SABAR MENGAMPUNI


1 min dibaca
12 Aug
12Aug

Suara Keheningan I RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Sebagai makhluk yang kodratnya kasih, hidup manusia tumbuh berkembang tatkala saling mengasihi. Hidup demikian diwarnai konsekuensi. Salah satunya adalah melukai atau dilukai. Semakin erat relasi kasihnya, makin sensitif dan mudah terluka.

Mengampuni menjadi jalan menyembuhkan luka itu, karena kasih dan pengampunan itu bak saudara kembar; dua sisi dari satu mata uang yang sama. 

Sulit membayangkan yang satu tanpa yang lain. Sikap mengampuni itu bukan hanya konsekuensi, tetapi bagian terpenting dari kasih. Sebagaimana kasih itu membebaskan, demikian pula pengampunan. Berhubung kasih itu nirbatas ("unlimited) dan tanpa syarat ("unconditional"), demikian pun pengampunan sejati.

Alinea di atas ini ditegaskan dalam ajaran Sang Guru Kehidupan. Saat Petrus bertanya tentang berapa kali dia harus mengampuni dan menawarkan angka tujuh kali, Sang Guru menjawab, "Bukan sampai tujuh kali, tetapi sampai tujuh puluh kali tujuh kali" (Mat 18: 22). Singkatnya, terus-menerus; "infinite."

Kemudian Sang Guru memperjelas jawaban itu dengan perumpamaan tentang orang yang berhutang demikian banyak kepada seorang raja sehingga tidak sanggup melunasinya. Karena belas kasihan sang raja membebaskan dia dari hutangnya. Tetapi orang itu tidak mau mengampuni temannya yang berhutang sedikit saja kepadanya.

Akhir kisah, sang raja memarahi orang yang berhutang kepadanya itu; menjebloskannya ke dalam penjara sampai hutangnya dilunasi. Kapan mampu melunasinya? Waktu bebas saja dia tidak sanggup membayar, apalagi ketika di dalam penjara. Amat sulit membayangkannya.

Begitulah gambaran orang yang tidak mau mengampuni. Dia memenjarakan dirinya sendiri dalam sikap tidak mengasihi dan menolak mengampuni. Kehilangan kebebasan.

Ada kalanya mengampuni itu sangat berat. Terasa nyaris mustahil. Namun bagi orang yang mengandalkan Allah yang kasih dan pengampunannya tak terbatas hal itu selalu mungkin. Memang tidak semudah menuliskannya. Tetapi tetap perlu dicoba lagi. Butuh kesabaran. Maka, judulnya sabar mengampuni. Tentu, bukan hanya sabar yang harus mengampuni. Joko, Bambang, Betty, Lusi dan semua yang lain juga mesti mengampuni.

Kamis, 12 Juli 2021RP Albertus Herwanta, O.Carm.

11May
Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.