9 menit waktu baca
Investasi Terbaik Bukan Pesta, Melainkan Pendidikan Anak
Suara Keheningan | RP. Inosensius Ino, O.Carm

Pengantar

Ada suara-suara yang hanya terdengar semalam, lalu lenyap bersama embun pagi. Ada pula suara yang terus bergema melintasi tahun-tahun, hidup dalam kenangan, keputusan, dan masa depan seseorang. Pesta adalah salah satu suara yang cepat berlalu. Ia menghadirkan kegembiraan, keramaian, tawa, dan tepuk tangan. Namun ketika musik berhenti dan para tamu pulang, yang tersisa sering kali hanyalah kenangan dan cerita. Berbeda dengan pendidikan. Ia bekerja dalam diam seperti akar yang tumbuh jauh di dalam tanah. Ia tidak selalu tampak, tidak selalu dirayakan, dan sering kali menuntut kesabaran yang panjang. Namun dari akar yang tersembunyi itulah tumbuh pohon kehidupan yang kokoh, yang suatu hari memberi naungan, buah, dan harapan bagi banyak orang. 

Di tengah budaya yang kadang lebih menghargai kemeriahan sesaat daripada pembangunan manusia, kita perlu bertanya dengan jujur: apakah yang sungguh akan bertahan ketika waktu terus berjalan? Apakah yang akan menjadi warisan bagi anak-anak kita? Sebuah pesta yang dikenang beberapa hari, atau pendidikan yang membentuk jalan hidup mereka sepanjang usia? 

Tulisan ini lahir dari kegelisahan sekaligus harapan. Kegelisahan karena tidak sedikit keluarga rela mengorbankan masa depan anak demi memenuhi tuntutan gengsi sosial dan perayaan yang berlebihan. Namun juga harapan, karena selalu ada keluarga-keluarga yang memilih menabur benih pendidikan meskipun harus menahan diri dari berbagai kemewahan. Sebab mereka memahami satu kebenaran sederhana: masa depan tidak dibangun oleh apa yang dihabiskan hari ini, melainkan oleh apa yang ditanam dengan kasih, pengorbanan, dan kebijaksanaan. 

Maka, marilah kita menelusuri bersama alasan-alasan teologis, biblis, sosial, ekonomis dan perspektif Gereja lokal yang menunjukkan bahwa investasi terbesar yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anaknya bukanlah kemegahan pesta, melainkan kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan seluruh potensi yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka. Sebab di sanalah sesungguhnya harapan sebuah keluarga, Gereja, dan bangsa sedang dipersiapkan. 

Di banyak tempat, keluarga sering menghabiskan dana yang besar untuk pesta, perayaan, atau acara seremonial yang berlangsung hanya beberapa jam. Sebaliknya, pendidikan anak kadang terabaikan karena dianggap dapat ditunda. Padahal, dari perspektif teologis, biblis, sosial, ekonomi, dan gereja lokal memperlihatkan dengan jelas bahwa pendidikan anak merupakan investasi yang jauh lebih bernilai daripada kemeriahan sesaat. 

Mari kita lihat beberapa pendekatan berikut ini: Secara biblis, Kitab Suci menegaskan pentingnya pendidikan. “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya” (Amsal 22:6). Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan pembentukan karakter dan iman. Dalam tradisi Gereja, pendidikan dipandang sebagai partisipasi orang tua dalam karya penciptaan Allah. Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa keluarga adalah “sekolah pertama keutamaan sosial” (Familiaris Consortio, Vatican Publishing House, 1981, no. 36). 

Dari sudut teologi, pendidikan adalah bentuk tanggung jawab moral orang tua terhadap masa depan anak. Thomas Aquinas menegaskan bahwa tugas orang tua tidak berhenti pada melahirkan anak, tetapi juga membimbing mereka menuju kehidupan yang baik (Summa Theologiae, Benziger Brothers, 1947, II-II, q.10). Secara sosial, pendidikan membuka peluang mobilitas sosial dan memutus rantai kemiskinan. Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed (Continuum, 1970, hlm. 35) menyatakan bahwa pendidikan adalah sarana pembebasan manusia dari berbagai bentuk ketertindasan. 

Dari perspektif ekonomi, investasi pendidikan menghasilkan manfaat jangka panjang. Theodore W. Schultz dalam Investment in Human Capital (The Free Press, 1971, hlm. 26–27) menunjukkan bahwa pendidikan meningkatkan produktivitas, pendapatan, dan kualitas hidup seseorang. Sementara pesta hanya menghasilkan kenangan, pendidikan menghasilkan kemampuan yang terus bertumbuh sepanjang hidup. Karena itu, keluarga yang bijaksana akan menempatkan pendidikan anak sebagai prioritas utama. Uang yang dihabiskan untuk pesta akan habis dalam sehari, tetapi biaya yang ditanamkan untuk pendidikan akan berbuah seumur hidup. Pendidikan bukan pengeluaran, melainkan investasi paling mulia demi masa depan anak, keluarga, Gereja, dan masyarakat. 

