KERAJAAN ALLAH


1 min dibaca
13 Jun
13Jun

Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Hidup manusia punya dua dimensi, fana-sementara dan kekal selamanya. Dimensi pertama tampak dalam segala yang lewat dalam waktu singkat. Seperti bunga yang indah di waktu pagi, layu pada waktu petang. Kita lihat, berapa lama BTS Meal bakal terus laris manis luar biasa.

Karena yang fana itu juga dimensi hidup, dinikmati saja. Namun nilai hidup yang lengkap, sejati dan memuaskan jiwa terdalam melampaui yang sementara. Tentang hal ini hanya sebagian kecil yang dapat manusia pahami. Kekuatan dan "design" besarnya di luar genggaman manusia.

Sang Guru Kehidupan mengumpamakannya sebagai Kerajaan Allah. "Hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba" (Mrk 4: 26-29). Bagaimana terjadinya tidak orang ketahui, itulah kata kuncinya.

Kerajaan Allah itu beroperasi, entah manusia berpartisipasi entah menolak ambil bagian di dalamnya. Gambarannya, saat manusia itu tidur dan bangun tanpa disadarinya benih itu tumbuh, menghasilkan lalu dipanen pada musimnya. Demikianlah hidup setiap orang akan berakhir pada musim panen itu.

Ada yang menghasilkan panenan yang baik sesuai kehendak Sang pemberi hidup, ada yang panenannya tidak berisi atau "gabug" bahasa Jawanya. Hanya mereka yang bergabung dalam Kerajaan Allah itu yang buahnya berisi di musim panen.

Bagaikan benih yang ditaburkan di tanah, dalam diri setiap orang telah ditanam potensi dan kehendak untuk bergabung dalam Kerajaan Allah itu. Di sana ada daya kasih kreatif, sukacita, harapan dan keselamatan yang amat diperlukan untuk menghadapi masa depan.

Betapa pentingnya mengenali potensi itu dan mengembangkannya sesuai dengan panggilan setiap pribadi. Bukankah setiap orang mendapat panggilan khusus dari Tuhan yang mesti direalisasi dalam hidup ini? Yang hanya sibuk dengan yang sementara, nilainya akan cepat lewat. Sementara mereka yang menggunakan potensi sesuai dengan kehendak Allah akan memetik panen berlimpah. Benar, hidup mereka menjadi bagian dari terwujudnya Kerajaan Allah yang bertahan selamanya.

Minggu, 13 Juni 2021 | Minggu Biasa XI Tahun B | RP Albertus Herwanta, O. Carm.

11May
Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.