BUDAYA MENGHAKIMI


1 min dibaca
21 Jun
21Jun

Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Mengapa Sang Guru Kehidupan menegaskan, "Janganlah menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi"? (Mat 7: 1). Apakah maksudnya supaya Allah tidak membalas menghakimi orang yang suka menghakimi itu?

Allah itu tidak menghakimi. Perbuatan seseorang yang menghakimi tindakannya sendiri. Bukankah perbuatan jahat tidak pernah menghasilkan kebaikan dan perbuatan baik, meski dicaci maki, tidak pernah kehilangan kebaikannya?

Di situlah kata-kata Sang Guru yang berbunyi "Karena dengan penghakiman yang telah kalian pakai untuk menghakimi, kalian sendiri akan dihakimi" (Mat 7: 2) menemukan relevansi. Orang yang suka menjelek-jelekkan orang lain sebenarnya sedang menunjukkan betapa jelek dirinya. Sebaliknya, mereka yang tulus mengapresiasi kebaikan sesamanya memancarkan pula kemuliaan hatinya.

Orang-orang yang lebih cepat melihat sisi negatif atau keburukan kecil dari sesamanya itu seperti tidak melihat balok di matanya sendiri, tapi cepat menemukan selumbar pada mata saudaranya (Mat 7: 3). Memang sesuatu yang amat dekat atau menempel di mata justru tampak tidak jelas.

Itulah sebabnya, penting sekali orang belajar mengambil jarak dari dirinya. Misalnya, dalam refleksi. Di sana orang bisa menempatkan diri sebagai objek (yang dilempar keluar) untuk dilihat dan dinilainya sendiri; evaluasi diri.

Kebutuhan itu kerapkali sulit dipenuhi. Pertama, karena orang merasa tidak punya waktu untuk itu. Kedua, karena banyak yang takut melihat dirinya, terutama keburukannya. Padahal refleksi diri bermanfaat membantu mengeluarkan balok di matanya sendiri sebelum melihat selumbar di mata saudaranya. Kini itu makin lama makin sulit dilakukan karena media sosial juga ikut mengamplifikasi budaya menghakimi.

Senin, 21 Juni 2021| RP Albertus Herwanta, O. Carm.

11May
Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.