1 min dibaca
25 Jul
25Jul

Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Nabi Elisa diutus Allah untuk menegaskan bahwa dalam Allah ada kehidupan dan orang tidak berkekurangan. Bagi Allah yang sedikit di mata manusia bisa menjawab kebutuhan orang yang banyak jumlahnya.
Suatu hari seorang pelayan membawa dua puluh roti jelai dan gandum baru kepada sang nabi. Lalu dia memerintahkan supaya roti itu diberikan kepada seratus orang. Pelayan itu berkata, "Bagaimanakah aku dapat menghidangkan ini di depan seratus orang?" (2 Raj 4: 43). Karena menaati sang nabi, semua orang dikenyangkan dan masih ada sisa (2 Raj 4: 44). Demikianlah Allah memuaskan manusia.

Yang sama terjadi saat Sang Guru Kehidupan menghadapi ribuan orang yang mengikuti-Nya. Dia ingin memberi mereka makan. Tetapi Filipus berkata, "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja" (Yoh 6: 7). Namun karena taat kepada Sang Guru, lima roti jelai dan dua ekor ikan yang tersedia dapat memuaskan mereka yang jumlahnya lebih dari lima ribu orang; bahkan masih ada sisanya (Yoh 6: 12).

Dua mukjizat itu memberikan pesan penting. Pertama, dalam kekurangannya manusia diajak percaya kepada Tuhan yang selalu membuka tangan-Nya untuk menolong. Mereka yang sungguh percaya (terbuka) mengalami pertolongan-Nya.

Kedua, bantuan Allah berlimpah-limpah. Baik yang dilakukan Elisa kepada seratus orang dan Sang Guru Kehidupan kepada ribuan orang meninggalkan sisa. Pemberian Allah melampaui yang diharapkan manusia. Allah tidak pelit.

Ketiga, walau memberikan secara berlimpah, Allah tidak membiarkan satu pun pemberian itu terbuang sia-sia. Maka Dia meminta supaya orang mengumpulkan sisa-sisa pemberian-Nya. "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang" (Yoh 6: 12).

Mukjizat itu bisa terjadi di antara orang yang percaya dan terbuka. Dalam kerja sama dengan Allah selalu ada solusi. Sebaliknya, dalam kesempitan kepentingan diri yang berlimpah-limpah malah membuat susah.
Lihatlah situasi saat ini. Tatkala orang menunjukkan kasih dan saling membantu (Ef 4: 2), tidak pernah ada jalan buntu. Pedagang makanan bisa diberdayakan bagi mereka yang sedang isoman. Para pengusaha membangun tenda dan menyediakan oksigen. Tetapi di tengah kesusahan itu, ada pula mafia yang mencari keuntungan politik dan ekonomi. Mayat masih diperalat!

Kelompok kedua ini membuat yang berlimpah penyebab rasa susah. Sedang kelompok pertama menjadikan yang terbatas sebagai berkah. Itu hanya mungkin tatkala orang belajar dari Allah yang tangan-Nya senantiasa terbuka.

Minggu, 25 Juli 2021 | RP Albertus Herwanta, O. Carm.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.