1 min dibaca
28 Jul
28Jul
Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Rasa gelisah menghampiri setiap orang. Itulah salah satu konsekuensi dari keinginanm. Sebagian orang gelisah akan hal-hal lahiriah. Misalnya, karena tidak tersedia cukup makanan untuk esok hari. Rasa gelisah demikian itu wajar, masuk akal, dan dapat dipahami.

Orang bisa juga merasa gelisah akan yang bersifat rohani. Ketika saat ujian akhir hampir tiba dan persiapannya belum selesai dilakukan, orang merasa gelisah. Bahkan khawatir akan hasil ujiannya nanti.

Mereka yang sedang berkontestasi untuk merebut kursi RI satu tentu gelisah ketika koalasi pendukungnya kurang solid; serba tidak pasti. Partai pendukung gelisah dan bingung ketika rencana dari capresnya berubah-ubah seperti orang linglung.

Manusia tidak hanya menggelisahkan hal-hal di atas. Di permukaan, memang itulah yang kelihatan dan mudah diamati. Namun, manusia menyimpan kegelisahan yang jauh lebih dalam.

Bila di tengah kesibukannya menutup kegelisahan sempat duduk tenang dan merenung, orang akan mendengar kegelisahan yang tersembunyi dalam relung. Suara itu menyangkut pertanyaan mendalam tentang makna terdalam hidupnya.

Makna itu bersifat spiritual dan kekal. Tidak bisa dijawab hanya dengan memenuhi kebutuhan eksternal, entah material entah sosial. Jalan untuk menuju ke sana tidak berada di luar diri manusia, melainkan di dalamnya.

Salah satu cara untuk masuk ke dalam dirinya adalah meditasi. Itu jalan menuju ke "illumination" atau pencerahan, masuk ke dalam cahaya dan kehidupan. Meditasi membantu manusia memusatkan diri pada satu hal utama yang abadi dan tidak berubah.

Ketika memusatkan diri pada yang abadi dan tidak berubah manusia dibebaskan dari segala kelekatan dunia yang menyebabkan kegelisahan dalam hatinya. Jadi, meditasi memberi ketenangan dan membebaskan manusia dari rasa gelisah. Sudah mencoba?

Salam dan Tuhan berkati.
Jumat, 28 Juli 2023AlherwantaRenalam 205/23

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.