1 min dibaca
15 Sep
15Sep

Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Pengukuhan gelar profesor di universitas ternama di Jepang atas Agustinus Nurwicaksono baru saja usai. Air mata ibunya, Monika Sri Wedari, berkali-kali menetes membasahi pipi selama acara berlangsung.

Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, karena kurang berpendidikan. Baru kali ini juga ia terbang ke negeri sakura. Semua demi menyaksikan keberhasilan anaknya.
Sesungguhnya, yang disaksikan itu buah dari kemenangan yang diraihnya dengan air mata. Dia ingat bagaimana sebagai pembantu rumah tangga ia mengumpulkan rupiah demi rupiah agar anak tunggalnya bisa sekolah.

Waktu Nur masih kecil ayahnya meninggal karena kecelakaan. Sejak itu, sebagai ibu dia harus menghidupi diri dan anaknya.

Ada beberapa pria yang melamarnya supaya mau diperisteri. Tetapi dia bertekat untuk membaktikan hidup bagi anaknya. Prinsipnya, anaknya harus sukses. "Jadi orang," kata orang Jawa.

Perjalanan studi anaknya penuh onak duri. Baik waktu di SMP maupun di SMA Nur terancam dikeluarkan karena nunggak bayar uang sekolah. Sri meminjam uang ke para tetangga untuk membayarnya.

Sri bahagia sekali mendengar bahwa anaknya mendapat beasiswa studi ke Jepang setelah lulus SMA.
Air mata, keringat dan perjuangannya itu berbuah amat membanggakan. Benar, di setiap sukses anak ada kasih, semangat dan pengorbanan ibunya.

"Waktu Yesus bergantung di salib, di dekat salib itu berdirilah ibu Yesus dan saudara ibu Yesus, Maria, isteri Kleopas dan Maria Magdalena" (Yoh 19: 25). Ketaatan Bunda Maria kepada Tuhan yang dibungkus tetes derita dan air mata berbuah pada penebusan umat manusia. Itulah air mata kemenangan.

Rabu, 15 September 2021 | PW Santa Perawan Maria Berdukacita | RP Albertus Herwanta, O. Carm.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.