RAJA SALIB


1 min dibaca
28 Mar
28Mar

Suara Keheningan | Charly Crova

Gagasan pokoknya, tak ayal lagi bermula pada salib Yesus 2000 tahun silam. Dan sudah tentu semua tahu bahwa kenyataan salib pada mulanya seturut konteks situasi sosial, religius dan politik bangsa Yahudi adalah skandal, tanda kegagalan dan kekonyolan Yesus yang memproklamirkan diri-Nya Mesias (Yang Diurapi), “Raja orang Yahudi”. 

Manusia sezaman-Nya, memang mencari seorang Mesias dan Raja dan siap memberi takhta kebesaran, kuasa dan wibawa untuk memerintahnya. Tapi, Mesias-Raja yang dibayangkan adalah seorang intelektual dan ahli strategi perang; memiliki daerah jajahan yang luas, serta hidup dari darah dan keringat budak-budak. Seorang yang agung, mulia dan masyhur. Terutama karena kehebatannya membuat orang lain menderita, terbungkuk menyembahnya dan merintih dalam siksaan.  

Karena itu, adalah kebodohan dan ironi yang tragis, bila Mesias menderita dan Raja itu bertahta di atas salib yang buruk rupa. Tapi Allah dan Kerajaan Allah itu lain. Ia bukannya mencari Mesias  dan Raja seperti yang dibayangkan manusia. Sebaliknya Allah mencari Mesias dan Raja yang menderita. Tuhan justru memilih Raja yang tersalib, yaitu Yesus Kristus yang rela bersengsara, menderita dan wafat di salib. 

Allah sendiri turun ke dunia, menjadi manusia dalam diri Yesus, Mesias yang menderita, Raja yang memerintah dari atas salib.  Dengan menderita dan wafat di salib, Yesus menyatakan kebenaran dan kerahiman cinta Allah yang penuh belas kasihan terhadap ciptaan-Nya. Dalam Yesus Kristus, Sang Raja yang disalibkan, Allah mengidentifikasikan diri-Nya dengan manusia, masuk dalam kemalangan manusia, mencintai dan merasakan keterbatasan manusia.  

Penderitaan dan salib Yesus mengungkapkan situasi manusia yang kacau tanpa harapan. Tetapi dengan kebangkitan-Nya, kini Ia berjalan di depan, mengarahkan dan menarik manusia masuk ke dalam kepenuhan Kerajaan cinta Allah. Kerajaan Allah yang diperagakan Yesus dalam kata dan perbuatan-NYa tidak lain adalah: Keadilan, damai dan kegembiraan. 

Keadilan yang lahir dari  relasi yang benar dengan diri sendiri, dengan sesama, baik secara individu maupun secara sosial dan dengan Tuhan. Damai berarti rekonsiliasi yang berkaitan erat dengan tiga relasi dasar manusia di atas. Dan Kegembiraan adalah pernyataan kepenuhan, kehidupan dan cinta kasih.  Allah masih terus mencari raja salib di zaman kita sekarang ini. Siapakah dari antara kita yang berani menjawab: “Ini aku ! Utuslah aku ..! ??.....Selamat merenungkan sengsara dan salib Tuhan.

24Mar
Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.