1 min dibaca
15 Mar
15Mar
Suara Keheningan | RP. Yancen Wullo, O.Carm

Banyak dari kita berpendapat bahwa cinta sejati sesungguhnya hanya didapatkan melalui sebuah perjuangan. Cinta tanpa perjuangan adalah sebuah kemustahilan. Benarkah demikian?Pendapat ini bertolak belakang dengan anggapan sebagian orang bahwa jika cinta sejati itu adalah sebuah pemberian maka tidak perlu mencarinya. Ia akan datang sendirinya mencariku dan kami akan bertemu pada waktunya, entah kapanpun itu.

Bagi yang masih lajang, ia bertanya di mana cinta sejatiku? Masih adakah Tuhan menyediakan bagiku? Ke mana aku harus mencari dan menemukanya? namun tidaklah demikian bagi yang telah menemukannya. Sesewaktu mereka bertanya dalam hati, benarkah ini cinta sejatiku? Jika benar mengapa harus kualami begitu banyak hal yang meragukan?

Pada suatu hari Socrates didatangi muridnya, bernama Plato dan bertanya apa makna sebuah cinta sejati. Socrates seorang filsuf tak menjawab secara langsung, namun ia ingin muridnya menemukan jawaban ketika ia melakukan apa yang diperintahkan gurunya.

Saya meng-analogi-kan kisah ini dengan cara yang amat sederhana. Pergilah ke perkebunan bunga mawar itu. Engkau akan menemukan keindahan di sana, sejak kaki pertama memasuki taman itu. Ada begitu banyak rupa, bentuk, warna, dan keharuman. Anda akan begitu nyaman di tempat itu namun aku ingin engkau menemukan sesuatu yang kebenarannya tak boleh disangkal di kemudian hari.

Masuklah ke taman itu dan berjalanlah serta petiklah salah satu bunga yang bagimu paling indah dan menarik. Syaratnya, jika engkau sudah menemukan, petiklah dan berjalanlah terus ke depan tanpa harus melihat kebelakang. Janganlah engkau membuang bunga itu dan menggantinya dengan lainnya yang jauh lebih indah yang ada di depanmu. Sekali memilih tetaplah pada pilihanmu.

Namun murid Aristoteles jatuh pada pilihan yang berubah-ubah. Bunga pertama dipetiknya, beberapa langkah ke depan ada yang lebih indah, ia membuang bunga pertama. Begitupun sampai pada ujung taman itu, semua yang dipetik dibuang hingga pada akhirnya dia dengan tangan kosong kembali kepada Gurunya, tanpa membawa apapun.

Kenapa kembali dengan tangan hampa? Bukankah engkau telah menemukan dan memetik yang paling indah?  Murid Aristoteles menjawab, saya berpikir ada kuntum mawar yang jauh lebih indah dari sekian banyak kuntum yang telah kupetik dan yang telah kubuang. Ternyata sampai akhir tidak kutemukan lagi. Saya kembali dengan tidak membawa apapun juga.

Bagiku ini sebuah pelajaran hidup yang sulit bagi kebanyakan orang. Kenapa tidak? Kita selalu merasa tidak puas untuk sebuah pilihan hidup apapun. Kita terjebak pada kegelisahan yang tak berkesudahan. Manusia jatuh pada pertimbangan yang sifatnya sementara. Kecantikan dan ketampanan pada waktunya akan luntur dan hilang termakan usia. Demikian jabatan dan pangkat pada waktunya akan berakhir tergantung siapa pemimpinmu dan kualitas kerja yang semakin diukur oleh materi dan uang.

Mencari cinta sejati seharusnya berujung pada menemukan yang paling baik dan yang paling sempurna. Ternyata pada manusia tidak ada yang paling baik dan sempurna kecuali pada DIA Sang pencipta. Kita akan selalu sampai pada rasa tidak puas dan tidak berani mengatakan “cukup” karena selalu membandingkan satu dengan lainnya.

Aristoteles memberi jawaban kepada Plato. “Seperti itulah cinta sejati. Semakin engkau mencari cinta yang lain maka semakin sulit pula kamu menemukan cinta sejatimu”Kita boleh mencari cinta sejati, bahkan menunggu kapan ia datang namun semuanya itu bersifat sementara. Pada waktunya kita akan bosan bahkan merasa itu bukan pilihanku. Lalu kita menyesal dan meninggalkan pilihan itu lalu mencari yang jauh lebih indah, menarik dan menyakinkan. Dengan cara itu apakah kita bahagia? 

Jika saya diberi kesempatan, mungkin bunga pertama itu yang ku jaga dan kubawa kepada Aristoteles sekalipun ada yang jauh lebih indah dan menarik di depan mataku. Namun itu lebih dari cukup saat yang memilih bukan diriku tapi DIA yang ada dalam diriku yang tidak ku lihat namun terasa ada. Itulah misteri cinta sejati ada dalam diriku.

Semua pilihan akan tepat saat hatimu telah terpikat pada Dia yang telah lebih dahulu mengasihi sejak dalam kandung ibumu. Itulah sesungguhnya cinta sejatimu.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.