5 min dibaca
Mau Menjadi Penengah Konflik, Jangan Lupa 2 Cara Ini

Suara Keheningan | Ino Sigaze

Baca Artikel aslinya di sini: Mau Menjadi Penengah Konflik, Jangan Lupa 2 Cara Ini Halaman 1 - Kompasiana.com 

Apa jadinya jika punya niat sebagai mediator, tetapi hanya bisa pegang tangan salah satunya. Bahkan bukan cuma pegang tangan salah satunya saja, tetapi kita beri "batu" untuknya. 

Setiap orang dewasa pasti punya pengalaman menjadi seorang penengah bagi pihak lain yang sedang berselisih. Ulasan ini berangkat dari pengalaman pribadi menjadi penengah dalam konteks perselisihan sehari-hari. Ada 2 peristiwa yang memberikan saya suatu cara pandang tentang bagaimana menjadi seorang penengah yang bisa mendamaikan orang lain.

Dari dua peristiwa itulah, saya belajar bukan dari teori yang pernah ditulis orang, tetapi dari peristiwa dan pengalaman terlibat langsung.

Peristiwa pertama: perselisihan antara om dan keponakannya

Di sebuah kampung hidup berdampingan rumah antara om dan keponakannya yang sudah berkeluarga. Om itu sebut saja dengan nama om Marsel, sedangkan ponakannya sebut saja Tino. 

Tino karena sebagai tetangga, kadang-kadang berusaha mendengar omongan omnya Marsel. Namun, namanya dengar dari rumah sebelah, jadi kadang tidak jelas. Suatu waktu pada tahun 2010. Om Marsel marah-marah di rumahnya, gara-gara kambing masuk ke kebun dan memakan tanamannya. Tino memang punya kambing, karena tersinggung. Lalu, Tino keluar dari rumahnya dan berteriak sambil maki-maki. 

Kemudian, om Marsel yang mendengar Tino pun tersinggung. Keduanya bahkan beradu mulut, nyaris adu fisik. Saya mendengar suara ribut itu penasaran dan datang mendekati tempat kejadian. Ternyata om Marsel dan Tino sedang bertengkar. Kata hati saya, "biasa keduanya bukan cuma kali ini, tetapi sudah berulang-ulang kali." Ketika saya datang, keduanya mulai diam dan masuk rumah mereka masing-masing. 

Namun maki-maki masih saja terdengar dari rumah masing-masing. Saya yang mendengar sungguh merasa sangat tidak enak. Hal ini, karena keduanya saya kenal baik.

Di rumah om Marsel sama sekali tidak ada kesulitan. Om Marsel dengan senang hati menerima undangan untuk penyelesaian persoalan itu, bahkan dengan cepat berangkat ke rumah bapak August.

Apa yang saya lakukan sebagai penengah?

1. Saya mendatangi pemuka di kampung itu untuk memberi tahu bahwa baru saja ada kejadian perselisihan antara om Marsel dan Tino.

2. Saya menawarkan agar om Marsel dan Tino didatangkan ke rumah pemuka adat itu. Beliau sangat setuju.
3. Saya sendiri harus mengundang keduanya. Saya masuk rumah mereka duduk dan berbicara dengan akrab. 

Anehnya semua orang di kampung melarang saya supaya jangan ke rumah Tino, karena Timo sedang mengasah parang. Saya tetap saja nekat pergi mengajak Tino. Dari jarak 10 Meter Tino melihat saya, ia langsung masuk kedalam kamar rumahnya sambil membawa parang. 

Tiba-tiba terdengar suara tangisan Tino. Ia merasa tidak pantas bahwa saya datang ke rumahnya. Dia gemetaran dan menangis sejadi-jadinya. Saya terus mendekati Tino. Saya hanya panggil namanya,  "Tino, jangan takut, saya datang untuk mengajakmu bicara baik-baik dengan om Marsel." 

Tino waktu itu ketakutan luar biasa, badannya gemetar saat saya memegang bahunya. Saya tidak tahu, entah kenapa."Ayolah Tino sekarang kita ke rumah bapak August untuk selesaikan hal ini," ajak saya sekali lagi. Tino akhirnya mau mengikuti ajakan saya. Ia merasa bersalah sekali, saat saya masuk ke dalam rumahnya tanpa jamuan segelas kopi sebagaimana layak cara terbaik menerima tamu ala orang - orang di kampung. Dalam perjalanan menuju rumah Bapak August, tampak Tino sangat tenang. 

