1 min dibaca
16 Aug
16Aug

Suara Keheningan I RP. Albertus Herwanta, O.Carm 

Hidup sebagai perjalanan ditempuh pelan-pelan untuk mencapai tujuan. Bekal dibutuhkan. Itu hanyalah alat. Bukan hal utama yang padanya manusia melekat. Fasilitas; suatu saat mesti dilepas. Bekal yang dijadikan tujuan menghambat perjalanan.

Orang muda yang datang kepada Sang Guru Kehidupan paham benar akan tujuan hidup. Dia bertanya, "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" (Mat 19: 16). Pertama, dia tahu bahwa perjalanan di dunia ini berakhir pada hidup yang kekal. Kedua, bahwa untuk sampai di sana orang mesti berbuat baik.

Itu diwujudkannya dalam tindakan tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzinah dan tidak bersumpah palsu. Juga dalam menghormati ayah dan ibu serta mencintai sesama seperti mencintai dirinya sendiri.
Karena itu semua sudah dipenuhi, Sang Guru meminta supaya anak muda itu menjual semua hartanya dan memberikannya kepada orang misikin. Lalu mengikuti Sang Guru. Dia sedih mendengar anjuran itu dan pergi. Mengapa? Karena banyak hartanya (Mat 19: 22).

Sikapnya kepada sesama telah menjadi bekal dan harta amat berharga. Namun sikapnya terhadap harta benda menghambat perjalanannya. Dengan melekat pada harta duniawi dia kehilangan kebebasan diri. Walhasil, dia tidak pernah sampai ke tujuan yang telah lama tersimpan dalam lubuk hati.

Hidup memang diwarnai pilihan yang saling berlawanan: hitam-putih, kiri-kanan, baik-buruk, benar-salah, sementara-baka, lekat-bebas. Hanya salah satu yang bisa dipilih. Melekat pada harta tidak bisa sekaligus bebas leluasa.

Berlimpah-limpah, harta yang tersedia bagi manusia. Sebagian besar hanyalah sarana yang mesti dilepas tatkala orang sudah hampir sampai tujuan. Dengan demikian orang secara lepas bebas memasuki tujuan hidupnya. Pertanyaanya, siapa ikhlas melepas harta dunia tatkala harta surga yang baka sudah di depan mata?

Senin, 16 Agustus 2021 I RP Albertus Herwanta, O. Carm.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.