1 min dibaca
11 Oct
11Oct
Suara Keheningan | RP. Albertus Herwanta, O.Carm

Ketika para murid meminta supaya Yesus mengajar mereka berdoa, kepada mereka Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami. Doa ini bukan doa individual, melainkan doa yang mengandung tanggung jawab sosial. Mengapa? Mari merenungkan dua dari banyak alasannya.

Pertama, kita memanggil Tuhan dengan Bapa kami. Berarti Dia itu bukan untuk satu orang, melainkan Bapa untuk banyak orang. Yesus mengajarkan Tuhan yang menciptakan dan memelihara semua orang, tidak terkecuali. Dia menerbitkan matahari untuk orang yang jahat dan orang yang baik (Matius 5:45).

Konsekuensi dari menyebut Tuhan sebagai Bapa kami adalah menerima semua orang sebagai saudara dan mencintai satu sama lain. Cinta dari anak-anak Bapa ini tidak mengenal diskriminasi apa pun. Dahulu kita berdebat tentang perbedaan suku, agama, ras, etnis, dan golongan. Kini kita berdebat tentang kaum LGBT. Apakah Bapa kita mendiskriminasi mereka?

Kedua, kita memohon agar Bapa memberikan kita rejeki sehari-hari.Sekali lagi, di sini ada kata "kami." Siapakah yang dimaksudkan? Keluaga, teman-teman, komunitas, desa, kota, negara, atau dunia? Yang pasti itu menunjuk pada kelompok atau malah semua orang, yakni anak-anak dari Bapa yang sama.

Memohon makanan secukupnya dalam doa Bapa Kami mengandung tanggung jawab sosial yang besar. Artinya, ikut mewujudkan keadilan agar semua orang mendapatkan rejeki yang secukupnya.

Orang yang mendoakan Bapa Kami secara konsekuen dan konsisten akan bekerja keras untuk menghapuskan kelaparan. Mereka siap berbagi makanan kepada yang belum memperoleh makanan yang cukup. Mereka tidak akan membuang makanan, karena banyak saudara-saudarinya kelaparan.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa membuang makanan berarti merampas makanan dari mereka yang miskin dan lapar. Itu amat bertentangan dengan doa Bapa Kami dan melanggar keadilan. Bukankah masih ada jutaan manusia yang sedang kelaparan sekarang ini?

Doa Bapa Kami itu sangat indah, sekaligus menantang. Doa ini menyadarkan bahwa umat manusia itu anak-anak dari Bapa yang sama. Semua orang bersaudara. Karena bersaudara, mereka mesti saling mencintai dan membantu. Lebih-lebih membantu mereka yang didiskriminasi, terpinggirkan, miskin, dan kelaparan. Apakah kita siap mewujudkannya atau hanya mengucapkan tanpa melaksanakan?

Rabu, 11 Oktober 2023Alherwanta, O.Carm.

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.