Ketika masuk rumah bapak August, Tino melihat om Marsel, namun masih tanpa reaksi apa-apa. Bapak August meminta bantuan beberapa orang termasuk anak dari Tino untuk pergi lihat di kebun om Marsel untuk mencari tahu sebenarnya kambing yang masuk kebun itu punya siapa. Ternyata, disampaikan termasuk oleh anaknya Tino bahwa kambing itu bukan punya Tino.

Meskipun demikian, Tino punya kesalahan karena memaki om Marsel. Syukurlah waktu itu Tino dengan rendah hati meminta maaf kepada om Marsel. Apa jadinya, jika Tino tidak mau datang ke rumah bapak August? Atau apa jadinya, jika tidak ada satu orangpun yang berani masuk rumah Tino untuk mengajaknya? Perselisihan akan tetap berkepanjangan, karena tanpa ada upaya damai.

Pesan dari pendekatan pribadi: Bukan hanya konfirmasi terkait kebenaran, tetapi juga suatu kunjungan kekeluargaan "masuk ke dalam rumah"

Poin penting dari langkah penyelesaian peristiwa pertama ini adalah tidak hanya bahwa konfirmasi terkait kebenaran di lapangan itu seperti apa, tetapi penengah perlu masuk kedalam rumah dari orang-orang yang berselisih.

Tanpa masuk ke dalam rumah kedua pihak, maka tidak mungkin ada gagasan yang bisa mengajak untuk duduk bersama dan berbicara tentang kebenaran. Masuk ke dalam rumah mereka bagi saya adalah saat terpenting yang seringkali tidak dianggap penting. 

Menerima tamu dan tuntutan keramahtamahan bagi sebagian besar orang itu adalah nilai yang telah membudaya. Jarang bahwa tuan rumah menolak orang yang datang berkunjung ke rumahnya. 

Menerima tamu dan memberi tamu makan adalah bagian dari rezeki dalam keyakinan adat beberapa suku di Indonesia. Masuk ke dalam rumah orang akan terasa sama dengan masuk ke dalam relung hati mereka yang terdalam. Masuk ke dalam rumah itulah yang meluluhkan  amarah. 

Pernahkah Anda merasakan hal seperti itu? Masuk ke dalam rumah itu adalah suatu kebahagian bagi tuan rumah. Bahkan ada pengalaman timbal balik saat masuk ke dalam rumah. Sebagai tamu merasa berharga, jika dia diterima.

Sedang sebagai tuan rumah yang menerima tamu, selalu dituntut secara alam oleh hati nurani dan rasa cinta untuk menerima orang lain. Saya yakin cara "masuk ke dalam rumah mereka" itu cara paling sederhana dan paling efektif dalam meredakan perselisihan. Tentu, bukan kotbah, bukan opini ilmiah, teori konflik dan lain sebagainya.

Untuk sampai masuk ke dalam rumah orang, diperlukan keberanian dan ketulusan. Pancaran keberanian, niat baik dan ketulusan itu jauh lebih mengubah arah daripada ancaman dan tekanan psikis lainnya. Rasa kekeluargaan itu justru tumbuh saat kita bisa saling mengunjungi atau "masuk ke dalam rumah orang.

Tentu masuk ke dalam rumah orang dengan etika dan sopan santun untuk maksud yang baik.Nah, hal itu ternyata sangat sulit. Kebanyakan, jika ada persoalan malah kita saling menjauh atau tidak pernah bisa masuk rumah orang yang kita musuhi atau sebaliknya.

Saya mau mengatakan bahwa jika tanpa ada komunikasi akrab dengan orang lain, seakan-akan kita serumah, bagaimana mungkin kita bisa mengubah sikapnya.

Mungkin penting sekali bahwa orang perlu mengubah cara berpikir yang menuntut orang lain berubah. Sebelum menuntut orang lain, biarkanlah sendiri belajar mengubah dirinya. 

Peristiwa kedua: berhadapan dengan orang dari negara lain

Saya masih ingat pada tahun 2017, siang itu duduk di meja makan, saya dan ketiga teman saya sebut saja, Nikoberg, Blumen, dan Sandra. Kami berempat pernah berkenalan dalam suatu kursus bahasa Spanyol.Sandra adalah guru bahasa Spanyol. 

Nikoberg sudah bisa berbicara bahasa Spanyol, sedang yang baru belajar beberapa bulan adalah Blumen dan saya. Setelah selesai makan siang, kami duduk menikmati kopi sambil membahas kembali suatu tema dalam bahasa Spanyol. 

Nikoberg merasa diri sudah lebih tahu akhirnya menjelaskan panjang lebar, sampai Blumen merasa kehilangan kesempatan bagi dirinya dan Sandra untuk menjelaskan yang sebenarnya. Blumen tidak lama kemudian marah besar. Saya begitu terkejut dan sama sekali tidak menduga bahwa Blumen begitu marah. 

