2 min dibaca
20 Sep
20Sep
Suara Keheningan | RP. Yancen Wulo, O.Carm

Jika pagi menjemputku maka aku ingin melewati hari itu dan apabila malam itu tiba dan pergi, kuingin ada kisah yang tertinggal dalam sebuah kenangan.  Dengan demikian setiap waktu adalah peluang untuk menghadirkan suatu makna hidup yang selalu diingat dan tak mudah untuk dilupakan. 

Sekalipun kisahku adalah sebuah cerita dongeng, ia selalu diingat dan baru terasa begitu berarti saat waktu telah mengantarku jauh dari dunia masa laluku. Dan memang selalu ada makna yang terungkap saat segala yang pernah terjadi itu sudah berlalu.

Ada begitu banyak kisah baik cerita maupun kehadiran orang-orang yang telah memberi arti dalam hidupku. Mungkin kisah itu telah terjadi dan orang-orang yang pernah terlibat dalam kisah itu telah pergi dari kehidupanku namun tidak mengurangi rasa untuk mengingat kembali.

Bagiku “cerita dongeng” adalah sebuah kisah sekaligus pengalaman inspiratif. Katakan saja ada begitu banyak kisah dongeng yang terekam di benakku yang pernah kudengar dari orang-orang sederhana di sekitarku. Budaya cerita dongeng adalah sebuah kebiasaan dalam keluargaku sejak kami menikmati masa kecil di kampung pedalaman. Dan hanya itu kisah yang selalu ditunggu.

Jauh dari kota bukan suatu masalah, begitu juga kurangnya fasilitas hiburan. Jika siang tiba, sepulang dari sekolah kami berkumpul bersama orang-orang kampung dan membuat permainan dari bahan-bahan seadanya dan sangat sederhana. Dari kayu bisa dijadikan mobil-mobilan.

Dari bahan bekas seperti kertas-kertas kotor dibentuk menjadi sebuah bulatan kemudian dipakai sebagai bola dalam permainan di lapangan yang melibatkan banyak orang. Jika kami haus, cepat-cepat kami berlari menuju sungai dan minum dari aliran air bersih yang mengalir dari gunung. Siapa sangka semuanya terekam dengan baik di benakku dan selalu indah dikenang.

Intinya kami hanya menikmati apa yang ada dalam segala keterbatasan namun tidak membuat kami terbatas berpikir untuk bisa melakukan sesuatu yang baru.

Namun ada hal istimewa terjadi saat matahari mulai terbenam. Kami memasang pelita-pelita lalu letakkan pada bagian dalam rumah untuk menerangi segala aktivitas seperti memasak, belajar, makan malam dan lain sebagainya. Kehidupan kami yang begitu  sederhana namun kini selalu ada rindu untuk kembali mengalaminya. 

Orang tuaku selalu memiliki kebiasaan sebagai “orang kampung” yang tak pernah terlewatkan. Setiap malam sebelum tidur, kami dikumpulkan bersama. Kami mengelilingi “tungku api”sambil menggoreng jagung sebagai “snack” ala orang kampung. Apa yang terjadi? Kami makan jagung goreng bersama-sama dan menunggu cerita dongeng dari ayah dan ibu. Satu persatu ceritera itu mulai dikisahkan. 

Ada cerita tentang buaya, padahal kami tidak mengenal buaya seperti apa. Demikian juga cerita tentang kelinci dan lain sebagainya. Ada kisah dongeng tentang kejahatan dan kebaikan. Kami merasa seperti ayah dan ibu terlibat langsung dalam kisah yang sedang mereka dongengkan. Ekspresi wajah, intonasi dan gaya penceritaan seolah mencekam dan kami pun ikut masuk dalam suasana seperti dalam kisah itu.

Beberapa kali kami lari karena ketakutan. Kami bersembunyi dibalik tubuh ayah dan ibu yang sedang berkisah sambil mendengar kisah itu dari balik sarung atau kain yang dipakai mereka. Adik-adikku berteriak menangis dan ketakutan saat ada kisah yang mencekam. Kami saling berpelukkan sampai kisah dongeng mencekam itu berlalu. 

Jika ada kisah yang sangat menyedihkan, kami terkadang meneteskan air mata dan menangis bersama karena kami masih tetap dalam satu rasa. Kami memeluk ayah dan ibu sambil berebutan mencium mereka karena kami tak ingin kisah itu terjadi pada mereka. Namun bila ada kisah  yang indah dan lucu, kami saling memandang dan tertawa. Kami berteriak seolah kami berada di lapangan dan sedang menyaksikan pertandingan antar kampung tanpa peduli siapa  yang ada di sekitar kami.

Cerita dongeng memiliki makna terindah dalam hidupku. Orang tuaku hebat bisa menciptakan dongeng sendiri tanpa sebelumnya membaca atau mendengar dari siapapun. Entah apapun caranya, mereka ingin agar kisah dongeng adalah cara tepat untuk menyalurkan ilmu atau pesan di balik kisah itu bagi kami anak-anak. Dengan bahasa yang sederhana mereka menyampaikan pesan bermakna yang baru terasa ada gunanya saat kami jauh dari kehidupan mereka.

Mereka orang kampung tapi cara berpikir dan mencari ilmu melebihi banyak orang hebat yang kukenal. Dan itu membuatku tak pernah melupakan jasa mereka. Mungkin saya menemukan banyak orang pintar dalam hidupku namun kebijaksanaan hidupku sesungguhnya lahir dari pengalaman sederhana orang tuaku yang berasal dari kampung.

Sungguh terasa daya berpikir kami dilatih dan cara kami menemukan makna kisah dongeng berbeda dengan orang-orang kota zaman ini. Kami dipaksa berpikir keras untuk menemukan sesuatu yang baru dan jauh lebih baik dari kisah hidup orang tua kami. Karena memang mereka selalu berpesan  agar hidup anak-anak mesti jauh lebih baik dari kisah hidup mereka sebelumnya.

Kisah tentang “cerita dongeng” tidak membuatku malu atau minder menghadapi kenyataan yang memacu untuk berpikir cepat dan praktis. Terkadang selalu ada kerinduan untuk mengulangi kisah dongeng masa lalu tanpa menyepelekan “kisah nyata” hidupku saat ini. Hidupku jauh lebih kreatif saat kisah demi kisah kulalui karena mereka “orang kampung” telah membuatku berarti.

Sang pencerita dongeng telah pergi namun kisah mereka adalah kisah kehidupanku. Kalian bercerita tentang sesuatu yang terjadi padaku saat ini, padahal kalian tak melihat apa yang kualami saat ini. Kalian telah memberi solusi untuk pergulatan masa depanku yang terbentang jauh dan luas.

Kisah dongeng kalian telah menginspirasiku untuk terus menginspirasi mereka yang ada di sekitarku. Aku ingin menjadi ahli waris kisah hidup bagi orang-orang yang mati sebelum waktunya agar sampai kapanpun hidupku tetap di kenang sampai keabadian.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.