SAKSI KEBENARAN


1 min dibaca
22 May
22May

Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Media sosial dan alat komunikasi modern membawa manfaat positif dan negatif. Berkat alat itu orang bisa bersatu dalam solidaritas rasa menghadapi bencana yang melanda dunia. Namun berkat alat yang sama kejahatan manusia berlipat ganda.

Gosip yang dahulu tersebar perlahan dari mulut ke telinga tetangga, kini secara cepat menyebar ke seluruh jagat. Dampak buruk dan destruktifnya dahsyat. Ketika dibumbui dengan motivasi dan provokasi agama kehancurannya amat mengejutkan dunia.

Betapa pentingnya menyebarkan berita yang benar; apalagi menyangkut iman dan agama. Untuk itu orang dituntut untuk selalu mencari secara bijaksana sumber yang benar dari ajaran dan kabar yang tersebar. Makin maju media sosial dan teknologi komunikasi, makin diperlukan pikiran jernih dan hati yang dituntun nurani sejati.

Salah satu cara untuk menemukan kebenaran adalah mendengarkan para saksi mata alias sumber utama. Memercayai kabar yang sudah menjadi opini yang dipenuhi interpretasi menjauhkan orang dari kebenaran sejati.

Mengenai Sang Guru Kehidupan dan ajaran-Nya ada sumber yang terpercaya, yakni mereka yang pernah tinggal dan hidup bersama-Nya, yakni para murid dan rasul-Nya. Salah satunya adalah Yohanes yang kemudian membagikan imannya kepada banyak orang lewat injil.

Dalam injilnya tertulis, "Dialah murid yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar" (Yoh 21: 24). Injil yang merupakan bagian dari Kitab Suci memuat ajaran dan kesaksian iman. Ditulis oleh manusia dengan tuntunan dan inspirasi Roh Kudus, sumber kebenaran.

Karena itu, Kitab Suci menjadi sumber dan referensi dalam teologi yang menjelaskan dan mempertanggunjawabkan iman. Karena teologi itu menuntun dan membentuk sikap konkret penghayatan iman, betapa pentingnya orang memahami Kitab Suci dalam berteologi.

Bisa dibayangkan akibat praktisnya tatkala isi dari Kitab Suci itu palsu alias tidak benar. Bukankah teologinya juga salah? Teologi yang salah membentuk mentalitas dan perilaku religius (iman) yang membahayakan; bahkan menghancurkan. Betapa pentingnya hidup beriman dan beragama yang bersumber pada kebenaran. 

Jika tidak, agama dan semua ajarannya tidak ubahnya sumber gosip berbahaya bagi manusia yang berkat media sosial dan teknologi komunikasi dalam waktu cepat potensial menghancurkan kehidupan bersama di muka bumi.

Sabtu, 22 Mei 2021RP Albertus Herwanta, O. Carm.

11May
14May
Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.