IMAM : “ SANG TERSALIB” Sebuah Refleksi dalam Ziarah Kecil Ini


2 min dibaca
26 Mar
26Mar

Suara Keheningan | Charly Crova

“…..Siapa yang hendak menjadi pengikutKu, harus menyangkal diri, memanggul salib, dan mengikuti Aku."


Imam itu pelayan. Pelayanannya menawarkan sebuah “tahta” di tengah umat. Umat/masyarakat ini menghidupinya dan menginspirasikan pengharapannya. Umat ini menawarkan pengarahan dan tindakan konkret untuk pelayanan yang efektif , yaitu membawakan penyembuhan, kesembuhan dan pembebasan.

Imam, seorang manusia yang selalu patut bergumul tentang dirinya. Misteri panggilan hidupnya menempatkan dalam dirinya sebagai pelayan. Ia berani tinggalkan diri, membuka diri, merasa prihatin, untuk turun menjalin relasi-membangun dialog. Ia seorang manusia biasa, sederhana; namun kepadanya disandangkan predikat ini: pribadi bersemangat bela rasa dan berani berbagi keprihatinan dengan semua orang. Di saat masa prapaskah ini, tak salah kalau merenungkan makna jati diri seorang imam dalam “menyangkal dirinya, memanggul salibnya dan mengikuti TuanNya”. Maka mulailah refleksi sederhana ini. 

IMAM SIAP MEMBALUT LUKA

Ditengah-tengah masyarakat modern “masyarakat impersonal” dewasa ini, imam terpanggil pribadinya untuk tampil secara personal. Ia diharapkan datang sebagai pembebas ke tengah masyarakat yang tengah mengalami kebingungan. Ia ibarat “Mesias” yang menjamin pembebasan dari kebencian dan penindasan, dari ketidakadilan dan perang.  Profil pelayanannya diilustrasikan oleh Henri Nouwen dalam kisah perjumpaan antara “Yoshua ben Levi dengan Elias” (Henri J.M. Nouwen, Yang Terluka Yang Menyembuhkan). Dalam jawaban Elias tentang kedatangan sang mesias, jelas bahwa Yosua hendaknya menjumpai sang Mesias di setiap pintu gerbang kota. Ia sedang duduk di sana, di tengah-tengah orang miskin yang penuh luka. Ia sedang melepas balut-balut luka itu satu persatu dan membalutnya lagi, sambil sadar diri: Saya diperlukan, saya harus siap; sehingga saya tidak akan menunda sedikitpun.  

Imam sang pelayan, hendaknya menampakkan tanda-tanda pembebasan bagi orang lain. Ia seyogyanya cermat mempersiapkan saat-saat ia dibutuhkan. Sedini mungkin ia hendaknya membalut luka-lukanya sendiri. Ia harus melihat diri terlebih dahulu sehingga ia tiba pada keberadaan dirinya utk menjadi “ Yang terluka yang menyembuhkan”. Ia sebelumnya harus siap membalut luka kesepiannya, keterasingannya, keterbuangannya dan keterkucilannya. Setelah itu barulah ia siap utk membalut luka-luka orang lain. Karena luka-lukanya sendiri dijadikan sumber kekuatan penyembuhannya. 

MEMBALUT LUKA KESEPIANNYA 

‘Kesepian’, suatu term yang menunjuk keadaan terluka. Kesepian sungguh menyakitkan. Apalagi terasakan di tengah masyarakat modern yang berdampak merubah nilai profesi pelayanan sang tersalib (imam).  Secara natural, imam pun pribadi melewati pergumulan-pergumulan kesepian pribadinya. Ia hendaknya konsekuen bahwa “dia berada di dunia tanpa menjadi dari dunia”. Ia harus menghukum diri demi kepentingan pembenaran diri dan citra imamatnya. Ia harus bersaksi tanpa peduli bahaya membutakan dirinya. Ia harus berkonfrontasi dengan pelbagai keinginan yang mengintai dan kecenderungan-kecenderungannya yang menggoda. Ia juga harus lebih banyak berbelas kasih daripada menyerang.  

Imam, figur pribadi yang jelas dan lantang menantang setiap moment kesepian dirinya. Ia harus melihat dan menghargai kesepian hidupnya sebagai ‘pemberian yang berharga’. Membalut luka-luka kesepiannya adalah suatu kebajikan. Ia menjauhkan sikap menghindar dari konfrontasi yang menyakitkan. Ia tidak boleh membiarkan dirinya terjerat berhala yang menyajikan kepuasaan jangka pendek. Ia tidak butuh pembalut yang segera mendatangkan kesembuhan. Kesepiannya diakuinya sebagai undangan untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan dirinya, sekaligus memandang lebih jauh lintas batas horizon eksistensinya sebagai yang terpanggil dan terikat dengan imamat suci. Seorang imam, harus melihat kesepiannya sebagai anugerah yang patut dijaga, dilindungi; sebab di dalamnya tersirat kekosongan batinnya yang berdampak menghancurkan, kalau di salah tafsir. Kesepian seorang imam harus menjadi inspirasi, pemahaman, dasar dan intuitif. Juga dijadikan pembalut sejati untuk mengerti secara benar akan kebahagiaan “Tabor pelayanannya” di bawah “kaki salib Kalvari.”

IMAM SEORANG PENYEMBUH

Imam, pribadi yang mengabdikan seluruh hidupnya bagi orang lain. Ia mengabdikan dirinya yang terluka bagi orang lain. Ia juga harus selalu realistis. Ia tidak perlu menyembunyikan pengalaman-pengalaman hidupnya bagi orang lain yang dibantu. Namun ia tidak boleh memupuk suatu bentuk ekshibisionisme rohani. Dengan bercerminkan kepedihan dan penderitaan pribadinya, ia dapat meletakan dasar penyembuhan terhadap luka-luka manusia yang dialami secara natural tanpa kecuali. 

Imam harus memiliki dalam dirinya suatu sikap hospitalitas. Sikap ini mendukung seorang imam untuk mengubah orang-orang yang cemas menjadi saksi-saksi yang bersemangat. Mengubah yang penuh curiga menjadi dermawan, yang tertutup dan picik menjadi bersikap terbuka bagi gagasan-gagasan baru, dan masih banyak aspek lain. Imam yang menyembuhkan harus menjadi pelayan yang selalu berada dan duduk di antara orang-orang miskin, sakit dan terpinggirkan, sebagai tanda harapan bagi semua yang menderita.  

Akhir Kata

Imam, sang tersalib, sosok yang khusuk menghadapi konfrontasi diri. Ia harus akrab dengan dunianya, dengan panggilannya. Kejahatan dan racun dunia impersonal harus dilawan. Ia harus khusuk membalut luka-lukanya, sehingga menjadi inspirasi untuk membalut luka-luka dunia ini dan manusia zamannya. Ia harus bertekuk lutut di bawah kaki salib Kalvari Sang Guru, yang terpancar dalam keanekaan masalah pelayanannya; di tengah kegamangan dunia dan umatnya dewasa ini. Ia harus tetap berada di dunia sekalipun tidak menjadi bagian dari dunia. Imam harus menjadi pribadi yang tersalib dalam dunia ini. Menjadi yang tersalib seperti Sang Guru, yang dengan Salib SuciNya menyembuhkan dan menyelamatkan dunia ini.

24Mar
28Mar
Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.