KEBASKAN DEBU KAKI


1 min dibaca
22 Sep
22Sep

Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Sudah bertahun-tahun dia menjadi pastor paroki di situ. Seperti biasa, di tahun-tahun pertama dulu dia hanya mengamati kondisi paroki untuk mendapat gambaran tentang  kebutuhannya.

Berdasarkan data yang terkumpul dia dapat menetapkan jenis pelayanan yang mesti diutamakan. Pelayanannya harus imbang antara yang rohani dan jasmani.

Hidup rohani seperti doa, ibadah dan rangkaian devosi perlu dilengkapi dengan tindakan konkret. Misalnya, membangun keadilan sosial dan ekonomi.

Beberapa tahun terakhir dia menginisiasi koperasi untuk meningkatkan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat, terutama para nelayan. Itulah upayanya menyembuhkan penyakit ketidakadilan yang diderita para nelayan di parokinya.

Namun, usahanya dilawan dan dihalangi oleh para tengkulak ikan. Koperasi itu dianggap mengganggu kepentingan ekonomi mereka. Maka, mereka berusaha mendongkelnya dengan cara mencari alasan agar dia dipindahkan ke paroki lain.

Akhirnya, dia memang dipindahkan. Dia sedih dan kecewa, karena usaha baiknya ditolak. Dia mengeluh kepada teman angkatannya waktu di seminari tinggi.

Temannya pun menasihati sambil mengutip kata-kata Sang Guru Kehidupan, "Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka" (Luk 9: 5).

"Memang ditolak itu tidak enak. Apalagi kalau sudah berusaha berbuat baik. Tapi pengalaman itu harus kamu lupakan agar tidak membebani perjalananmu dalam melayani di tempat yang baru," kata sahabat karib yang bertahun-tahun bersamanya dalam mempersiapkan imamatnya dahulu.

Rabu, 22 September 2021RP Albertus Herwanta, O. Carm.

11May
Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.