INTEGRATED LIFE


1 min dibaca
27 Jul
27Jul

Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Hidup yang utuh atau "integrated life" banyak  memiliki arti dan kontribusi. Makna psikologis, sosial dan spiritual adalah tiga di antaranya.

Orang yang kepribadiannya terpecah seperti penyandang skrizrofenia kerap diganggu halusinasi dan perubahan sikap. Orang yang tidak sesuai antara janji dan realisasi terpecah pula sebagai pribadi. Dalam bidang spiritual keagamaan pun kerap ada keterpisahan antara hidup suci dan kesibukan sehari-hari. Bahkan kadang bertentangan sama sekali.

Menghadapi situasi dunia yang diwarnai oleh keterpecahan itu orang bisa berharap akan adanya kesatuan antara hidup doa dan kegiatan karya. Di sana orang menikmati hidup yang utuh dan kukuh. Menghadapi badai dan gempuran hidup mereka tidak mudah runtuh. Mereka yang mengalami itu membagikan pengalaman hidup yang mendalam dan menyentuh. Salah satu dari orang itu adalah Beato Titus Brandsma.

Siapa dia itu? Seorang pastor dan biarawan Karmelit dari Belanda yang hidup pada masa perang dunia kedua (PD II). Hidup doanya sangat mendalam karena persatuan dengan Tuhan. Dia amat menghayati imannya akan Allah yang mengasihi dan mencintai.

Hidup dan karyanya merupakan ungkapan pengalaman persatuan dengan Allah (pengalaman mistik). Kekuatan utamanya berasal dari sana. Sangat aktif di pelbagai bidang, karena dia seorang doktor filsafat dan sejarah mistik, rektor magnifikus Universitas Katolik Nijmegen, Belanda. Dia juga jurnalis, aktivis gerakan ekumenis, penasihat jurnalis Katolik Belanda dan dosen.

Kesibukannya tidak menjauhkannya dari hidup doa. Sebaliknya, aktifitasnya mengalir dari doa dan doanya terinspirasi kegiatannya. Pelayanan kepada Tuhan mewujudnyata dalam pengabdian dan pengorbanan bagi sesama. Dia memperhatikan mahasiswanya yang miskin dan tertinggal. Memberi makan kepada orang-orang miskin yang datang ke biaranya. Dia mengusahakan hubungan damai antara Jerman dan Belanda. Membela martabat manusia. Mencintai musuh-musuhnya, termasuk perawat yang akhirnya menyuntik mati dirinya. Dia wafat di kamp konsentrasi Dachau sebagai saksi iman; martir.

Di tengah situasi pandemi yang digunakan sebagai panggung kepentingan orang yang terpecah kepribadiannya, pribadi Beato Titus Brandsma menjadi pelita yang menerangi jiwa dan pintu masuk untuk membersihkan kalbu yang tertutup debu. Perlu diyakini bahwa di tengah segelintir orang yang pribadinya terpecah, kita mempunyai lebih banyak orang yang mental, hati, jiwa dan nuraninya utuh. Merekalah benteng kukuh menghadapi musuh yang angkuh. Sungguh, hidup terpecah tidak pernah menang terhadap "integrated life."

Selasa, 27 Juli 2021 | Peringatan Beato Titus Brandsma, MartirRP Albertus Herwanta, O. Carm. 

11May
Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.