PUNCAK KEHIDUPAN


1 min dibaca
03 Jun
03Jun

Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Ketika mendaki bukit orang bisa membawa banyak bekal seperti makanan-minuman dan barang-barang lainnya. Berbeda dengan mendaki gunung yang tinggi. Bekal dan barang yang dibawa hanyalah yang terpenting, yakni yang dapat membantunya mencapai puncak bukit. Prinsipnya, keduanya tetap memerlukan bekal. Hanya kualitas dan kuantitasnya berbeda.

Energi jasmani dan rohani yang dibutuhkan pun berbeda. Untuk mendaki bukit diperlukan lebih sedikit energi dibandingkan dengan kebutuhan mendaki gunung yang tinggi. Semakin tinggi puncaknya, semakin besar energi yang diperlukan dan sedikit beban yang mesti dibawa.

Untuk mencapai tujuan hidup yang tinggi dan mulia diperlukan prinsip dan cara yang sama. Orang membutuhkan energi rohani yang besar dan membebaskan diri dari yang tidak perlu. Energi rohani terkuat dan tertinggi yakni kasih. Isinya, kasih kepada Tuhan dan sesama.

Sang Guru Kehidupan mengajarkan, "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini" (Mrk 12: 29-31).

Semakin tinggi tingkat kesempurnaan hidup yang hendak dicapainya, semakin orang dituntut mewujudkan hukum itu. Orang diminta untuk melepaskan diri dari semua bekal dan beban yang tidak perlu. Beban terbesarnya adalah diri dan segala kepentingannya.

Mereka yang ingin mencapai puncak tertinggi mesti melepaskan diri sehingga dapat mengasihi Sang ilahi. Prosesnya secara fisik bisa amat menyakitkan; bahkan mesti ditempuh lewat kematian. Di sana orang melepaskan diri seutuhnya.

Para martir yang mati demi iman dan kasihnya kepada Tuhan menjadi contoh nyata. Dengan energi kasih yang amat besar mereka membebaskan diri dari segala beban dan kepentingan diri yang tidak perlu untuk mencapai puncak kehidupan tertinggi.

Setiap kali memperingati orang-orang yang rela mati secara benar demi iman dan kasih sejati, orang diingatkan akan tujuan hidup sejati dan cara mencapainya. Mereka yang menempuhnya dengan bebas, ikhlas dan penuh sukacita sedang menuju ke tujuan yang sama, yakni puncak kehidupan yang telah disediakan oleh Tuhan.

Kamis, 3 Juni 2021 | PW St. Karolus Lwanga, dkk, Martir Afrika | RP Albertus Herwanta, O. Carm.

11May
14May
Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.