6 menit waktu baca
Yang Satu Harus Dilakukan, Yang Lain Jangan Diabaikan
Suara Keheningan | RP. Inosensius Ino, O.Carm

Dalam situasi bencana, manusia sering berdiri di antara dua kebutuhan besar: entah menyelamatkan kehidupan dan menyelamatkan jiwa; membangun kembali rumah yang roboh sekaligus membangun kembali hati yang runtuh. Ada rasa tanggung jawab untuk di satu sisi kita mengulurkan tangan kepada mereka yang lapar, mencari tempat aman bagi mereka yang kehilangan rumah, membersihkan puing-puing, dan menghadirkan pertolongan nyata, tetapi bagaimana dengan pertolongan yang bisa menyentuh dimensi batin mereka. Ya, yang satu harus dilakukan, tetapi yang lain jangan diabaikan.

Yesus mengingatkan kita: “Yang satu harus dilakukan, tetapi yang lain jangan diabaikan.” Kasih kepada sesama tidak pernah boleh dipisahkan dari kasih kepada Allah. Sebab bantuan yang hanya menyentuh tubuh tetapi tidak menyentuh hati dapat menjadi pertolongan yang cepat berlalu dan mudah dilupkan; demikian juga doa yang tidak melahirkan kepedulian dapat kehilangan wajah kasihnya yang nyata.

Dalam situasi bencana, kita tidak dipanggil hanya untuk menjadi tangan yang menolong dan menopang, tetapi juga menjadi hati yang berdoa dan mendengarkan. Kita tidak cukup hanya mengangkat puing-puing dari rumah yang roboh; kita juga dipanggil untuk mengangkat kembali harapan orang yang kehilangan keberanian. Kita tidak hanya memberi makanan kepada yang lapar, tetapi juga menghadirkan keyakinan bahwa mereka tidak berjalan sendirian.

Di sinilah kata-kata Santa Teresa dari Avila menjadi sangat berarti: “Nada te turbe, nada te espante; todo se pasa, Dios no se muda. La paciencia todo lo alcanza. Quien a Dios tiene, nada le falta. Sólo Dios basta.” “Janganlah sesuatu menggelisahkanmu, janganlah sesuatu menakutkanmu; segala sesuatu berlalu, Allah tidak berubah. Kesabaran memperoleh segalanya. Barangsiapa memiliki Allah, ia tidak kekurangan apa pun. Hanya Allah yang cukup.”

Ketika tanah, bangunan bahkan gunung-gunung berguncang dan segala sesuatu yang kita anggap kokoh tiba-tiba menjadi rapuh, iman mengajarkan kita bahwa ada satu dasar yang tidak ikut runtuh yakni Allah sendiri. Keyakinan ini bukan alasan untuk menjadi pribadi yang pasif. Justru karena kita percaya kepada Allah, maka tangan kita terdorong untuk bekerja, kaki kita berani mendatangi mereka yang menderita, dan hati kita terbuka untuk berbagi dan berdoa bersama mereka letih karena kehilangan banyak hal.

Santo Yohanes dari Salib mengajarkan bahwa jalan menuju Allah sering kali melewati malam. Bencana dapat menjadi “malam” bagi banyak orang: Ada malam ketakutan, malam kehilangan, malam-malam kesepian, dan ketidakpastian. Namun malam tidak selalu berarti Allah telah meninggalkan kita. Kadang-kadang, justru dalam kegelapan itulah iman dimurnikan dan manusia belajar melihat cahaya dengan cara yang baru. Hati terbuka untuk membantu sesama yang lain tanpa pandang apa latar belakang mereka.

Maka, ketika seseorang kehilangan rumah, jangan hanya memberinya tempat berteduh; berikan juga rasa bahwa ia masih memiliki keluarga dan saudara. Ketika seseorang kehilangan harta, jangan hanya membantunya memenuhi kebutuhan; pulihkan juga martabat dan harapannya. Ketika seseorang menangis karena kehilangan, jangan buru-buru mencari kata-kata penghiburan; hadirlah dan menangislah bersamanya. 

Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus mengajarkan kepada kita jalan kecil: melakukan perkara-perkara sederhana dengan kasih yang besar. Dalam situasi bencana, jalan kecil itu menjadi sangat nyata: segelas air, sebungkus makanan, sebuah selimut, sebuah pelukan, telinga yang mau mendengarkan, dan doa yang senyap dipanjatkan. Perkara-perkara kecil itu mungkin tampak sederhana, tetapi di tangan kasih, semuanya dapat menjadi bahasa Allah bagi mereka yang terluka.

Karena itu, spiritualitas dalam situasi bencana bukanlah melarikan diri dari kenyataan menuju doa, dan bukan pula tenggelam dalam kesibukan bantuan sampai melupakan Tuhan. Spiritualitasnya adalah menyatukan keduanya: tangan yang bekerja dan hati yang berdoa; kepedulian kepada manusia dan kepercayaan kepada Allah; keberanian menghadapi kenyataan dan keteguhan memelihara harapan.

Yang satu harus dilakukan, tetapi yang lain jangan diabaikan. Kita harus membangun kembali rumah, tetapi jangan lupa membangun kembali hati. Kita harus menyediakan makanan bagi tubuh, tetapi jangan lupa memberi makanan bagi jiwa. Kita perlu membersihkan puing-puing bencana, tetapi jangan membiarkan puing-puing kepahitan memenuhi hati.

Sebab mungkin saja setelah bencana berlalu, rumah-rumah kembali berdiri, jalan-jalan kembali terbuka, dan kehidupan perlahan menjadi normal. Tetapi yang paling penting adalah apakah hati manusia juga telah menemukan kembali harapannya. Pada akhirnya, iman mengajarkan kita untuk bekerja seolah-olah semuanya bergantung pada kita, tetapi berdoa seolah-olah semuanya berada dalam tangan Tuhan. Kita menolong dengan seluruh kekuatan yang kita miliki, tetapi kita tetap sadar bahwa kekuatan terakhir berasal dari-Nya. Dan ketika segala sesuatu terasa terlalu berat, kita kembali kepada bisikan sederhana Santa Teresa dari Avila: “Sólo Dios basta.” — Hanya Allah yang cukup. 

Ketika rumah runtuh, Allah tetap menjadi rumah bagi hati. Ketika tanah berguncang, Allah tetap menjadi dasar. Ketika harapan hampir padam, Allah tetap menjadi cahaya. Yang satu harus dilakukan, tetapi yang lain jangan diabaikan: tangan kita menolong, hati kita berdoa, dan seluruh hidup kita berserah kepada Allah yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya.

Salam kuru tuu fara sambi, 25 Agustus 2026.

Komentar
* Email tidak akan ditampilkan di situs web.