1 min dibaca
20 Jan
20Jan
Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Mandi itu kebutuhan semua orang. Walau semua orang mandi, cara dan budayanya berbeda. Keliling ke beberapa negara, aku belajar banyak cara dan budaya mandi.
Ketika mengunjungi pedalaman Papua Nugini, aku mesti mandi di kali. Di sana tidak ada kamar mandi. Ketika tinggal kota-kota besar dan hotel, mandi dengan "shower" atau penyemprot air. Bisa memilih, mau pakai air dingin atau air hangat.

Pernah juga mandi dengan menyiramkan air yang diambil dari ember dengan gayung. Airnya mesti lebih dulu ditampung dalam ember. Setelah beberapa minggu dinding ember itu berubah warna; dari biru menjadi coklat-keruh. Ternyata, zat kimia yang terkandung dalam air menempel dan mengotori dinding ember.

Badan manusia, dalam arti tertentu, berfungsi seperti ember. Menampung makanan-minuman yang disantap lewat mulut. Tidak persis sih. Sebagian penyakit badan disebabkan oleh makanan-minuman. Gula bisa menyumbat pembuluh darah dan menyebabkan stroke. Garam menaikkan tekanan darah yang bisa berujung pada stroke pula.

Pikiran dan hati manusia juga menampung pelbagai pendapat dan pengalaman yang disimpan dalam memori. Suatu saat bisa diangkat lewat daya ingat. Pikiran yang terus-menerus dicekoki dengan pandangan yang buruk, salah, dan kotor akan membentuk mentalitas yang negatif dan destruktif. Misalnya, perilaku agresif-reaktif yang massif. Bak dinding ember yang keruh.

Mentalitas itu tidak hanya membahayakan orang lain, tetapi amat membebani pemiliknya. Tidak mengherankan, orang demikian tidak "happy", dikuasai kecurigaan dan kebencian. Semua ini menyebabkan hidup terasa berat dan tubuh lebih cepat uzur.

Amat berbahaya bagi ketahanan suatu bangsa tatkala sebagian rakyatnya terjangkiti mentalitas itu. Dinding jiwa generasi mudanya kotor dan hatinya diracuni oleh indoktrinasi; pikirannya penat karena ajaran sesat dan niat jahat. Wajahnya lebih cepat menua, karena hatinya penuh prasangka; tidak terbuka.

Seperti apakah masa depan negara kita? Lihatlah wajah rakyat: apakah tenang-tenteram-damai atau tegang-penuh dendam-suka bertikai?

Santo Hieronimus menulis, "The face is the mirror of the mind, and eyes without speaking confess the secret."

Wajah itu cermin dari pikiran dan mata mengungkapkan rahasia tanpa mengatakan apa-apa. Ini berlaku juga untuk wajah suatu bangsa. Mari membersihkan dinding ember hati dan mengisinya dengan kasih cinta.

Salam dan Tuhan memberkati.
SOHK, Jumat 20 Januari 2023AlherwantaRenalam 020/23

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.