1 min dibaca
13 Feb
13Feb
Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm


Mengapa bayi menangis waktu dilahirkan? Ada yang mengatakan bahwa dia takut meninggalkan rasa aman dalam rahim dan menghadapi dunia. Kalau itu benar, sudah sejak kelahirannya manusia disertai rasa takut.

Beberapa saat kemudian, bayi takut kehilangan rasa hangat pelukan ibunya. Ketika makin besar, dia mengalami pelbagai rasa takut. Hidupnya seakan-akan diwarnai rangkaian rasa takut.

Rupanya, dunia ini ditebari dengan rasa takut. Pelajar takut tidak lulus ujian. Pengusaha takut bisnisnya gagal dan tidak bisa membayar hutang. Para politisi takut dijungkirkan dari kursi yang selama ini diduduki.

Sebagian agama pun seperti berkontribusi dalam menakut-nakuti. Bila orang tidak menjalankan perintah agama, bisa dihukum di neraka. Mereka yang tidak taat bakal selamanya sekarat. Ngeri!

Apakah buah dari rasa takut? Sedih, marah, depresi, dan putus asa. Itu terjadi tatkala orang tidak mampu menghadapi. Rasa takut lalu menjadi rumah sehari-hari.

Sialnya, rasa takut itu banyak digunakan sebagai senjata amat efektif untuk mengendalikan orang lain. Ingat bagaimana rezim Orde Baru menguasai seluruh negeri dengan menebar ketakutan? Itulah strategi paling aman untuk menutupi ketakutan dirinya sendiri.

Apakah Tuhan itu menakutkan dan menciptakan manusia untuk mengalami ketakutan? Benarkah Tuhan itu sosok yang mengerikan dan harus ditakuti seperti beberapa agama menggambarkan-Nya?

Tuhan tidak menciptakan rasa takut, karena Dia adalah kasih. Dalam kasih yang sempurna tidak ada rasa takut. Dalam Tuhan yang bersabda,, "Jangan takut!" kita mempunyai rumah yang paling aman. Iman sungguh menguatkan kita. Karena itu, marilah menghadapi rasa takut dengan masuk ke dalam rumah Tuhan, Sang Kasih.

Salam dan Tuhan berkati.
SOHK, Minggu 12 Februari 2023AlherwantaRenalam 044/23

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.