1 min dibaca
Solidaritas Bencana Alam

Suara Keheningan | Ino Sigaze

Hari ini saya masih bergulat dengan pesan berantai terkait bencana di NTT. Belum lagi pertanyaan dari teman dan sahabat, gimana keluargamu di Flores? Ya, suasana yang sungguh tidak mudah saat ini, apalagi ketika jaringan listrik juga putus, otomatis jaringan komunikasi terganggu. Hilang komunikasi dan hilang kontak selalu menjadi alasan untuk prediksi yang buruk. Ternyata bukan cuma cerita hilang kontak saat pesawat jatuh, yang menimbulkan ketakutan dan kegelisahan, tetapi juga hilang kontak saat bencana selalu membuat resah dan gelisah.

Hilang kontak bisa menimbulkan banyak penafsiran dan syukur seandainya cuma karena kehabisan baterai HP atau karena ketiadaan jaringan listrik. Beberapa hari ini, cukup banyak yang mengalami kehilangan kontak dengan keluarga dan teman di wilayah NTT. Bagi yang tidak punya keluarga di sana tentu perasaannya tidak begitu cemas dan menakutkan, dibandingkan dengan orang yang punya keluarga dan sahabat kenalannya di sana. Meskipun demikian, bagaimanapun cerita pilu seperti itu, selalu saja menjadi duka bagi semua. 

Duka, pilu, sedih, dan tangisan karena kehilangan nyawa tidak bisa diobati dengan mudah, bahkan  dengan cara apa saja. Karena itu, dukungan doa tentu sangat dibutuhkan agar di tengah duka dan kehilangan, mereka tetap punya harapan dan percaya bahwa bencana itu bukan hukuman, tapi isyarat waspada untuk semua orang. Waspada bukan cuma soal waspada terhadap bahaya dari bencana alam, tetapi waspada terhadap segala macam hal yang menjauhkan kita setiap hari dari kasih, persaudaraan dan solidaritas. 

Saya merasakan bahwa pengalaman tertimpa bencana selalu merupakan pengalaman yang tidak enak. Orang bisa saja sekejap kembali ke titik nol. Ya, bisa kehilangan rumah, hasil, uang, keluarga, dan semuanya. Oleh karena itu, saya yakin bahwa saat-saat seperti ini adalah saat yang tepat untuk kita berbagi. Ya,  itu adalah isyarat yang diberikan kepada kita tentang betapa pentingnya solidaritas dan berbagi. Saya kutip kata-kata Paus Fransiskus dalam Ensiklik Fratelli tutti, no. 35: "Tuhan mengabulkan bahwa pada akhirnya tidak ada lagi “yang lain”, melainkan hanya “kita” Kata-kata ini sungguh menggugat pikiran saya untuk bertanya kepada siapa saja: Apakah yang bisa saya lakukan untuk orang-orang yang tertimpa bencana di NTT?

Siapa saja yang membaca tulisan kecil ini, silahkan beri komentar. Lebih dari itu, kami dari suarakeheningan.org hanya mengajak dan berharap agar hati peduli kita bisa terbuka untuk mereka di sana. Karena itu, saya sharekan flyer dari Dekenat Adonara Keuskupan Larantuka, agar siapa saja yang terpanggil untuk solidaritas, silahkan bisa menyalurkan melalui alamat yang sudah tertera di bawah ini.

Acara Doa Bersama untuk NTT akan kita selenggarakan pada Minggu depan secara Online bersama dengan Masyarakat Katolik Indonesia di Frankfurt dan Sekitarnya.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.