2 min dibaca
Misionaris  hingga akhir hayat: Mengenang Romo Kuttschruiter, O.Carm

Romo Kuttschruiter atau lebih akrab Romo Kuttsch adalah missionaris dari Belanda. Sejak ditahbiskannya di Batu-malang tahun 1956 sampai wafatnya berkarya di Provinsi Karmel Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk mengenang kembali karya dan hidup Romo Kuttsch selama menjadi misionaris di Indonesia. Tentu, apa yang ditulis ini hanya sebagian kecil dari kehidupannya dan karya pelayanannya sebagai imam Ordo Karmel. Sorotan penting dari tulisan ini berkaitan dengan cerita umat, kesaksian konfrater sekomunitas dan juga dari yang tertulis pada kartu tahbisan dan misa perdananya.

Berdiri di depan gereja untuk menyapa umat

Ia seorang Romo yang ramah. Ia memiliki kebiasaan menunggu dan menyalami umatnya di depan gereja, demikian juga setelah Ekaristi, ia berdiri di depan gereja untuk mengucapkan selamat hari Minggu. Anak-anak diberkatinya di depan gereja. Keramahtamahannya menarik anak-anak untuk senang menjadi misdinar. „Karena terlalu senang menjadi misdinar sampai malam sebelumnya Nino tidak bisa tidur. Pagi-pagi sudah bangun lalu menyiapkan diri untuk menjadi putra altar pertama kalinya,“ Cerita dari satu keluarga di MBK Jakarta. Lanjutnya, „Itulah pengaruh Romo Kuttsch waktu itu terhadap anak-anak kami.“

Pendukung Marriage Encounter

Keramahtamahannya begitu kuat dalam ingatan dan kenangan umatnya sampai dengan saat ini. Romo Kuttsch sangat mendukung program Marriage Encounter (ME), bahkan ia menganjurkan supaya peserta tidak perlu membayar biaya pendaftaran.

Gagasannya sederhana, semua biaya ditanggung paroki, alasannya karena program ME itu sendiri juga untuk menambah wawasan Umat. Misalnya, tema mengenai „Relasi orang tua dan anak.“ Tegas (L): „Yang kami sangat kagumi, beliau mendukung kegiatan-kegiatan di paroki, asal untuk kemajuan umat MBK. Kami sangat kagum terhadap beliau.“

Romo Kuttsch diakui cukup lama berkarya di paroki MBK. Sebagai Romo Paroki, relasi beliau dengan konfrater serumah pun sangat akrab dan hangat, Misalnya dengan Romo Na Ping Bo alm. Termasuk juga dengan Romo Taman (Romo militer) begitu akrab. Pada zaman itu Romo Kutsch juga menjabat sebagai kepala RT. Setiap kali ada kegiatan ME pasti diizinkan kepala RT. Alasan perizinan itu adalah karena Romo Kuttsch merasakan perubahan yang luar biasa dari Romo pembimbing ME dan juga umatnya.

Retina mata

Sampai akhirnya Romo Kutsch pindah tugas ke kota Malang. Pada waktu itu, ia memiliki problem dengan Retina matanya, makin lama matanya makin terganggu. Sampai berobat, namun tetap tidak bisa tertolong. Dan akhirnya, matanya diganti dengan mata palsu. Lanjutnya, cerita umat Romo Kuttsch:

„Kami sekeluarga pernah berkunjung kesana waktu ada perayaan di sana dan bertemu dengan beliau, ternyata masih ingat dengan kami. Kami merasa senang sekali berjumpa dengan beliau yang masih sehat waktu itu.!

Mengampuni

Sedangkan dari sumber yang lain dari pasangan keluarga Indonesia-Jerman yang juga mengenal Romo Kuttsch menulis seperti ini: Beliau sangat baik, begitu pengasih. Matanya dioperasi cataract di Jakarta dan ternyata gagal OP sehingga harus kehilangan satu mata. Akan tetapi, beliau tidak marah pada Ophthalmologistnya walau memang kesdalahan dari dokter yang operasi. Begitu baik beliau, selalu mendambakan dan merindukan damai bagi komunitas, seorang teladan bagi orang Kristen. Romo Kutsch semakin penuh kasih dan sukacita walau dia sudah total harus dibantu di tempat tidur. Iman yang begitu yang mesti kami ambil sebagai contoh bagi kami. (EF).

