1 min dibaca
22 Oct
22Oct

Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Perang internal bisa terjadi di tingkat nasional hingga individual. Bentrok antar kelompok dalam satu negara, contohnya. Bila itu sering terjadi, negara bisa makin lemah.

Pada tataran individual perang internal juga terjadi. Perang batin, misalnya. Orang ingin melakukan perbuatan jahat dan hati kecilnya memperingatkan atau melarangnya.

Hampir semua orang mengalami perang internal. Hati dan niatnya melakukan yang baik, tetapi tindakan nyatanya jahat. Ada pertentangan antara kehendak baik dan perilaku nyata yang dilakukan tubuhnya. Mengapa demikian?

Rasul agung berbagi pengalaman. "Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku" (Rm 7: 18-20).

Dalam diri manusia ada dua tubuh yang berperang. Tubuh dari dosa melawan tubuh yang telah dibebaskan Tuhan.

Mengalami perang internal itu orang bisa merasa putus asa. Mengapa kehendak dan pikirannya mendorong melakukan yang baik, tetapi faktanya tubuh melakukan yang sebaliknya?

Sang rasul agung yang mengalaminya dan berkata, "Celakalah aku. Siapa yang akan membebaskan dari tubuh maut ini?" (Rm 7: 24). Dia menjawabnya sendiri, "Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita" (Rm 7: 25).

Demikianlah, menurutnya mereka yang telah diselamatkan dalam Dia tidak pernah dikalahkan oleh "aku"-nya yang dikuasai dosa. Mereka sungguh bebas; merdeka.

Jumat, 22 Oktober 2021RP Albertus Herwanta, O. Carm.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.