1 min dibaca
06 Jul
06Jul
Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Ayah dalam kisah anak yang hilang (Lukas 15:11-32) menderita sangat banyak. Hari-hari penantiannya untuk hidup bahagia dibanjiri air mata. Dia sedih, karena tahu bahwa kekecewaan dan kesulitan hidup bakal menimpa anak bungsunya yang minggat, meninggalkannya.

Baca juga: Karmel Flores Indonesia Timur - Suara Keheningan 

Dia bersusah hati melihat anaknya yang sulung demikian marah dan keras hati, sehingga tidak mau mengambil bagian dalam kebahagiaan keluarga. Hatinya tersayat oleh kesombongan anaknya.

Sebagian besar hidupnya adalah menunggu. Dia tidak bisa memaksa anak bungsunya pulang dan anak sulungnya untuk melepaskan semua kemarahannya. Mereka sendirilah yang harus memutuskannya.

Selama bertahun-tahun menunggu, sang bapa mencurahkan banyak air mata. Hidupnya diperas habis oleh penderitaan. 

Namun, hati dan jiwanya dimurnikan oleh pengalaman itu dan dipersiapkan bagi anak-anaknya tatkala mereka kembali. Karenanya, dia dapat merangkul mereka dengan hati dan jiwa yang telah bersih.

Leonardo da Vinci berkata, "Tears come from the heart and not from the brain."*) Air mata tidak lahir dari pikiran, tetapi dari perasaan. Orang menangis karena tersentuh perasaannya.

Sentuhan-sentuhan demikian mempertajam mata hati dan memperpeka mata kebijaksanaan. Semua itu menggandakan pengalaman yang tiada ternilai harganya.

Siapa yang tidak pernah meneteskan air mata kesedihan dalam perjalanan hidup ini? Betapa banyak penderitaan yang mesti orang alami. Berapa yang menyadari bahwa jiwa dan hati yang menderita menjadi wahana luar biasa untuk menerima berkat-Nya?

Rupanya sedikit yang menyadari bahwa air mata sebenarnya telah lama menjadi mata air dari rahmat Tuhan yang terus mengalir.

Salam dan Tuhan memberkati.

SOHK, Rabu 5 Juli, 2023AlherwantaRenalam 185/23

*) Air mata jatuh dari hati; bukan dari otak.


BalasTeruskan
Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.