6 min dibaca

Suara Keheningan | RP. Inosensius I. Sigaze, O.Carm 

Natal Bersama Keluarga Besar Para Imam, Biarawan-Biarawati asal Paroki Santo Eduardus Nangapanda untuk pertama kalinya dilakukan pada tanggal 30 Desember 2021.

Latar belakang PWN  

Natal Bersama ini berawal dari niat baik Romo Marcy Jou, Pr yang berkarya di Keuskupan Weetebula untuk membentuk Grup Whatsapp. Ide untuk mempersatukan semua Putra-putri Paroki asal Santo Eduardus itu disambut positif oleh semua Anak-anak Paroki yang saat ini tersebar di seluruh dunia. 

Paroki Santo Eduardus Nangapanda adalah paroki induk yang sampai dengan saat ini stasi-stasinya dimekarkan menjadi Paroki Maria Gunung Karmel Rajawawo, Kuasi Paroki Orakeri dan Kuasi Paroki Kamubheka. 

Keseluruhan Putra-putri Asal Paroki Nangapanda yang tergabung dalam Komunitas Pama Weta Nara berjumlah 64 orang, sedangkan Putra-putri yang sedang dalam proses formasi berjumlah 43 orang. 

Sejak saat itu, diskusi tentang nama dan bagaimana visi-misinya terus berkembang. Nama dari Grup ini akhirnya disepakati dengan filosofi bahasa daerah: Pama Weta Nara.

Pama Weta Nata (PWN) dalam perjalanan waktu semakin serius meski tidak pernah mengabaikan guyonan dan candaan. Nafas persaudaraan PWN terasa semakin akrab. 

Pertemuan Awal dan Kepengurusan PWN 

Pertemuan pada Sabtu 11 Desember 2021 dihadiri oleh 13 peserta, Putra-putri Nangapanda sendiri. Hadir pada kesempatan Saudara sulung kami, P. Eduardus Dosi, SVD. Tema-tema tentang kegiatan lanjutan PWN sudah mulai direncanakan seperti: Acara Natal Bersama, Pertemuan berikutnya dan pemilihan pengurus Komunitas.Selanjutnya pada Jumat 17 Desember 2021 diadakan lagi pertemuan untuk kedua kalinya. 

Pada kesempatan itu komunitas PWN atas inisiatif Panitia khusus mengumumkan hasil pemilihan Ketua dan Wakil Komunitas Pama Weta Nara Periode 2022-2025. Pater Anianus Markus Adam, OCD terpilih sebagai Ketua Komunitas PWN dan Sr. Maria Kristina Tei, CSV terpilih sebagai wakilnya. Pada pertemuan yang sama terpilih juga Fr. Walter, HK dan Sr. Lidia HK sebagai Sekretaris, sedangkan Sr. Anastasia, CIJ sebagai Bendahara PWN.

 Komunitas PWN terbentuk atas dasar kesadaran bersama Putra-putri Paroki asal Santo Eduardus Nangapanda tentang betapa pentingnya visi dan kesaksian hidup kaum terpanggil. Oleh karena itu, dalam struktur kepengurusan Komunitas PWN, diangkat pula 8 orang Penasihat: P. Eduardus Dosi, SVD, RD. Daniel Aka, RD. Hengky Sareng, RD. Yohanes Don Bosco, RP. Yohanes Kea Kebu, OFM, Sr. Emanuel, SSpS, Sr. Louise, HK dan Sr. Remigia, KFS. 

Visi dan Komunitas Pama Weta Nara (PWN) 

Komunitas Pama Weta Nara dalam pertemuan kedua telah merumuskan Visi sebagai berikut: Terwujudnya Komunitas Imam dan Biarawan-Biarawati Asal Nangapanda yang setia dalam panggilan dan berbuah dalam pelayanan. Misi Komunitas PWN ada 3, yakni: 

  • Menciptakan keakraban antara anggota melalui cara-cara yang khas dan sarana-sarana yang memungkinkan.
  • Menguatkan ziarah panggilan semua anggota melalui berbagai kegiatan rohani yang relevan.
  • Meningkatkan karya pelayanan setiap anggota melalui upaya berbagi talenta dan sharing pengalaman.
  • Membangun silaturahmi dan solidaritas antar keluarga anggota.

