1 min dibaca
16 Nov
16Nov

Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Betapa membahagiakan pertemuan dua sahabat yang sudah lama saling merindukan. Kisah Zakeus dalam Injil Lukas 19: 1-10 bisa dibaca dalam perspektif itu.

Zakeus, pemungut cukai yang kaya tetapi berbadan pendek itu, adalah sahabat yang unik. Rindu melihat sosok yang belum pernah dijumpainya. Sedangkan Sang Guru Kehidupan mewujudkan Tuhan yang mencari manusia, sahabat-Nya yang hilang.

Rasa ingin tahu dan melihat Sang Guru itu mendorong Zakeus memanjat pohon (Luk 19: 4). Dengan itu dia yang berbadan pendek bisa melihat Dia yang akan segera lewat.

Mengejutkan. Waktu Sang Guru lewat di bawah pohon itu, Dia berhenti dan berkata kepada Zakeus, "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu" (Luk 19: 5).

Perjumpaan mengharukan itu berlanjut dalam percakapan mendalam di rumah Zakeus. "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat" (Luk 19: 8). Berjumpa Tuhan membuat orang berubah; bertobat.

Apa pelajarannya? Pertama, Tuhan menjawab rasa rindu dari manusia kepada-Nya. Tidak seorang pun yang tulus mencari-Nya, Tuhan kecewakan. Ternyata, bukan manusia yang pertama-tama mencari Tuhan, tetapi Tuhanlah yang selalu mencari manusia.

Kedua, Zakeus menyambut Tuhan di rumahnya. Bukan terutama dalam rumah fisik berbentuk bangunan, tetapi dalam pribadi dan hatinya. Di sana rasa rindu itu dipuaskan. Bukankah tubuh ini adalah bait Allah? (Bdk. 1 Kor 3: 16) Kedatangan Tuhan menyucikan rumahnya. Membuat dia bertobat.

Barangsiapa sungguh merindukan Tuhan sebagai sahabatnya perlu menyambut-Nya dalam "rumah pribadi" miliknya. Bukan dalam rumah ibadah, tetapi dalam lubuk hati. Di sana perjumpaan dua sahabat itu terjadi.

Selasa, 16 November 2021RP Albertus Agung Herwanta, O. Carm.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.