1 min dibaca
02 Jun
02Jun

Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Melakukan sesuatu berulang-ulang belum tentu membuat pelakunya menjadi mahir. Hal itu sangat benar tatkala diterapkan dalam berdoa. Bukankah banyak orang sering berdoa tetapi belum juga piawai di sana? Ternyata, berdoa yang tampaknya mudah itu sulit bagi sebagian orang.

Seperti halnya dalam hal lain orang perlu terus belajar, demikian pun dalam berdoa. Dua tokoh dalam Perjanjian Lama bisa menjadi contoh dalam berdoa. Mereka itu adalah Tobit, ayah Tobia dan Sara, puteri Raguel. Keduanya sama-sama dalam kesedihan, lalu berdoa kepada Tuhan.

Tobit berkata kepada Tuhan, "Engkau adil, ya Tuhan, dan adillah semua perbuatan-Mu. Segala tindakan-Mu penuh belas kasih dan kebenaran. Engkaulah hakim atas dunia semesta. Oleh sebab itu, ya Tuhan, ingatlah akan daku, pandanglah aku. Jangan aku Kauhukum sekedar segala dosa dan kekhilafanku atau setimpal dengan dosa nenek moyangku! Aku telah berdosa di hadapan-Mu dan melanggar segala perintah-Mu. Maka kami Kauserahkan untuk dirampasi, ditawan dan dibunuh. 

Kami Kaujadikan sindiran dan tertawaan, orang ternista di tengah sekalian bangsa di mana kami Kaucerai-beraikan. Memang tepatlah hukuman-Mu, jika kini aku Kauperlakukan sekedar segala dosaku. Karena kami tidak memenuhi perintah-perintah-Mu, dan tidak hidup baik di hadapan-Mu. Kini berbuatlah kepadaku sekehendak-Mu, sudilah mencabut nyawaku, sehingga lenyaplah aku dari muka bumi dan kembali menjadi debu. Sebab mati lebih berguna bagiku dari hidup. Karena aku harus mengalami nista dan fitnah, dan sangat sedih rasa hatiku" (Tob 3: 2-6).

Sedangkan Sara yang dikuasai setan Asmodeus dan karenanya gagal dinikahi tujuh lelaki berdoa demikian, "Terpujilah Engkau, ya Allah penyayang! Aku mengarahkan mataku kepada-Mu. Semoga aku dilenyapkan saja dari muka bumi, sebab aku tidak mau lagi mendengar nista” (Tob 3: 11-13).

Sekilas doa mereka mengandung rasa putus asa dan ingin lari dari kesedihan. Namun jika diamati, mereka menunjukkan iman kepada Tuhan. Mereka memasrahkan kesulitannya kepada Tuhan. Mereka percaya bahwa Tuhan akan melakukan yang terbaik. Konkretnya, menyelamatkan mereka.

Demikianlah yang terjadi. "Pada saat itu juga kedua orang tersebut, yakni Tobit dan Sara, dikabulkan permohonannya di hadapan kemuliaan Allah. Allah mengutus Rafael untuk menyembuhkan kedua-duanya, yaitu dengan menghapus bintik-bintik putih dari mata Tobit, sehingga ia dapat melihat cahaya Allah dengan matanya sendiri, dan dengan memberikan Sara, puteri Raguel, kepada Tobia, putera Tobit, sebagai isteri, dan dengan melepaskannya dari Asmodeus, setan jahat itu" (Tob 3: 16-17).

Apakah aku seorang beriman dan beragama? Apakah aku percaya kepada Tuhan? Bagaimana iman kepercayaanku tampak dalam doa-doaku? Sejauh mana aku memasrahkan hidup ke dalam kebijaksanaan Tuhan? Barangkali dua pendoa di atas bisa menjadi inspirasi.

Rabu, 2 Juni 2021 | RP Albertus Herwanta, O. Carm.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.