Logo Komunitas PWN  

Dari pertemuan itu dibicarakan juga tentang Logo Komunitas PWN. Beberapa hari setelah pertemuan kedua, Logo akhirnya selesai dikerjakan disertai dengan penjelasan dan dasar biblisnya oleh P. Ino, O.Carm. Penjelasan Logo Komunitas sebagai berikut:   

1. Kitab Suci 

Dalam Kitab Suci tertulis moto panggilan kita. Dari Kitab Suci kita belajar mengenal panggilan Allah (Bdk. 2 Tim 1:9, 2 Tes 2:14). Kitab Suci adalah Firman Allah. Allah yang memanggil, menuntun, membimbing kita pada Jalan Kebenaran dan Hidup, yaitu Yesus Kristus sendiri (Bdk. Yoh 14:6). Karena itu, kita menyadari hubungan tidak terpisahkan antara menjadi setia dalam panggilan dan berbuah dalam karya pelayanan yang berakar dalam Kitab Suci. 

Kitab Suci adalah „kamu“ atau „akar“ dari setia dan berbuah, juga fondasi dari landasan hubungan kita dengan Allah dan semua orang. Bisa lanjutkan sendiri refleksinya sesuai pengalaman panggilan kita masing-masing. 

2. Kedua telapak tangan 

Kedua telapak tangan itu bukan saja simbol dari tujuan kita bersama untuk saling „pama“ atau menopang dan mendukung sebagai saudara dan saudari dalam panggilan, tetapi juga sebagai simbol dari ungkapan sikap pasrah kita „Dhera Zima“ kepada Karya Roh Kudus dalam tugas dan dalam ziarah hidup panggilan kita. 

Kita manusia lemah yang selalu menjadi kuat karena iman kepada Allah. Karena Tuhan lebih dahulu „pama“ kita dengan tangan-Nya, maka kita juga diundang untuk „Pama Weta nee Nara.“ 

„Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek.“ (Kel 17:11). 

3. Hati 

Hati menempati posisi paling tengah sebagai pusat dari segala emosi kita. Dari Kitab Suci kita mengenal ungkapan „dengan segenap hati.“ Itulah maksudnya kita hidup sebagai orang yang dipanggil khusus dengan kualitas „segenap hati.“ Dalam hal ini, kita diundang untuk menjadi segenap hati untuk Tuhan, untuk tugas pelayanan kita dan segenap hati untuk Pama Weta Nara. 

„Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.“ (Mat 22:37). 

4. Salib 

Panggilan kita untuk mengikuti Yesus mencapai puncaknya dalam pengalaman salib Yesus. Salib yang mengingatkan kita tentang kesetiaan Yesus dalam misi penyelamatan Allah. Salib yang sama mengingatkan kita tentang komitmen Bunda Maria sebagai murid yang setia mengikuti Yesus sampai pada kaki salib. 

Salib perjuangan keseharian kita mengikuti Yesus dengan setia supaya berbuah kebaikan, sukacita dan damai. 

„Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.“ (1 Ptr 2:21). 

5. Bintang  

Dalam astronomi, bintang adalah benda angkasa yang bercahaya sendiri yang terbuat dari gas dan plasma. Dalam konteks Pama Weta Nara (PWN), Bintang itu menjadi simbol dari cita-cita dan tanggung jawab setiap kita untuk memancarkan cahaya terang bagi dunia. 

Dua bintang pada sisi kiri dan kanan seperti terletak di atas bahu kita „Ata Ja'o dan Ata Nga'o.“ Bahu tanggung jawab (wangga nee wara) kita sama menjadi setia dalam panggilan suci kita dan berbuah dalam pelayanan di mana saja kita berkarya. Setia dan berbuah adalah cahaya kita. Cahaya karena kita setia dekat dengan salib Kristus. 

„Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.“ (1Tes 5:24). 

Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata:

 „Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.“ (Mat 28:17-20). 

