1 min dibaca
19 Mar
19Mar
Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Dalam dunia yang mengagung-agungkan suara, tulisan dan perilaku yang serba viral, merenungkan keutamaan bagaikan menebarkan sejumput emas duapuluh empat karat di tengah lautan loyang.  

Keutamaan diperoleh dalam waktu yang lama. Pertama, menuntut pemahaman mendalam akan suatu kebenaran dan kebaikan. Kedua, memerlukan waktu untuk berulang-ulang mempraktikkannya sehingga menjadikannya bagian hidup dari sang pelaku. Akhirnya, komitmen kuat berpegang pada kehendak Tuhan.

Yang baik dan benar serta lama diperoleh itu "counter culture" (budaya tandingan) terhadap budaya instan yang menjiwai mental mau serba viral. Di sini penghargaan yang didapat berasal dari manusia.

Tokoh historis dan keselamatan seperti Bapa Yusup adalah sosok paling nyata dari budaya di atas. Manusia kaya dengan keutamaan. Dia mendapat penghargaan dari Tuhan.

Dia pendiam. Dalam Kitab Suci tidak mengatakan sepatah katapun. Tidak pula menulis satu patah kata. Apakah berarti tidak terekam dalam sejarah umat manusia?

Tidak demikian. Dia mampu dan mau mendengarkan dengan seksama dan rendah hati kehendak Allah, yakni sang kebenaran. Di samping itu, dia melaksanakan dengan sikap patuh yang tulus. Itulah keutamaan.

Tidak satupun dari yang Tuhan percayakan kepadanya tidak terlaksana dengan baik, meski semua penuh risiko. Mengambil Maria, tunangannya yang mengandung sebelum tinggal bersamanya. Mendampingi proses kelahiran dan pertumbuhan Sang Almasih dalam ancaman bahaya dari Herodes.

Semua dilaksanakan secara setia dan sikap gagah berani. Memang sikap setia dan berani mewujudkan yang baik dan benar itu tidak membutuhkan berita viral. Bukankah berita viral seringkali hanya buih yang tipis dan amat "ringkih"? Gembos; tanpa isi.

Yang kini sedang amat diperlukan adalah manusia yang mendalam pemahamannya, teguh berpegang pada yang baik dan benar serta taat kepada Tuhan. Itu ditemukan dalam diri Bapa Yusup. Maka, dia adalah teladan utama keutamaan.

Sabtu, 19 Maret 2022Pesta Santo Yusup, suami Maria RP Albertus Magnus Herwanta, O. Carm.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.