1 min dibaca
29 Nov
29Nov

Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Hari ini sabda Tuhan menampilkan dua orang pemimpin. Pertama, seorang perwira Romawi yang memiliki hamba yang sedang sakit (Mat 8: 5-6). Kedua, Sang Guru, pemimpin kepada hidup, yang menjawab permohonan sang perwira.

Sebagai seorang pemimpin, perwira itu tidak wajib mengurus hambanya yang sakit. Berbeda dari pemimpin lain dia memperlakukan hambanya bukan seperti hewan yang bisa diperas dan dijualbelikan. Dia peduli terhadap hambanya.

Demikian pula Sang Guru Kehidupan bisa saja mengabaikan permintaan perwira yang menjajah bangsa Yahudi itu. Namun dia bukan hanya menerima dia; malah memujinya.

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel" (Mat 8: 10). Perwira itu memang orang asing atau kafir menurut ukuran Yahudi waktu itu. Namun dia jauh lebih beriman kepada Sang Guru Kehidupan dari pada orang Israel.

Dua pemimpin yang peduli ini menjadi inspirasi bagi para pemimpin. Entah pemimpin dalam rumah tangga, komunitas, perusahaan entah lembaga agama. Sejauh mana mereka telah menjadi pemimpin yang peduli?
Sabda ini juga menegaskan bahwa meski manusia tidak layak di hadapan Tuhan, dia tetap dapat datang kepada-Nya; memohon pertolongannya. Bukankah tidak satu orang pun layak di hadapan Tuhan?

Masa adven ini mengingatkan orang akan kedatangan Tuhan yang menjadi manusia (inkarnasi). Itu bukan peristiwa yang terjadi dua ribu tahun lalu. Hingga kini inkarnasi masih sedang terjadi. Artinya, Allah yang menjadi manusia tetap ada di tengah umat manusia. Peduli kepada mereka.

Dalam hidup sehari-hari yang sulit dan penuh tantangan, berapa orang datang kepada Tuhan dengan penuh iman seperti perwira yang oleh sebagian orang disebut kafir itu?

Senin, 29 November 2021RP Albertus Herwanta, O. Carm.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.