6. Warna yang beraneka ragam  

Pama Weta Nara (PWN) punya Warna yang beraneka ragam. Bermacam-macam Warna itu adalah simbol dari keberagaman kita sendiri. Ada imam Keuskupan, ada Biarawan-Barawati, ada Tarekat dan Kongregasi, Bruder, Suster, Frater dengan bermacam-macam karya kita, tidak hanya pada satu tempat dan satu latar belakang budaya, tetapi lagi-lagi semuanya berbeda. Bahkan karakter kita berbeda-beda, pengalaman kita masing-masing berbeda. Cara canda dan tawa kita pun berbeda. 

Nah, ternyata perbedaan warna itu adalah keindahan dari kita bersama atau keindahan dari Pama Weta Nara. Lemasin saja dan nikmati keberagaman yang ada. (Bdk. 1 Ptr 4:11). Akhirnya dalam tutur sederhana, „Kitab ko'o Ngga'e kita baca, Zima tau pama, Ate kita masa, Ndaza ndeka Wara kita siap wangga, supaya Poto Wozo Se'a Ndena sampai pada ketinggian salib Kristus, kita belajar menjadi setia dan berbuah. 

Misa Natal Bersama  

Perayaan Natal Bersama PWN berlangsung di Gereja Paroki Santo Eduardus Nangapanda. Ekaristi dimulai pada pukul 16.30 WIT dihadiri oleh wakil dari keluarga para anggota PWN berjumlah lebih dari 100 orang, sedangkan yang mengikuti secara virtual berjumlah 40 orang. 

Berdasarkan koordinasi langsung dengan Pastor Paroki Santo Eduardus Nangapanda, RD. Son Remi dan beberapa keluarga terdekat para anggota di Nangapanda, maka semua persiapan telah berlangsung dengan baik. Perayaan Natal Bersama dilakukan secara langsung dan ditayangkan secara virtual bagi para anggota dan keluarga yang tidak bisa hadir secara langsung. 

Ekaristi Natal Bersama berlangsung meriah. Koor ditanggung oleh Orang Muda Katolik (OMK) dari Stasi Sungai Yordan Pisombopo. Ekaristi kudus dipimpin oleh RD. Yohanes Don Bosco, Konselebran: RD. Daniel Aka, Rm. Hendrikus Sareng, RD. Son Remi, RD. Fidelis Duá, RD. Mikael Sene, RD. Ciko dan RD. Frengki Sama. 

Dari kiri ke kanan: RD. Ciko, RD. Son Remi (Pastor Paroki), RD. Mikael, RD. Daniel Aka, RD. Don Bosco Jata, RD. Hengki Sareng, RD. Fidelis Duá, RD. Frengki Sama.

Anggota Koor dari Orang Muda Katolik (OMK) dari Stasi Sungai Yordan Pisombopo.

Selain Konselebran, masih ada Frater dan Suster yang hadir langsung yaitu Fr. Walter, BHK dan Sr. Emi, CSV. Khotbah dibawakan oleh P. Eduardus Dosi, SVD. Ada tiga hal mendasar yang disoroti P. Edu dalam khotbahnya: 

Pertama, tentang solidaritas Allah. Kelahiran Yesus Kristus menunjukkan solidaritas Allah kepada manusia. Kesadaran akan solidaritas Allah hendaknya menumbuhkan sikap sadar bahwa Allah senantiasa menyertai dalam setiap jejak panggilan hidup kita. 

Kedua, Allah memanggil. Putra Sulung yang sudah merayakan 35 tahun imamat itu mengatakan, „Allah memanggil ke ruang spiritual dan kita mengalami saat kudus. Saat kudus itu menyentuh kita secara tiba-tiba. Saat kudus itu membawa perubahan yang luar biasa. Sentuhan kudus itu membuat kita bahagia dan semuanya dapat dilihat dengan visi baru, seperti rasul Paulus: „Tuhan, apa yang Kau kehendaki aku perbuat“ (Kisrah 32:10).  