Perspektif Gereja lokal juga memperkuat pentingnya pendidikan dibandingkan pesta pora. Dalam Surat Gembala Uskup Maumere tentang “KBG sebagai Rumah Bersama Menuju Pendidikan yang Berkualitas,” Uskup mengajak umat menjadikan Komunitas Basis Gerejawi (KBG) sebagai ruang pembinaan iman, karakter, budaya belajar, dan solidaritas sosial. (Surat Gembala Uskup Maumere pada bulan Pendidikan Nasional 2026) 

Pendidikan dipahami bukan hanya sebagai tanggung jawab sekolah, melainkan tugas seluruh komunitas beriman. Melalui KBG, orang tua didorong untuk lebih memperhatikan perkembangan intelektual, moral, dan spiritual anak-anak daripada menghabiskan sumber daya untuk kegiatan seremonial yang kurang berdampak bagi masa depan. Dengan demikian, keluarga yang mengutamakan pendidikan sesungguhnya sedang membangun peradaban kasih, menciptakan generasi yang beriman, cerdas, berkarakter, dan mampu membawa kesejahteraan bagi Gereja serta masyarakat.

Selain menguras sumber daya ekonomi keluarga, pesta pora yang berlebihan sering kali menimbulkan dampak sosial yang merugikan masyarakat. Dalam banyak kasus, pesta yang disertai konsumsi minuman keras berujung pada kemabukan, perkelahian, keributan, kecelakaan lalu lintas, serta gangguan ketertiban umum. Akibatnya, masyarakat sekitar kehilangan rasa aman dan nyaman. Karena itu, tanggung jawab sosial menuntut setiap keluarga untuk mempertimbangkan dampak sebuah pesta terhadap lingkungan. 

Negara pun menegaskan hal ini melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP. Pasal 316 ayat (1) menyatakan bahwa setiap orang yang mabuk di tempat umum dan mengganggu ketertiban atau mengancam keselamatan orang lain dapat dipidana dengan denda kategori II. Selain itu, tindakan yang menghalangi kebebasan bergerak orang lain di jalan umum juga dapat dikenakan sanksi sebagaimana diatur dalam Pasal 317 KUHP. Dengan demikian, memilih menginvestasikan dana untuk pendidikan anak daripada pesta yang berpotensi menimbulkan kemabukan dan kekacauan bukan hanya keputusan ekonomis yang bijaksana, tetapi juga tindakan moral dan sosial yang mendukung terciptanya ketertiban, keamanan, dan kesejahteraan bersama. 

Tokoh pendidikan Jerman, Wilhelm von Humboldt menulis seperti ini: „Der wahre Zweck des Menschen ist die höchste und proportionierlichste Bildung seiner Kräfte zu einem Ganzen.“

(Tujuan sejati manusia adalah mengembangkan seluruh kemampuannya secara utuh dan seimbang.) — Wilhelm von Humboldt, Ideen zu einem Versuch, die Grenzen der Wirksamkeit des Staates zu bestimmen, Berlin: Behr, 1851, hlm. 13.

Kutipan ini menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar sarana memperoleh pekerjaan atau penghasilan, melainkan proses pembentukan manusia seutuhnya. Karena itu, setiap pengorbanan yang diberikan orang tua demi pendidikan anak sesungguhnya adalah investasi untuk membangun pribadi yang matang, bermoral, beriman, dan mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat. Sebaliknya, pesta yang hanya berlangsung sesaat akan segera berlalu, sedangkan pendidikan membentuk kualitas hidup seseorang sepanjang hayat dan bahkan menentukan masa depan suatu bangsa.

 Penutup 

Pada akhirnya, pesta hanyalah cahaya lampu yang berkilau sesaat di tengah malam, lalu padam ketika fajar menyingsing. Musik akan berhenti, tenda akan dibongkar, dan jejak kaki para tamu perlahan hilang ditelan waktu. Namun pendidikan adalah pelita yang tetap menyala ketika keramaian telah usai. Ia menerangi jalan seorang anak melintasi musim-musim kehidupan, bahkan ketika orang tuanya telah tiada. 

Karena itu, janganlah kita dikenang karena kemegahan pesta yang pernah kita adakan, melainkan karena anak-anak yang berhasil kita didik menjadi manusia yang beriman, berkarakter, dan berguna bagi sesama. Sebab warisan terbesar bukanlah apa yang kita habiskan dalam sehari, melainkan apa yang kita tanam untuk bertumbuh sepanjang generasi. Pesta akan menjadi kenangan, tetapi pendidikan akan menjadi masa depan. Dan masa depan selalu lahir dari keberanian untuk memilih yang bernilai kekal daripada yang sekadar meriah sesaat.

Komentar
* Email tidak akan ditampilkan di situs web.