu bukan caranya. Engkau tak sedikitpun berhak baik hati di atas privasi seseorang. Proses belajar untuk mengetahui tentang apapun membuat manusia semakin bijak dalam mempertimbangkan hal yang baik dan jahat.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.