Ketiga, mengikuti panggilan Allah (Kehendak Allah). Dosen Unika Kupang itu kembali menggarisbawahi pentingnya mengikuti kehendak Allah seperti jejak pengikut Kristus Bunda Maria dengan semangat dasar: Fiat (kaul-janji). Maria berani mengatakan „Jadilah padaku menurut perkataan-Mu…“ walaupun ia sendiri belum tahu apa konsekuensi masa depannya. 

Maria menjadi ibu Sang Sabda yang menyimpan semua perkara di dalam hatinya dan mengikuti Yesus sampai di bawah aki salib. Selain Fiat, Magnificat adalah juga semangat Bunda Maria yang memampukannya memuji Allah karena perbuatan besar Allah atas dirinya sebagai Tuhan yang mencintai dan menyelamatkan. Selain semangat Magnificat ada juga Conservabat atau akan menyimpan dalam hati dan merenungkan perkara hidup. 

Semangat Conservabat itu dikaitkan dengan konteks krisis sebagai titik balik dengan dua arah untuk jadi baik atau untuk jadi buruk. Dalam krisis hidup panggilan, P. Edu mengajak agar orang hendaknya mengangkat muka menatap Sang Penyelamat. 

Tuhan akan hadir di tengah kita untuk mendampingi. Ingat bahwa Tuhan bersabda „Jangan takut“ sebanyak 365 kali. „Jangan takut, Aku menyertaimu sampai akhir zaman.“ Di sela-sela refleksi tentang Conservabat itu, P. Edu menekankan juga peran yang sangat penting dari keluarga. Keluarga yang memberikan kesejukan afeksi, mendengarkan, menyembuhkan, menguatkan, mendoakan.   

Semangat berdiri di kaki salibPada kaki salib itu, Maria berdiri dengan tegak, teguh dan tabah. P. Edu dalam refleksi pengalamannya mengatakan ini: 

Kasih setia Tuhan terjalin dalam suka dan duka, keberhasilan dan kegagalan, pujian dan sakit hati, sanjungan dan cibiran, cita-cita dan harapan. Allah telah mengajar dan membentuk diri kita lewat proses hidup dan tugas-tugas yang diemban. Allah telah mengajarkan kehendak-Nya kepada kita lewat pekerjaan / pelayanan kita.“ 

Pada perayaan itu dilakukan juga acara pengukuhan semua pengurus dan penasihat terpilih pada periode pertama. Doa dan Berkat pengukuhan oleh Pastor Paroki Santo Eduardus Nangapanda, RD. Son Remi. 

Selanjutnya P. Adam, OCD selaku Ketua dan Pengurus PMN terpilih menerima doa pengukuhan dan berkat secara virtual. Ada tiga sambutan setelah perayaan itu yakni dari Ketua PWN terpilih, P. Adam, kemudian RD. Daniel Aka sebagai wakil dari Senior PWN yang hadir dan sambutan dari Pastor Paroki Santo Eduardus Nangapanda, RD. Son Remi.

Nada syukur dan terima kasih mewarnai sambutan-sambutan itu dengan harapan bahwa PWN akan menjadi komunitas yang setia dan berbuah. Setelah perayaan Ekaristi Natal Bersama dan Pengukuhan Pengurus, diadakan pula acara resepsi bersama dengan keluarga yang hadir. Keseluruhan acara disiarkan secara langsung dari Gereja Paroki Santo Eduardus Nangapanda melalui channel Youtube Pama Weta Nara. 

Penutup  

Gelora Natal Pama Weta Nara merupakan catatan akhir tahun dari gebrakan pertama Imam, Biarawan-Biarawati dari Paroki Induk Santo Eduardus Nangapanda, Paroki Maria Gunung Karmel Rajawawo, Kuasi Paroki Orakeri dan Kuasi Paroki Kamubheka.   

Sukacita dan kegembiraan Natal Bersama akhirnya bukan saja suatu momen yang kita rayakan bersama sebagai Komunitas Pama Weta Nara (PWN) di dalam gereja, tetapi juga sukacita dan kegembiraan sebagai suatu kesaksian yang hendaknya kita bagikan kepada sesama di tengah dunia. 


Jerman, 31. Desember 2021. ino,O.Carm

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.