4 min dibaca
Misteri Kontur Intonasi Suara dan Fungsi Kontrol Bawah Sadar Manusia

Suara Keheningan | Inosensius I. Sigaze

Kontur intonasi suara ternyata punya daya besar yang mengubah dan memengaruhi tidak hanya fisik dan mental, tetapi juga menjangkau wilayah bawah sadar manusia.

Suara manusia punya nada-nada dan irama yang terkadang begitu teratur, tetapi juga bisa sangat emosional. Suara bisa memengaruhi manusia baik secara fisik dan psikis. 

Dalam era perkembangan teknologi komunikasi modern saat ini gelombang suara manusia dipakai juga untuk mengunci dan membuka handphone. Bahkan tidak jarang suara dilatih untuk menghasilkan reaksi-reaksi tertentu. 

Barangkali Anda pernah mengalami bahwa suara Anda bisa memberikan ketenangan pada orang lain. Ya, bersyukurlah kalau memang pernah mendengar ada orang yang mengatakan demikian.Saya pernah mengalami itu pada seorang Jerman yang tengah sibuk dengan tugas-tugasnya katanya, "Deine Stimme beruhigt mich" atau suaramu menenangkan saya.

Suara ternyata punya kekuatan yang bisa menenangkan orang lain. Ya, suara itu sama seperti musik yang bisa membuat tertawa bahagia, bisa mengubah suasana hati jadi sedih penuh tangisan, tetapi juga musik bisa menyembuhkan dan memberikan damai di hati.

Tulisan ini berangkat dari pengalaman pribadi berjumpa dengan berbagai momen yang berbeda baik itu sejak di Indonesia maupun di Jerman. Ragam kisah dan pengalaman yang saya jumpai telah menghantar saya sampai pada kesimpulan bahwa kontur intonasi suara itu bisa punya fungsi yang juga beragam.

1. Suara bisa mengembalikan situasi disharmoni kepada harmoni di tengah perbedaan

Pada tahun 2006 saya punya kesempatan untuk menyepi seminggu di sebuah biara pertapaan Trappist, Lamanabi, Larantuka, Flores, NTT. Tempat itu terletak persis di ujung pulau Flores. Pada puncak gunung yang kalau dari peta buta terlihat seperti ekor kalajengking, di situlah berdiam para pertapa itu.

Khusuk dengan kuliah, lelah dengan pergulatan hidup dan berhadapan dengan saat-saat mengambil keputusan, datanglah saya ke tempat itu. Saya sungguh membutuhkan yang namanya kesunyian, keheningan, dan kedamaian. Saya berusaha mengikuti irama kehidupan mereka setiap hari. Mereka bangun pagi jam 3.00 dini hari, selanjutnya berdoa dan bermeditasi, bahkan bermatiraga.

Suatu pagi saya menempati posisi sebelah kanan dari pintu masuk tempat doa itu. Kurang lebih 10 orang pada sisi kanan dan 10 orang lainnya pada sisi kiri. Berdoa bersahut-sahutan, namun entah kenapa terdengar suara kebanyak sudah tidak harmonis, bahkan terasa sekali nada miringnya. 

Tiba-tiba spontan terdengar, satu suara yang sangat besar menguasai semuanya dengan nada yang baru. Kemudian semuanya serentak menyesuaikan suara masing-masing dan mengikutinya.Nada yang baru itu menjadikan suara antara sisi kiri dan kanan kembali harmonis. 

Nah, bagi saya situasi itu adalah suatu fenomena yang unik dan menarik terkait kontur intonasi suara yang memengaruhi dan mengubah yang lain tanpa menegur dengan kata-kata. Suara yang keras sendirian yang disuarakan dengan penuh kesadaran ternyata bisa membawa suara-suara lainnya kembali kepada keharmonisan. Artinya kontur intonasi suara bisa mengembalikan kesadaran orang lain untuk menciptakan keharmonisan.

2. Kekuatan suara bisa mengendalikan situasi dan mengarahkan orang lain kepada tujuan utama

Saat saya mendengar dan mengamati pidato Bung Karno tentang "Revolusimu belum selesai" terdengar bahwa suaranya begitu lantang dan tegas. Suara itu ternyata begitu berdaya membangkitkan gairah perjuangan rakyat Indonesia. 

Riuh suara dan tegas pengucapannya terasa begitu cepat menguatkan tulang-tulang, bahkan nadi berdetak membara seakan semua harus bergandeng tangan melawan penjajah. Nah, daya perjuangan anak bangsa saat itu dibangkitkan Bung Karno melalui kontur intonasi suaranya, suara yang menghidupkan, suara yang membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan, suara yang mengobarkan gairah perjuangan. 

Pemimpin-pemimpin hebat sering menggunakan kekuatan kontur intonasi suara mereka untuk mengendalikan situasi, bahkan bisa juga untuk menguasai. Jadi, orang perlu waspada dengan kekuatan suaranya masing-masing, sekurang-kurangnya ketika kontur intonasi suara itu dinaikan perlu disesuaikan dengan tujuan yang baik.

Tanpa kesadaran untuk mendukung tujuan yang baik, maka suara itu bisa melumpuhkan semangat orang lain, bahkan bisa membuat orang tidak bisa berkutik. Kontur intonasi suara bisa dimengerti sebagai instrumen konfrontasi bawah sadar pada yang lainnya. 

