BUDAYA NUSANTARA


1 min dibaca
22 Jul
22Jul

Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Perumpamaan tentang penabur dilengkapi dengan penafsirannya. Di sana dibedakan dua kelompok orang yang menyikapinya. Yang pertama tidak mengerti, tidak peduli dan khawatir akan hal-hal duniawi. Tidak menghasilkan alias mati. Kelompok yang lain membuka diri dan menyambutnya dalam hati hingga tumbuh dan berbuah lebat.

Kebaikan yang ditaburkan Tuhan di bumi Nusantara juga bagai benih yang menghadapi tanggapan serupa. Banyak generasi yang tidak mengerti, tetapi malas mempelajari. Bahkan menolak sejarah. Menafikan warisan budaya adiluhung dari generasi sebelumnya.

Ada yang menanggapi setengah hati. Tidak memberi kesempatan benih kebaikan itu tumbuh. Menganggap bahwa budaya modern dan asing lebih penting. Mereka tercabut dari akar dan kehilangan identitas sosial-budayanya.

Akibatnya, sebagian warga Nusantara tidak menghargai budayanya sendiri yang nilainya tinggi. Hidup rukun dalam harmoni diganti penyebaran sikap dengki, rasa benci dan mulut yang hobi memaki-maki. Budaya berembuk diganti dengan kebiasaan saling menggebuk. Jiwa gotong-royong dianggap omong kosong, karena semua harus pakai uang kalau mau ditolong. Rasa empati dan simpati terlindas oleh mental korupsi. Di tengah krisis dan bencana masih tega mengambil keuntungan bagi diri sendiri. Bangsa beradab terancam menjadi biadab.

Ritme hidup yang meditatif, hening dan sabar digantikan oleh kebiasaan hingar bingar. Mental yang dangkal menghasilkan generasi yang sukanya asal viral. Mudah percaya pada yang tidak masuk akal hingga mudah terjungkal. Kehilangan budaya leluhur membuat orang suka ngawur; sulit diatur.

Syukur, bahwa sebagian benih itu jatuh di tanah yang subur. Bertumbuh dalam hati dan akal budi yang luhur. Mereka setia berjuang memelihara budaya Nusantara sehingga tidak hancur. Itu tampak dalam para pemimpin dan pejabat yang tulus membela rakyatnya; generasi muda yang cerdas dan jujur; para pekerja keras yang tidak mudah menyerah di tengah kehidupan yang keras. Banyak, pecinta dan penghayat budaya Nusantara. Mereka percaya bahwa berpegang pada identitas budaya amat penting di tengah globalisasi dunia.

Benih budaya Nusantara sudah ditaburkan dan masih bertumbuh. Hati dan kehidupan bangsa Indonesia yang kini menjadi lahannya. Termasuk siapa kita: yang menolak dan membuangnya atau yang menerima dan menghayatinya?

Kamis, 22 Juli 2021RP Albertus Herwanta, O. Carm.

11May
Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.