Pembimbing rohani

Sementara itu ada kesaksian lain dari seorang Romo Karmel yang pernah lama tinggal bersama dalam satu Komunitas di Malang: „Saya punya pengalaman yang luar biasa bersama romo Kutschruiter,O.Carm. Dia seorang pastor bonus (pastor yang baik), pembimbing rohani bagi religius muda/pemberi retret yang mumpuni, cerdas dan sangat peduli akan perkembangan Ordo. Kritis dan tertib hidup rohaninya. Misionaris hingga akhir hayat. Kami berkarya bersama di paroki Tidar-Malang selama 4 tahun. Usia hidup berbeda, usia imamat dan pengalaman berbeda, namun tetap menjadi saudara yang solid dalam komunitas. Selamat jalan Romo, keteladanan dan nasehat Romo telah menjadi bagian dalam sejarah hidup dan imamatku“ (JT).

Misi dan Maria dalam hidup Romo Kuttsch

Pada tahun 2014 saya pernah menjumpai beliau di paroki Tidar. Dalam pembicaraan pribadi itu, beliau sangat kritis berbicara tentang misi dan situasi Eropa saat ini. Kata yang diulang adalah „Ingat misi di sana itu tidak mudah.“ Suatu hari secara kebetulan, saya menemukan kartu Tahbisannya. Pada kartu tertulis: SPECULUM SINE MACULA DEI MAJESTATIS (Pengorbanan Misa Mahakudus, dihadirkan sebagai cermin murni dari kemuliaan Allah Tritunggal) Lalu pada halaman lainnya tertulis: Ave Maria. Tibi laus, tibi gloria tibi gratiarum actio. (Salam Maria. Pujian dan kemuliaan dan ucapan syukur)

Tulisan latin di atas berkaitan erat dengan konsep Gereja tentang Maria Imakulata. Meskipun didefinisikan sebagai dogma sejak tahun 1854, Dikandung Tanpa Noda adalah salah satu misteri Kekristenan yang tetap misterius tanpa henti, artinya berlimpah makna dan tidak habis-habisnya sebagai subjek kontemplasi yang penuh hormat. Jika seseorang mendekati rahasia ini hanya dengan pisau bedah dengan alasan yang kuat, ini sering kali mengarah pada kehancurannya.

Generasi Kristen di masa lalu tahu bahwa dalam domestikasi ada bahaya tertentu karena mengabaikan kasih Tuhan yang indah dan sukarela bagi Maria dan melalui dia untuk kita masing-masing. Jadi mereka mencari cara untuk menggambarkan sifat misterius dari Dikandung Tanpa Noda daripada mendefinisikan dogma secara abstrak. Mereka menggunakan bahasa puisi dan lukisan. Beberapa ungkapan itu termasuk yang menjadi moto dari Romo Kutschruiter:

Maria adalah cerminan sempurna dari cahaya Tuhan. Dia benar-benar fokus pada Kristus Putranya. Dialah yang meremukkan kepala naga. Di dalam dirinya, Putra Allah menjadi manusia. Dia adalah ambang batas antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Dari kartu tahbisan dan misa perdana di Batu, Java 10-11 Juni 1956 ini dan secara khusus dari hidup dan kesaksian konfrater dan umat terlihat jelas bahwa Romo Kutschruiter memiliki kedekatan dengan Maria secara khusus Maria Imakulata.

Demikian beberapa poin cerita dan refleksi kecil untuk mengenang Romo Kuttschruiter, O.Carm, Sang Misionaris sampai akhir hayat di Indonesia. Terima kasih Romo Kuttschruiter dan bahagia abadi di Surga.

Rm. Ino, O.Carm


Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.