DUA NABI


1 min dibaca
05 Jul
05Jul

Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Hampir semua orang pernah mendengar tokoh yang disebut nabi. Siapakah mereka dan apa peranannya dalam kehidupan umat manusia? Biasanya mereka berada dalam konteks moral dan arena agama.

Nabi itu utusan yang mesti menyampaikan pesan Tuhan kepada umat-Nya. Pesannya bermacam-macam: ada yang menghibur dan menguatkan; ada pula yang mengancam atau menyampaikan hukuman. Mereka tidak disukai oleh umat yang mesti menerima pesan-pesannya. Ditolak. Sebagian dari mereka harus menderita; bahkan mati dibunuh.

Nabi Yehezkiel ditolak oleh kaum Israel yang suka memberontak terhadap Tuhan (Yeh 2: 3-5). Ketika pulang ke tempat asal-Nya, Sang Nabi Agung juga ditolak oleh tetangganya yang mempertanyakan tentang dari mana kebijaksanaan dan kemampuan-Nya. "Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan dirumahnya" (Mrk 6: 4). Demikian respon-Nya.

Kadang mereka juga harus berhadapan dengan nabi-nabi palsu yang membawa pesan sponsor, penunggangnya. Mereka menyampaikan pesan yang sesat dan mencelakakan demi kepentingan yang membayarnya.

Nabi yang asli membawa pesan Tuhan yang menyelamatkan. Mereka dimusuhi, karena merugikan kelompok tertentu secara politik dan ekonomi. Banyak kesulitan yang mesti dihadapi. Niat baiknya dihalangi dan tujuan mulianya untuk kesejahteraan banyak orang dihambat.

Sebaliknya, nabi palsu banyak temannya; keras suaranya. Tapi inkonsisten argumennya; ngawur dan tidak menampilkan perilaku luhur. Karenanya mudah dipatahkan. Mereka mengorbankan siapa saja demi meraih kepentingannya.

Di tengah pandemi yang sulit, di mana rakyat terjepit dan sudah menjerit, mereka tetap berkelit. Kalau perlu semua langkah menuju solusi dipersulit. Demi meraih keuntungan mereka tega membiarkan banyak orang tetap sakit. Kehilangan empati melihat rakyat mati.

Dari dulu hingga kini Tuhan masih mengirim nabi-nabi sejati untuk membawa berita baik dan menyelamatkan. Meski dihadang, mereka terus berseru dengan lantang karena yakin Tuhanlah yang akhirnya menang. Bukankah nabi yang sudah mati pun dibangkitkan-Nya kembali?

Minggu, 4 Juli 2021 | RP Albertus Herwanta, O. Carm.

11May
14May
Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.