VERTIKAL-HORIZONTAL


1 min dibaca
09 Aug
09Aug

Suara Keheningan l RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Menggambar, menurut guru saya waktu di SMA, pada dasarnya adalah menarik garis (to draw). Di sana ada dua macam garis, vertikal dan horizontal. Kombinasi antara keduanya menghasilkan lukisan yang indah.

Hidup juga seperti menggambar. Di sana orang membangun relasi vertikal dengan Tuhan dan hubungan horizontal dengan sesama. Hukum utama kehidupan berbunyi kasihilah Tuhan Allahmu dan sesamamu manusia. Tidak ada yang lebih tinggi daripada itu.

Musa menegaskan hal serupa kepada bangsa Israel. "Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu" (Ul 10: 12-13).
Dia juga menegaskan perlunya bangsa itu peduli kepada sesamanya, terutama orang-orang asing. "Sebab itu haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir" (Ul 10: 19). Kasih itu universal; anti-diskriminasi; inklusif-merangkul.

Sebagai makhluk religius dan sosial, manusia dipanggil untuk mewujudkan dua tugas utama itu. Di satu sisi menyembah kepada Tuhan dan di sisi lain memperhatikan keselamatan bersama. Ibadah kepada Allah seiring dengan amanah kepada sesama. Keduanya seimbang.

Memperhatikan yang satu dengan mengabaikan yang lain membuat hidup manusia pincang. Situasi pandemi menguji relasi yang seimbang itu. Beribadah kepada dengan tetap peduli kepada keselamatan diri dan sesama.

Bagaimana selama ini aku menggambar kehidupanku? Apakah aku menyembah Allah sambil tetap menolong sesama yang sedang susah? Apakah hidupku seimbang antara yang vertikal dan horizontal?
Senin, 9 Agustus 2021RP Albertus Herwanta, O. Carm.

11May
Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.