HIDUP SEJATI


1 min dibaca
28 Jul
28Jul

Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Di tengah gelombang kematian amat mencemaskan yang belum jelas berakhirnya kapan, bersyukurlah yang masih menikmati kehidupan. Kematian menyadarkan orang akan nilai sejati kehidupan. Pertanyaannya, hidup macam apa yang dijalaninya?  

Terdapat pelbagai macam makna dan nilai hidup. Orang yang bernafas, sehat, bisa makan dan minum cukup dapat disebut hidup. Mereka yang mencapai sukses dalam kerja dan menjadi kaya raya dikatakan sebagai orang yang hidupnya terpandang. Meraih karir amat tinggi dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi dan politik kerap menjadi hidup yang dicita-citakan.

Itu semua baik dan bermanfaat, tetapi apakah itu hidup yang sesungguhnya? Apakah menjawab kerinduan terdalam manusia? Walau semua itu berharga, hidup sejati mengatasi itu semua. Tersembunyi dalam Kerajaan Sorga. Bagaimana orang dapat menemukan dan menikmatinya?

"Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu" (Mat 13: 44-46).
"Ditemukan" berarti selama ini tersembunyi atau tidak disadari. Pertama, ditemukan secara tidak sengaja di tengah kesibukan bekerja (Mat 13: 44). Kedua, orang memang mencari dan lalu menemukannya (Mat 13: 45). Jadi, hidup sejati bisa ditemukan secara tidak sengaja; bisa juga dicari.

Setelah menemukannya orang menjual seluruh miliknya untuk membeli dan memilikinya. Betapa tinggi nilai hidup sejati itu sehingga mesti dibeli dengan seluruh pengalaman hidup dan capaiannya. Artinya, hanya bisa diperoleh dengan melepaskan semua yang orang miliki; bebas dari kelekatan kepadanya.

Mengapa? Karena hidup sejati berarti hidup yang dituntun oleh Tuhan Allah; sepenuhnya dipercayakan kepada-Nya. Di sana Allah yang mengatur dan menentukan; bukan lagi manusia. Keadaannya jauh lebih baik dan membahagiakan daripada yang dapat diusahakan manusia. Lepas dari rasa khawatir dan gelisah. Melampaui yang serba terbatas; bersifat abadi. Kendati demikian, sudah mulai dicicipi di dunia ini.

Itulah hidup yang sejatinya didambakan setiap lubuk hati. Sudah tersedia di tengah kehidupan ini. Sayang, hanya sedikit yang mampu dan mau melihat atau menyadari. Kebanyakan orang lebih suka melekat pada semua capaian di dunia ini. Akibatnya, tidak bebas dan sulit memiliki hidup sejati.

Rabu, 28 Juli 2021 | RP Albertus Herwanta, O. Carm.

11May
Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.