2 min dibaca
26 Nov
26Nov
Suara Keheningan | RP. Yancen Wullo, O.Carm

Saya bukan seorang guru, namun terlahir dari rahim guru dan mengalami jasa para guru yang telah menjadikanku berarti bagi dunia Mereka tak berharap dikenal dan dikenang karena gelar “Pahlawan tanpa tanda jasa”, itu sudah cukup dibanggakan. 

Ketika banyak orang berjuang agar digelar sebagai pahlawan dengan jasa dan pangkat yang memukau dunia, mereka bertahan pada gelar itu sejak dahulu, kini dan mungkin sampai selamanya. Kami adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Tetapi jika para murid mereka berkata dengan jujur maka mungkin guru adalah satu-satunya orang yang bisa membuat dunia menjadi cerah. 

Saya adalah saksi bahwa guru adalah pahlawan hidup yang membawaku mengenal dan mengerti sesuatu yang sebelumnya tidak kupahami. Maka jujur boleh saya berkata, guruku adalah cinta sejatiku, pahlawanku dan hidupku. Secara sederhana saya memahami bahwa guru adalah orang yang menyingkirkan kegelapan dalam hatiku dan hati generasi dari waktu ke waktu. 

Pantas jika orang yang pernah dididik oleh seorang guru tahu menghargai dan mengenang para guru yang berjasa dalam hidup. Apapun jabatanmu saat ini dan siapakah dirimu semua pernah terlahir dari jasa para guru. Kita patut banggga dan bersyukur. 

Socrates seorang filsuf besar dikenal sebagai guru yang hebat. Ia merupakan generasi pertama dari dua filsuf ternama setelahnya yakni Plato dan Aristoteles. Socrates adalah guru dari Plato dan selanjutnya Aristoteles menyebut Plato sebagai Gurunya. Banyak orang mulai mengenal sosok Socrates sebagai guru karena tulisan muridnya, Plato. 

Bahkan dalam setiap tulisan Plato, ia selalu merujuk pada sosok Socrates sebagai tokoh sentral pemikirannya. Ia tahu siapa gurunya dan ia ingat jasa gurunya tanpa mendengar dari orang lain. Dia menulis tentang apa yang dilihat dan dirasakan sebagai seorang murid. Bagi saya yang paling menarik adalah Metode Socrates dalam pengajarannya sebagai seorang guru. Ia menempatkan diri sebagai “bidan” yang sedang membantu kelahiran pemikiran-pemikiran para pengikutnya melalui proses dialog. Ini seperti bidan yang sedang membantu kelahiran seorang bayi. 

Refleksi saya berdasarkan pemikiran sang Socrates. Guru adalah seorang bidan/ dokter persalinan. Katakan demikian. Artinya setiap anak sudah memiliki potensi-potensi baik yang menjadi sebuah kesadaran awal seorang guru. Ada potensi “bayi” yang dimiliki oleh setiap orang atau murid dan itu ada. 

Potensi itu tak boleh dibiarkan begitu saja, sehingga seorang guru memiliki panggilan dan tugas mulia untuk membantu “mengeluarkan” potensi itu dengan taruhan yang tidak mudah. Proses persalinan tidak gampang. Disana ada pergulatan, taruhan kepercayaan dengan konsekuensi keputusan yang tak boleh keliru(Tanyakan pada para bidan persalinan).

Dua situasi bayi yang sebelumnya mengalami kegelapan rahim keluar pada dunia yang terang benderang. Itulah guru dengan segala dinamika perjuangan. Guru tunduk pada muridnya. Ia melayani dengan hati agar bayi yang datang seperti apa yang diharapkan. Ia tak berpikir tentang dirinya tapi hidup orang yang akan ditolongnya. Dahulu saya belum mengalami pendidikan PAUD atau TKK.

Setelah usia enam tahun masuk SD. Dan guru saat itu bisa bekerja menghantarku pada dunia yang belum kenal dan tahu tentang apapun menjadi tahu dan mengerti segalanya. Walau demi pergulatan itu para guruku setia. Mereka mau tinggal dengan segala keterbatasan buku dan lain sebagainya namun mereka kreatif dalam segala cara agar kami para muridnya bisa lebih baik dari mereka, dan ini sungguh terjadi. Paus Fransiskus pada sambutan audiensi dengan para anggota persekutuan guru, di vatikan, 18 Maret 2015 mengatakan, “Mengajar itu indah karena kalian bisa melihat hari demi hari pertumbuhan orang-orang yang dipercayakan menjadi perhatian kalian”. Ini sebuah tanggung jawab besar. 

Hal terindah bagi seorang guru adalah mengingat kenangan-kenangan indah di hari-hari bersama murid-muridnya. Sebuah kebanggaan saat ia melihat muridnya berhasil kelak. Mungkin sang guru itu tak berkata apapun, tapi dalam hatinya ia bangga pada apa yang telah dilakukan pada waktu yang dulu. 

Guru gampang dipuji saat berhasil muridnya, namun dia akan dimarahi, dihina bahkan tak dianggap saat banyak orang melihat kegagalan murid hanya tanggung jawab seorang guru. Maka lanjut kata Paus Fransiskus.

Tugas guru yang baik adalah mengasihi para siswa yang lebih sulit menangkap, yang lebih lemah dengan kurang mampu dengan intensitas lebih besar. Cintai siswa yang sulit, yang tidak ingin belajar, yang berada dalam keadaan sulit, yang cacat, yang asing dan sekarang menjadi tantangan dari berbagai sekolah. Mengajar bisa membosankan karena dilakukan terus menerus dari tahun ke tahun dengan siwa yang berbeda. Namun tahukah rahasia seorang guru yang hanya diketahui oleh kami para murid? Yang kami banggakan bukan karena sekali menjelaskan kami langsung paham. 

Tetapi karena kalian terus menerus mengulang kami menjadi ingat. Terbaik itu adalah ketika kalian melakukan sesuatu yang baik tanpa bosan saat kami belum mengerti. Ini semua bisa dilakukan oleh guru, tanpa harus diperintah, dan karena itulah nama mereka selalu hidup dalam sanubariku. Nama baik mereka terukir dan terpahat dalam kalbuku sebagai prasasti. 

Terimakasih Para guruku, Sang Pelita di tengah kegelapan dan embun di tengah kegersangan dan bidan di setiap proses persalinan hidup. 

25 November 

2022Janssen.O,Carm

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.