Tidak jarang ditemukan orang yang mau menyampaikan pesan-pesan penting dalam suatu pidato atau pembicaraan resmi menaikan volume suara mereka. Tentu hal itu tidak saja sebagai metode dalam memberikan aksen khusus, tetapi sebenarnya orang sedang menggunakan kekuatan suara itu sendiri untuk menyampaikan pesan yang baginya penting untuk disampaikan.

3. Suara bisa mengembalikan arus bawah sadar 

Mengucapkan kata yang sama pada waktu yang sama, namun berbeda volume akan memberikan pesan khusus pada yang lainnya. Anehnya bahwa orang lain akan dengan begitu cepat menangkap pesannya dan begitu cepat menyesuaikan dirinya.

Cukup sering saya mengamati teman-teman saya yang menggunakan kontur intonasi suara mereka untuk menekan suara teman lainnya yang terlalu besar dan terlalu cepat membaca suatu teks oleh karena iramanya di luar kesadarannya. Tampaknya suara konfrontasi dengan kontur intonasi suara yang lebih besar sangat efektif mengembalikan titik bawah sadar orang lain, yang pada saat yang sama harusnya bisa lebih harmonis bersama yang lainnya. 

Saat ia mendengar ada suara lainnya (suara konfrontasi) yang lebih besar biasanya volume, maka suaranya pun langsung berubah menjadi lebih harmonis dengan suara yang lainnya. Fenomena itu memberikan kesan bahwa suara seseorang mesti dengan mengucapkan kata yang sama pada saat yang sama dengan kontur intonasi yang berbeda akan memberikan pesan seperti peringatan kepada orang lain supaya perlu menjaga keharmonisan. 

Penting di sini bahwa apa yang berlangsung diluar kesadaran manusia itu dikembalikan tanpa secara langsung mengatakan kepada orang yang bersangkutan seperti, "suaranya terlalu keras, atau kamu membaca terlalu cepat." Ya, suara itu bagaikan remot jarak jauh (Fernbedienung) yang bisa mengendalikan kondisi bawah sadar manusia.

4. Suara bisa sebagai sinyal peringatan untuk waspada dan menyalurkan emosi

Cukup sering dalam keseharian lebih khususnya ketika orang mengendarai kendaraan bermotor, terdengar secara tiba-tiba klakson yang sangat tajam dan nyaring. Suara klakson seperti itu selalu langsung dimengerti bahwa orang lain itu sedang kesal, marah dan lain sebagainya.

Pokoknya orang akan mengerti bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Nah, pada saat mendengar suara itu, setiap orang yang mendengar di sekitarnya langsung secara spontan pula seperti mengontrol dirinya sendiri. 

Pertanyaan yang spontan muncul adalah ada apa ya? Apakah saya salah? Nah, itu semua gara-gara suara lho. Bahkan tidak jarang reaksi beragam ada yang dengan kesal membalas klakson sebagai ungkapan suara konfrontasi yang disertai dengan kata-kata yang tidak sedap. 

Dalam hal ini kontur intonasi suara manusia yang menyertai ujaran bisa sangat penting untuk menyampaikan emosi tertentu kepada orang lain. Siapa saja yang mendengarnya sangat mungkin akan menanggapi dengan refleks tertentu sesuai dengan intonasi dan isi ujaran itu.

Tidak heran juga siapa yang cuma berteriak di jalan tanpa menyebutkan kata-kata tertentu, selalu memicu orang lain untuk ingin tahu dari mana sumber suara itu, ada apa dan lain sebagainya.

5. Suara itu punya energi yang membangkitkan kesadaran dan daya pikiran

Hari ini saya berjumpa dengan suatu pemandangan baru di antara orang-orang Jompo. Jika tanpa ada suara terlihat mereka seperti orang yang benar-benar kelelahan. Namun ketika mereka mendengar suara beberapa nada saja dari orgel, reaksi mereka begitu cepat seperti mengambil teks lagu dan melihat ke kiri dan ke kanan. 

Bahkan beberapa di antaranya menggoyangkan kepala dan sebagian lagi menggoyangkan kaki mereka.Secara fisik terlihat seperti lambat bereaksi, namun jika ada suara, maka reaksi spontan pun selalu saja ada. Bagi saya yang sedang menggarap tema tentang misteri kontur intonasi suara, rasanya sungguh bisa menikmati pengalaman itu karena bisa melihat kejadian itu secara langsung, seakan-akan ada satu momen yang membawa saya kepada kedalaman misteri kontur intonasi suara semakin dekat dengan kenyataan hidup manusia.

Demikian beberapa refleksi yang berangkat dari pengamatan terus-menerus dari berbagai situasi yang berbeda di tempat berbeda terkait fenomena kontur intonasi suara manusia dan suara lainnya yang memengaruhi manusia bahkan bisa memengaruhi bawah sadarnya. Bagaimanapun juga saya menulis ini tetap dalam kesadaran bahwa masih belum lengkap dan karena itu saya terbuka pada perspektif dan kajian lainnya. 

Saya mengungkapkan apa yang saya lihat, amati, dan kaji dalam kehidupan yang biasa sehari-hari. Kontur intonasi suara bagaikan kata teguran, kata kritikan, kata waspada, kata peringatan yang punya daya sama; di sana ada daya pengubah, mengembalikan konsentrasi dan harmoni. Ya, konfrontasi suara kadang sanggup mengarahkan manusia pada tujuan utama.

Salam berbagi, ino, 15.11.2021

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.