Terus terang, baru pertama saya melihat bule marah sehebat itu.Sandra dan saya hanya berusaha menenangkan suasana itu. Pertengkaran itu berhenti sebentar di meja makan. Sandra dan saya mengira sudah aman. Nikoberg lebih dahulu ke kelas dan saya kira Blumen yang hari itu mengikuti kelas bahasa Perancis, tidak akan mampir lagi ke ruangan sebelahnya di mana Nikoberg itu berada.

Ternyata Blumen datang lagi dan mengamuk untuk kedua kalinya. Dalam suasana kehilangan akal sebenarnya, saya berdiri memanggil nama mereka satu persatu, dengan permintaan tolong dengarkan saya.Keduanya berhenti, namun dengan tatapan yang masih menahan amarah. 

Saya memegang tangan Nikoberg dan Blumen, sambil mengatakan kepada mereka, "Maafkan saya. Di sini, sekarang ini saya adalah orang asing. Saya datang untuk belajar di tempat Anda tentang segala sesuatu yang baik. Namun, hari ini saya melihat kebencian dan kemarahan. Bagi saya hal ini sungguh memalukan. Tolonglah, tunjukkan pada saya bahwa negeri Anda adalah negeri yang damai." 

Sandra spontan berdiri dan memegang tangan Nikoberg dan Blumen. Kami sekejap terdiam hampir tiga menit tanpa kata-kata.Nikoberg dan Blumen tiba-tiba berpelukan, saling meminta maaf sambil meneteskan air mata karena terharu. Keduanya lalu meminta maaf kepada Sandra dan saya.

Kisah itu tetap saya ingat sebagai suatu kenangan indah bahwa pernah ada pengalaman mendamaikan orang asing di negeri asing. Pesan dari peristiwa kedua ini adalah keseriusan menangani perselisihan harus disertai dengan sentuhan kasih dan kelembutan. Berani menghubungkan kedua pihak yang berselisih dan berani memberikan energi positif untuk keduanya

Kehadiran yang netral itu ternyata memberikan energi ketenangan bukan saja untuk satu pihak, tetapi juga untuk pihak lainnya. Adakah rahasia dibalik sentuhan dan genggaman tangan? Orang yang sedang berselisih tidak akan mungkin bisa bersentuhan tangan secara tenang, maka peran dari pendamai adalah menghubungkan tangan kedua pihak itu.

Saya baru menyadari betapa berartinya saat orang mengatakan "kita berdamai" disertai dengan genggaman tangan dan bahkan dengan pelukan kasih sayang.Nah, bagaimana caranya jika keduanya tidak bisa saling dekat untuk berpegang tangan

Mungkin ini hanya sebuah sudut pandang tentang peran mediator. Mediator yang baik bagi saya tidak lepas dari cerita keberaniannya untuk netral memegang tangan kedua yang berselisih, sambil mengalirkan energi ketenangan dan damai.

Apa jadinya jika punya niat sebagai mediator, tetapi hanya bisa pegang tangan salah satunya. Bahkan bukan cuma pegang tangan salah satunya saja, tetapi kita beri "batu" untuknya. Semua cita-cita dan harapan untuk penyelesaian perselisihan tidak akan tercapai dengan baik, tanpa dua hal ini:

1. Tanpa kunjungan kekeluargaan dengan pendekatan "masuk ke dalam rumahnya." Bisa juga sih kalau kita beri nama jika tanpa silaturahmi. 

2. Tanpa pernah berpegang tangan dengan hati yang penuh ketenangan. 

Tantangan terberat adalah apakah mungkin pihak yang prihatin dan peduli dengan persoalan orang lain itu masuk ke dalam pergulatan dan cara pandang tentang kunjungan kekeluargaan yang disertai dengan keramahtamahan.

Apakah mungkin pihak mediator tetap bersikap netral dengan visi yang tulus menggandeng tangan-tangan yang berselisih untuk membagikan energi kedamaian dengan tulus dan benar?Demikian ulasan kecil dari pengalaman konkret saya. 

Tentu solusi dan pendekatan dalam setiap persoalan yang kita hadapi bisa berbeda-beda. Dua pengalaman itu cuma mengajarkan hal-hal yang sederhana untuk damai dan pemulihan hubungan.Ternyata begitu sederhana cara mengubah suasana keruh dalam kehidupan sehari-hari kita. 

Namun, mungkin belum bisa sederhana untuk melakukannya dengan hati tulus seperti yang dibayangkan. Mungkin kita perlu berbagi dari cara dan pengalaman kita masing-masing, bagaimana mengubah selisih menjadi damai.

Salam berbagi, ino, 21.05.2021.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.