1 min dibaca
28 Oct
28Oct
Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Pada hari Kasada, banyak orang pergi ke gunung Bromo. Mereka datang untuk merayakan atau menonton upacara Yadnya Kasada yang dilakukan Suku Tengger sejak zaman Majapahit.
Upacara ini diselenggarakan dengan mempersembahkan hasil ternak dan pertanian. 

Persembahan itu ditumbalkan untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Tengger.
Banyak masyarakat mengenal adanya tumbal yang sering dikorbankan untuk kepentingan tertentu. Menumbalkan seekor kerbau untuk pembangunan suatu proyek, misalnya. Sebagian proyek gagal, karena tidak disertai tumbal. Demikian mereka berteori.

Tumbal biasa dikorbankan untuk kepentingan yang lebih besar. Seekor kerbau untuk keselamatan seluruh suku. Yang ditumbalkan umumnya bersikap pasif, diam, dan pasrah. Diamnya sering misterius; penuh tanda tanya.

Hingga kini, tradisi mengorbankan tumbal itu masih dikenal. Untuk meraih tujuan yang amat berharga dan penting, hal itu mesti dilakukan. Latar belakang, motivasi, proses, dan caranya sering membingungkan dan membuat heboh warga masyarakat.

Dalam jagat digital tanggapan dan opini warga tentang hal itu viral. Banyak pihak melontarkan teori mau menanggapi. Namun, tidak sedikit dari mereka yang terkesan salah mengerti dan gagal dalam menginterpretasi.

Isu politik dinasti yang kini sedang melanda seluruh negeri juga dikaitkan dengan tumbal. Teorinya, ada pihak yang sedang ditumbalkan di tengah hiruk pikuk politik dinasti.

Jika itu benar, tumbal tidak hanya ada dan dikorbankan di kalangan masyarakat tradisional seperti Suku Tengger. Masyarakat modern yang berdemokrasi pun dalam politiknya menggunakan pula tumbal. Rupanya, banyak orang percaya ada tumbal-tumbal sepanjang zaman.

Salam dan Tuhan memberkati.
Jumat, 27 Oktober 2023AlherwantaRenalam 293/23

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.