RELASI TERSEMBUNYI


1 min dibaca
12 Jun
12Jun

Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Relasi antara pribadi terjalin dalam dua tingkat yang berbeda. Pertama, tataran kasat mata lewat pelbagai macam ekspresi, simbol atau tanda. Sifatnya lahiriah dan kadang dangkal atau sementara. Bunga mawar, pemberian sang kekasih, akan layu. Kedua, pada level melampaui yang kasat mata dan serba tak terduga. Bersifat mendalam dan tersimpan dalam hati. Tersembunyi.

Demikian juga relasi antar manusia dengan Tuhannya. Ibadah, misalnya, menyangkut yang lahiriah; bisa dilihat dengan mudah. Bagaimana relasi pribadi pelaku dengan Allah yang tersimpan dalam hati, tiada yang tahu.
Hati menjadi tempat tersimpannya rahasia yang tidak terpahami. Demikian pun hati Bunda Maria. Saat menerima kabar dari malaikat Gabriel, dia menyetujui rencana Tuhan yang melampaui pemahamannya. "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; Jadilah padaku menurut perkataanmu" (Luk 1: 38). Demikian pun tatkala menemukan puteranya yang tertinggal di Bait Allah. Dalam hati ia menerima jawaban puteranya, "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di rumah Bapa-Ku?" (Luk 2: 49).

Jawaban itu sulit dipahami sehingga dia menyimpannya di dalam hati. "Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nasaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara di dalam hatinya" (Luk 2: 51). Tidak memahami bukan alasan untuk selalu memprotes, tetapi untuk merenung dan menanti hingga seluruh rencana ilahi terjadi.

Dalam hati dia menjalin relasi tersembunyi dengan sang ilahi. Seluruh komitmen hidupnya mengalir dari hati yang terisi sepenuhnya dengan kehendak ilahi. Karena itu, layak disebut hati tersuci; "immaculata" atau tanpa noda. Dalam hati demikian, manusia dengan Allah didamaikan. Itulah jalan untuk dapat mencapai keselamatan.
Kepada tiga anak Portugal (Fransisko, Yasinta dan Lusia) pada 13 Juni 1917 Sang Bunda berpesan agar orang menaruh hormat kepada hatinya yang amat suci itu. Bukan terutama dengan devosi, tetapi dengan bersamanya mempersembahkan hati suci. Bagi diri sendiri dan sesama. Semakin bertambah yang melakukan, semakin banyak jiwa yang diselamatkan.

Ternyata, dalam hidup ini tidak cukup hanya membangun relasi lahiriah dengan Allah. Yang sungguh lebih diperlukan adalah relasi sejati dengan sang ilahi dalam hati yang suci. Itulah iman; relasi yang tersembunyi.

Sabtu, 12 Juni 2021PW Hati Tanpa Noda dari Bunda MariaRP Albertus Herwanta, O. Carm.

11May
Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.