1 min dibaca
14 Mar
14Mar
Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Sejauh mana orang-orang yang meyakini ajaran kasih telah melaksanakannya dalam hidup mereka? Benarkah mereka itu telah menyadari konsekuensi keputusannya?

Apa konsekuensinya? Melaksanakan ajaran kasih yang sering terasa sulit. Mengapa? Karena berarti siap mengasihi seperti Tuhan sendiri yang adalah kasih dan murah hati. "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Luk 6: 36).

Menjadi murah hati itu mengandung tiga konsekuensi. Pertama, tidak menghakimi (Luk 6: 37). Kedua, tidak menghukum; artinya, siap mengampuni (Luk 6: 37). Ketiga, selalu bersedia memberi (Luk 6: 38).

Konsekuensi ketiga merangkum yang pertama dan kedua. Bukankah tidak mengampuni satu paket dengan sikap menghakimi? "Dia itu tidak mau berubah. Berulangkali aku sudah mengampuni. Sekarang, tidak ada maaf lagi!" Wow!

Inilah penghakiman ganda. Mengatakan orang lain tidak bisa berubah dan menetapkan diri sebagai orang yang tidak bisa mengampuni.

Mengampuni sering terasa tidak mungkin. Tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil. "Tapi aku ini bukan Allah," demikian orang berkilah.

Bukan hanya "aku" yang bukan Allah, orang lain juga bukan Allah. Setiap orang itu terbatas dan lemah. Tidak dapat memenuhi semua keinginan dan harapan sesamanya. Di sini dibutuhkan ruang untuk saling mengerti dan mengampuni.

Tuhan berfirman, "Berilah dan kamu akan diberi; suatu takaran yang baik dan dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu." (Luk 6: 38).
Barangsiapa siap mengampuni akan mengalami diampuni. Siapa yang menolak mengampuni membuat dirinya tidak diampuni. Memenjara diri sendiri.

Senin, 14 Maret 2022RP Albertus Magnus Herwanta, O. Carm.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.