Mengulurkan Tali Kasih


2 min dibaca
20 Mar
20Mar

Suara Keheningan | Charly Crova


Happy international day of Happines. Hari ini, 20 Maret adalah hari kebahagiaan sedunia. Kebahagiaan apa yang kira-kira kita impikan hari ini? Semua orang membutuhkan kebahagiaan? Kebahagiaan seperti apa? Kita semua mengejar kebahagiaan dalam hidup, namun kadang orang sering salah menilai kebahagiaan yang sebenarnya.

Hari ini juga bertepatan dengan Hari Dongeng Internasional. Hari di mana kita memperingati bagaimana orang berdongeng, bercerita. Hari ini kita diajak untuk bercerita, berdongeng kepada anak-anak, atau kepada siapa saja yang mau mendengar. 

Saya juga mau mendongengkan sebuah kisah kepada kita sekalian, mungkin dengan kisah ini kita bisa melihat kebahagiaan yang seperti apa yang kita impikan. Nah, begini ceritanya:

Pada zaman dahulu, ada seekor kera yang tambun. Ia suka mencuri pisang di kebun seorang petani. Pada suatu hari, ia melihat setandan pisang yang mulai masak pada salah satu pohon pisang di kebun petani. Hatinya lalu tergerak untuk memetik buah pisang yang kelihatan enak itu. Sayangnya, petani membuat pagar yang tinggi sekeliling kebunnya. Kera tambun itu kelihatan susah untuk memasuki kebun sang petani. Di dekat pagar kebun itu, ada sebatang pohon yang ranting dan cabangnya menjulur masuk ke dalam kebun tepat di dekat pohon pisang yang menjadi incaran si kera. Ia kemudian memanjat pohon itu lalu melompati pagar itu ke arah pohon pisang tadi. Karena badannya tambun, saat ia hinggap di salah satu pelepah pisang, ternyata pelepah pisang itu patah karena beratnya beban si kera dan sebagai akibatnya si kera pun jatuh.

Malang nasib si kera, ia jatuh di sebuah lubang yang dalam. Lubang itu sengaja dibuat oleh si petani untuk menjerat babi hutan yang juga sering merusak tanaman di kebun itu. Sang kera pun terjerembab ke dalam lubang yang gelap dan dalam. Ia tdk bisa memanjat keluar dari lubang gelap itu. 

Itu artinya ada bahaya sedang mengancam dirinya. Untungnya peristiwa itu disaksikan oleh sang kancil. Kancil pun bermaksud menolong kera itu. Ia menjulurkan seutas tali ke dalam lubang dan menyuruh si kera memegang tali itu. Namun si kera menaruh curiga dengan maksud baik sang kancil. Sebelum memegang tali.

Kera bertanya: "saudara kancil apa maksud saudara melemparkan tali ke dalam lubang ini? Sang kancil menjawab: saya akan menjelaskan maksudnya setelah engkau memegang tali yang kuulurkan ini. Sang kera tetap tidak mau memegang tali itu dan malah bertanya lagi: tolong jawab dulu pertanyaanku tadi, baru aku akan memegang tali ini. Kancil tetap menjawab: sebentar akan kujawab, tapi kamu pegang dulu tali itu. Kera tetap a curiga dan tidak mau memegang tali dan memaksa kancil menjawab pertanyaannya: jawablah dulu pertanyaanku tadi. Kancil pun akhirnya menyerah dan berkata: baiklah kalau begitu saya pergi ke perpustakaan dahulu untuk mencari jawaban atas pertanyaanmu itu. Kera menyahut: bukankah kamu tidak bisa membaca, bagaimana mungkin kamu dapat menemukan jawaban atas pertanyaanku?

Kancil berkata kepada kera: kalau begitu aku pergi belajar membaca di sekolah dulu, setelah itu baru aku mencari jawaban atas pertanyaanmu. Lalu kancil pun pergi meninggalkan kera sendirian di dalam lubang yang gelap itu. Kera itu menunggu dalam ketidakpastian dengan bahaya yang selalu siap mengancam dirinya. Itu dongengku hari ini Sahabatku. 

Refleksi

Ada beberapa pesan dari hasil refleksi pribadi saya atas cerita di atas: 

1. Sahabatku, kita mungkin saat ini sedang berada di dalam "lubang gelap dan dalam" , sedang berada dalam kegelapan dosa, dalam lubang kesulitan dan masalah, dan sulit untuk keluar dari sana. Kita mengalami penderitaan, sedang berada di persimpangan jalan, mengalami kesusahan karena tidak bisa berbuat apa-apa. Kita jatuh dalam lubang karena telah "melompati pagar" yang telah dibuat oleh Tuhan. 

2. Kita jatuh karena melompati pagar 'aturan' Tuhan, kita jatuh karena egoisme, karena ingat diri dan ketamakan hidup kita. Kita terjebak oleh keinginan hati yang tak terpuaskan, sampai harus mengorbankan diri, sesama dan bahkan mengorbankan iman hanya karena ingin mengejar harta, kuasa dan kenikmatan dunia ini. 

3. Walau demikian Sahabatku, ingatlah, selalu ada tangan kasih Tuhan yang terus terulur untuk membantu kita. Tuhan selalu mengulurkan Tali Kasih-Nya untuk membantu kita keluar dari jurang atau lubang kegelapan hidup. Tuhan selalu memakai suatu peristiwa untuk membantu kita bangkit dari keterpurukan, Dia selalu mengutus orang-orang baik yang membantu kita lewat sentuhan kasih, bahkan lewat senyuman lembut yang sederhana. 

4. Tuhan selalu punya rencana yang baik dan indah untuk membantu kita, tapi sayangnya kita selalu curiga atas kebaikan Tuhan. Kita selalu menaruh prasangka buruk atas kebaikan orang lain. Saudaraku, kebahagiaan itu terjadi ketika kita mengalami ada uluran tangan kasih Tuhan yang membantu kita atau ketika kita mengulurkan tangan kasih kita terhadap sesama. 

5. Kebahagiaan itu terjadi ketika kita melihat sesama tersenyum dan menghapus air mata mereka karena kehadiran kita. Di situlah letak kebahagiaan.

6. Kebahagiaan itu bukan sekadar kita memiliki harta yang berlimpah atau jabatan yang penuh kuasa. Kebahagiaan terjadi ketika kehadiran diri kita memberi arti bagi kebahagian orang lain. Itulah makna kebahagian yang sebenarnya, ketika kita mampu menjadi wajah kerahiman Allah untuk sesama. Nah... Sahabatku, apakah hari ini engkau mampu menjadi berkat bagi orang lain dan menghadirkan kebahagiaan untuknya?

Selamat hari kebahagiaan internasional. Tuhan memberkati.

24Mar
28Mar
Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.