TRADISI VISITASI


1 min dibaca
31 May
31May

Suara Keheningan | RP. ALbertus Herwanta, O.Carm

Berkunjung atau visitasi di banyak kalangan telah menjadi tradisi. Pada hari raya lebaran, misalnya, orang Indonesia menunjukkan keakraban dengan mengunjungi sanak saudara, keluarga dan tetangga. Mereka bersalaman dan saling memaafkan. Suatu tradisi dan budaya yang layak dilestarikan.

Santa Perawan Maria, setelah mendapat kunjungan dari malaikat Gabriel juga pergi ke rumah Elizabet, sanaknya. Membagikan sukacita keselamatan yang baru saja diterimanya. Itu membuat Elisabet dan bayi dalam kandungannya melonjak kegirangan (Luk 1: 41). Berbagi sukacita selalu berbuah sukacita pula.

Kunjungan ini mempunyai makna mendalam. Pertama, itu pertemuan antara dua wanita yang dipilih Tuhan untuk menjadi jalan bagi realisasi janji keselamatan. Kedua, dua wanita yang mengalami peristiwa luar biasa itu beriman dan sangat rendah hati. Makin beriman, orang makin rendah hati. Baik Elisabet maupun Maria memuji Tuhan yang telah memerhatikan hamba-hamba-Nya yang kecil dan sederhana (Luk 1:43.48). Ketiga, pertemuan itu menggarisbawahi bahwa janji Tuhan selalu ditepati. Kaum beriman seperti Maria dan Elisabet dapat menangkap dan mengalaminya.

Di atas itu semua, Maria menampakkan kepekaannya kepada Elisabet yang hampir melahirkan anaknya. Dia memerlukan bantuan. Maria datang untuk membantunya. Rupanya Maria kembali ke rumahnya setelah Elisabet melahirkan (Luk 1: 56). Sungguh suatu visitasi yang bernilai positif dan mulia sekali.

Apa yang dapat direfleksi dari peristiwa ini? Pertama, kini visitasi bisa dilakukan secara mudah sekali. Orang tidak perlu berjalan jauh untuk berkunjung dan menyapa sesamanya. Cukup dengan jarinya orang bisa secara virtual berjumpa dengan keluarga atau sahabatnya. Kedua, visitasi virtual seyogyanya digunakan untuk berbagi sukacita dan membawa keselamatan. Ketiga, makin maju teknologinya, semestinya makin beriman pula manusianya. Bukan malah melupakan Tuhannya.

Bagaimana faktanya? Sebagian orang menggunakan visitasi virtual untuk menyebarkan gosip dan berita bohong. Ruang-ruang pribadi dimasuki informasi yang membuat orang saling membenci. Orang merasa diri penting setelah berhasil membuat berita negatif dan bohongnya itu viral. Makin banyak yang disesatkannya, makin bangga dan puaslah mereka. Sudah waktunya tradisi visitasi dibebaskan dari penyalahgunaan itu dan dikembalikan untuk tujuan mulia; untuk berbagi sukacita dan menolong sesama.

Senin, 31 Mei 2021 | Pesta Santa Maria mengunjungi Elisabet | RP Albertus Herwanta, O. Carm.

11May
Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.