2 min dibaca
23 Feb
23Feb

Suara Keheningan | Titus Brandsma

Titus Brandsma lahir dengan sebutan sebagai Anno Sjoerd Brandsma pada tanggal 23 Februari 1881 di dekat Bolsward dan memasuki ordo Karmelit pada tahun 1898.

Pada tahun 1905 ia ditahbiskan menjadi imam, dan pada tahun 1909 ia menerima gelar doktor dalam bidang filsafat di Roma. Sejak 1923 ia menjadi profesor filsafat dan mistisisme di Universitas Katolik Nijmegen.

Hubungan pribadi manusia dengan Tuhan adalah hal yang dekat dengan hatinya. Kehidupan kontemplatifnya juga mempertajam kesadarannya akan realitas di sekitarnya. Ia mengkampanyekan emansipasi umat Katolik Belanda dan Frisia, khususnya di bidang jurnalistik, pelajaran dan pengajaran, dan tentang spiritualitas.

Dia terbuka untuk siapa saja yang meminta bantuan dan dukungannya. Tidak ada orang yang setelah bertemu dengannya pergi dengan tangan kosong. Apa yang dilaukannya menunjukkan bahwa ia adalah seorang pria damai bagi dunia.

Sejak tahun 1930-an, Titus Brandsma telah memperingatkan bahaya kebangkitan Sosialisme Nasional. Selama pendudukan Belanda, ia menentang tindakan yang semakin membatasi kebebasan beragama, kebebasan mengajar dan kebebasan jurnalis.

Pada 19 Februari 1942, ia ditangkap oleh Gestapo dan dituduh melakukan sabotase. Setelah menghabiskan waktu di penjara di Scheveningen, Amersfoort dan Kleve, dia akhirnya dikirim ke kamp konsentrasi Dachau.

Dia tidak mengenal kebencian, hanya kebaikan, bahkan terhadap algojonya, dia dengan tenang menerima penderitaan dan kematiannya dari tangan Tuhan. Ia meninggal di kamp konsentrasi Dachau pada 26 Juli 1942. Ia dibeatifikasi pada 3 November 1985. Proses kanonik untuk kanonisasinya berjalan dengan baik (per Agustus 2021). Hettie Berflo.


Original Text:

Titus Brandsma Fr wurde als Anno Sjoerd Brandsma am 23. Februar 1881 nahe bei Bolsward geboren und trat 1898 in den Orden der Karmeliten ein.

1905 empfing er die Priesterweihe, 1909 promovierte er in Rom zum Doktor der Philosophie. Ab 1923 war er an der Katholischen Universität Nimwegen Professor für Philosophie und Mystik. 

Die persönliche Gottesbeziehung der Menschen war ihm eine Herzensangelegenheit. Sein kontemplatives Leben schärfte seinen Blick auch für die Wirklichkeit um ihn herum. Er setzte sich für die Emanzipation der niederländischen und friesischen Katholiken ein, inbesondere, wo es um die Bereiche Journalismus, Unterricht und Lehre, und um Spiritualität ging. 

Er war offen für jeden Menschen, der ihn um Hilfe und Unterstützung bat. Keiner, der sich an ihn wandte, ging leer aus. Er ging als ein Mann des Friedens durch die Welt.

Seit den 1930er Jahren warnte Titus Brandsma vor der Gefahr des aufkommenden Nationalsozialismus. Während der Besetzung der Niederlande widersetzte er sich den Maßnahmen, die die Religions- und Lehrfreiheit sowie die Freiheit der Journalisten immer mehr einschränkten.

Am 19. Februar 1942 wurde er von der Gestapo festgenommen und der Sabotage beschuldigt. Nach Gefängnisaufenthalten in Scheveningen, Amersfoort und Kleve kam er schließlich in das Konzentrationslager Dachau. 

Er kannte keinen Hass, nur Güte, auch gegenüber seinen Henkern, Sein Leiden und seinen Tod nahm er gelassen an aus Gottes Hand. Er starb im Konzentrationslager Dachau am 26. Juli 1942. Am 3. November 1985 wurde er seliggesprochen. Das kanonische Verfahren zu seiner Heiligsprechung ist weit fortgeschritten (Stand: August 2021).

Hettie Berflo

21Feb
Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.