Bekal Perjalanan


1 min dibaca
09 Aug
09Aug

Suara Keheningan l RP. Albertus Herwanta, O. Carm 

Hidup sering digambarkan sebagai perjalanan. Ya, perjalanan jauh yang perlu ditempuh. Menuju suatu destinasi yang tinggi; tempat abadi. Di sana manusia mengalami bahagia nan sempurna.

Ada pula yang mengatakan, "Urip iku mung mampir ngombé" (hidup itu hanya singgah sejenak untuk minum). Fakta bahwa hidup disebut "mampir" (singgah) menegaskan betapa singkatnya hidup di dunia ini. 

Namun panjang pendeknya umur bukan penentu makna kehidupan.
Tatkala dalam perjalanan itu manusia membutuhkan bekal. Untuk menjaga stamina raganya, dia memerlukan makanan-minuman. Secukupnya. Bila berlebihan justru menjadi beban. Dalam pelariannya dari kejaran ratu Isebel yang hendak menghabisinya, nabi Elia lelah. Dia lapar dan haus, rohani jasmani. Ada rasa putus asa dan perutnya kosong; tidak ada isinya.

Malaikat Tuhan pun diutus untuk memberinya makan dan minum. Malaikat itu berkata, "Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu.” (1 Raj 19: 7). Lalu dia bangun, makan dan minum serta oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb (1 Raj 19: 8).

Sebagai peziarah yang sedang menempuh perjalanannya, manusia tidak hanya membutuhkan makanan-minuman jasmani. Dia juga memerlukan asupan rohani yang memberinya kekuatan untuk berjalan sampai ke tujuan tertinggi, yakni hidup abadi.

Karena manusia itu terbatas, tidak mungkin dia menyediakan sendiri bekal itu. Syukurlah, Tuhan Allah memberikan bekal itu. Roti yang turun dari surga itu mewujud dalam diri Sang Guru Kehidupan.

Dia bersabda, "Akulah roti yang telah turun dari sorga" (Yoh 6: 41). Ditegaskan pula, "Barangsiapa makan daripadanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya" (Yoh 6: 50-51).

Menyantap roti hidup beda dari mengunyah dan menelannya lewat tenggokan hingga masuk ke dalam perut. Makan roti hidup berarti percaya kepada-Nya. Menghayati hidup ini dengan semangat-Nya. Barangsiapa telah melakukannya, niscaya akan sampai ke destinasi rohani tertinggi. Perjalanannya pasti akan sampai tujuan, karena telah dengan tepat memilih bekal perjalanan.
Minggu, 8 Agustus 2021RP Albertus Herwanta, O. Carm.

Beispieltext

11May
Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.