1 min dibaca
30 Jun
30Jun
Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Di samping disebut "homo faber" (bekerja) dan "homo ludens" (bermain), manusia bisa dijuluki "homo conversus" (bercakap-cakap). Manusia tidak bisa lepas dari bercakap-cakap.

Baca juga: Karmel Flores Indonesia Timur - Suara Keheningan 

Sejak zaman primitif hingga pada abad digital ini, manusia masih bercakap-cakap. Memang, cara dan sarananya berbeda. Dahulu dari muka ke muka, kini lewat sarana digital.

Percakapan itu lebih dari sekadar tukar kata dan pemikiran. Di sana, terdapat makna budaya. Ada tata krama bercakap-cakap. Percakapan itu seni yang perlu dipelajari.
Hampir semua bahasa yang merupakan salah satu instrumen percakapan mengajarkan tata bahasa, intonasi, dan ekspresi yang perlu dipahami. Di sinilah, orang yang sedang belajar bahasa kerap menemui kendala.

Di tingkat internasional dan pergaulan antar bangsa, percakapan memegang peranan penting. Percakapan itu bisa tampak dalam diplomasi yang sangat menentukan relasi bilateral atau multilateral.

Politik dalam alam demokrasi juga tidak bisa dilepaskan dari percakapan. Para calon anggota legislatif berebut suara dan kursi untuk bisa menjalankan perannya, yakni bercakap-cakap.

Parlemen berasal dari kata "parlaré" (bhs Italia) yang berarti berbicara. Tugas anggota parlemen adalah berbicara seperti membahas undang-undang, mengajukan pertanyaan kepada pemerintah, dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

Mulai dari keluarga hingga pergaulan di tingkat dunia, orang memerlukan percakapan. Sayangnya, kini banyak keluarga yang para anggotanya tak lagi bercakap-cakap. Mereka asyik dengan gawainya sendiri. Waktu duduk bersama di rumah malah ada yang sering tertawa sendiri.

Salam dan Tuhan berkati.
CPTK, Jumat 30 Juni, 2023AlherwantaRenalam 180/23

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.