1 min dibaca
18 Feb
18Feb
Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Lapar itu pengalaman kodrati setiap orang. Tuhan menanamkan rasa lapar dalam diri manusia agar manusia makan dan karenanya memelihara tubuhnya.

Rasa lapar itu mesti dipuaskan. Jika tidak, akan muncul rasa kecewa; bahkan rasa takut. Bayi menangis sekeras-kerasnya bila ibunya terlambat menyusuinya. Jika itu berulangkali terjadi, sang bayi bisa mengalami trauma.

Menginjak dewasa dan menjadi tua, manusia memiliki rasa lapar yang makin kompleks. Dia ingin dipuaskan bukan hanya dengan makanan jasmaniah.

Pengalaman menunjukkan bahwa orang yang bisa menikmati makanan-minuman lezat dan mewah dari restoran mahal yang satu ke yang lain pun tetap menyimpan rasa lapar mendalam.

Itulah rasa lapar eksistensial yang hanya bisa dipuaskan dengan makanan-minuman rohani. Orang boleh menyebutnya dengan macam-macam sebutan. Namun, sumber dan intinya sama, yakni Tuhan sendiri.

Barangkali Tuhan itu amat "egois." Dia menciptakan manusia dengan kerinduan mendalam kepada-Nya. Sebelum manusia menemukan Dia atau dipuaskan oleh Tuhan, dia akan selalu gelisah.

Di tengah hidupnya sehari-hari, manusia berusaha memuaskan rasa lapar itu dengan mencari apa saja. Sebagian memilih hal yang keliru dan menjadi kecewa. Sebagian yang lain memilih hal yang tepat dan terpuaskan.

Namun kepuasannya terbatas, karena manusia masih hidup dalam ruang dan waktu yang terbatas. Termasuk kelompok mana pun seseorang, tugas utamanya adalah mencari Tuhan dalam segala hal, pada setiap waktu, dalam diri setiap orang, dan dengan cara apa pun.

Hidup manusia itu sering menampakkan rasa lapar yang nyaris tidak terpuaskan.

Salam dan Tuhan berkati.
FCCH, Sabtu 18 Februari 2023AlherwantaRenalam 050/23

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.