1 min dibaca
05 Feb
05Feb

Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Di banyak tempat orang bisa mengalami kuasa ilahi. Terbebas secara mengherankan dari bencana yang memakan ribuan korban, orang merasa mengalami tangan Tuhan.

Menyaksikan keindahan alam orang bisa sadar akan keagungan Tuhan. Berdiri di hadapan Tuhan manusia melihat secara terang benderang dirinya sebagai pendosa.

Itulah yang dialami nabi Yesaya (Yes 6: 1-8), Paulus (1 Kor 15 :1-11) dan Petrus (Luk 5: 1-11). Mereka mengalami Yang mahakuasa secara berbeda, tetapi mendapat anugerah yang nyaris serupa setelahnya.

Yesaya mengalami Allah yang mahasuci (Yes 6: 1-4) dan melihat dirinya penuh dosa (Yes 6: 5). Namun kemudian disucikan (Yes 6: 6-7) dan diutus oleh Tuhan (Yes 6: 8).

Paulus yang sebelumnya menganiaya jemaat Tuhan (1 Kor 15: 9) dipilih oleh-Nya untuk menjadi rasul (1 Kor 15: 8-9). Dia tidak menyianyiakan rahmat panggilan itu (1 Kor 15: 10). Menjadi rasul yang amat giat.

Menyaksikan sendiri mukjijat penangkapan ikan di siang hari karena kuasa Sang Guru Kehidupan, Petrus tersungkur di depan-Nya dan menyadari diri sebagai orang berdosa (Luk 5: 8). Namun kemudian Sang Guru mengutusnya sebagai penjala manusia (Luk 5: 10). Menjadi rasul hingga wafat sebagai martir.

Tiga peristiwa itu menggambarkan proses rekrutmen yang Tuhan lakukan. Dunia usaha cenderung merekrut hanya mereka yang "qualified" dan memenuhi syarat.

Tetapi Tuhan tidak merekrut dengan cara demikian. Mengapa? Karena dengan mengikuti proses itu tidak seorang pun pantas ("qualified") jadi utusan-Nya. Dia merekrut orang berdosa untuk menjadi utusan-Nya. Mengapa? Karena Tuhan sendirilah yang berkarya dalam diri mereka. Demikianlah rekrutmen ala Tuhan.

Minggu, 6 Februari 2022RP Albertus Magnus Herwanta, O. Carm

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.