5 min dibaca
Makna Polyeder dan Dua Efek dari Pancasila di Tengah Realitas Multietnis Bangsa

Suara Keheningan | Ino Sigaze

Artikel aslinya di sini: Makna Polyeder dan Dua Efek dari Pancasila di Tengah Realitas Multietnis Bangsa Halaman 1 - Kompasiana.com 

Setiap bagian dihormati dalam nilainya dan pada saat yang sama yang keseluruhan lebih dari sekedar satu bagian, dan  juga lebih dari sekedar jumlah.

Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia sudah dikenal dunia. Wikipedia hampir dalam semua bahasa di dunia mencatat tentang Pancasila. Pancasila cukup sering menjadi sorotan tema diskusi banyak pihak, terlebih dari orang-orang yang punya kepentingan lain dari ideologi yang lain. Pilihan yang tepat bahwa tema Pancasila perlu dibuka ke publik masyarakat Indonesia untuk coba membaca dan melihatnya berulang-ulang. Tanpa ada kreatifitas untuk belajar dan merefleksikan secara kritis, maka Pancasila bisa saja dilihat seperti prinsip tabu yang berciri dogmatis.

Sisi dogmatis memang diakui tentu dari segi sejarah dan urutan penomorannya yang sudah menjadi baku atau tanpa perlu didiskusikan lagi. Pancasila tetap menjadi dasar negara Republik Indonesia, meski ada angin dan badai yang menggoyangnya sesekali. Sebagai dasar dari dari sesuatu, kata "Dasar" menyeret saya kepada suatu gambaran metaforis yang realistis, ibarat orang membangun sebuah rumah.

Semua rumah dibangun di atas dasar. Dasar itu menjadi fondasi berdirinya sebuah bangunan atau sebuah rumah. Istilah-istilah terkait ini mesti terus direfleksikan dengan aksen filosofi yang bisa beragam, namun tetap berakar pada kultur bangsa kita. Jika Pancasila dibaca dalam perspektif seperti itu, maka sebenarnya Indonesia ini adalah sebuah rumah yang unik yang dibangun di atas dasar tanah air dan bangsa kita sendiri.

Rumah ini atau Rumah Kita ini dibangun dengan lima tiang. Tentu rumah dengan lima tiang itu bukanlah rumah yang aneh, tetapi sebuah rumah yang unik. Mengapa dikatakan rumah yang unik? Nah, lima tiang (Panca Sila) itu sendiri sebetulnya memberikan gagasan pada satu bentuk khas yang dikenal juga dalam dunia ilmu geometri yang disebut PolyederPolyeder dalam sebutan bahasa Jerman berarti Vielflaechner atau punya sisi banyak. 

Polyeder secara filosofis berarti setiap bagian dihormati dalam nilainya dan pada saat yang sama yang keseluruhan lebih dari sekedar satu bagian, dan  juga lebih dari sekedar jumlah. Sebuah rumah dengan lima tiang yang membentuk sisi yang banyak itu bukan sebagai satu bangunan fisik, tetapi lebih sebagai rumah gagasan dan perspektif tentang Rumah Kita sebaga bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Apa makna dari bentuk Polyeder seperti itu untuk konteks bangsa yang multikultur:

1. Sisi banyak memberi makna pada pentingnya cara pandang yang holistik

Cara pandang holistik yang dimaksudkan dalam ulasan ini adalah suatu kemampuan melihat hubungan keterkaitan satu dengan yang lainnya sebagai satu kesatuan dan bukan merupakan suatu pemisahan secara total. Ciri holistik sebenarnya merupakan suatu perspektif yang tidak memisahkan manusia dengan kriteria tertentu, seperti tidak memisahkan manusia secara biologi dan secara sosial budaya. 

Justru manusia perlu dilihat sebagai makhluk bio-sosial yang terhubung dengan segala macam fenomena di luar dirinya.Kesadaran terkait makna polyeder itu penting agar setiap orang tidak menganggap dirinya sebagai super yang bisa memaksa keseluruhan sebagai bangsa menuruti kemauannya.

Setiap bagian dihormati dalam nilainya dan pada saat yang sama yang keseluruhan lebih dari sekedar satu bagian, dan  juga lebih dari sekedar jumlah.

Oleh karena itu, cara pandang yang baik untuk dimiliki oleh seluruh rakyat Indonesia adalah keterbukaan untuk berjumpa dan berdialog dengan siapa saja atas dasar keyakinan bahwa perjumpaan dengan yang berbeda atau `yang banyak dan berbeda´ itu semakin memperkaya kita.

2. Sisi banyak itu memberi makna tentang pentingnya membangun dialog yang terbuka dan sabar

Kesadaran tentang pilar-pilar Dasar Negara perlu dilihat secara baru dengan menggunakan bahasa dan gambaran baru seperti pilar-pilar yang  menopang berdirinya sebuah rumah. Ya, Indonesia adalah Rumah Kita dan bukan rumah saya atau rumah kami. 

Kita hidup, ada dan mendiami rumah yang sama. Coba bayangkan apa jadinya dalam sebuah rumah di mana semua penghuninya mau berbicara dan tidak sabar mendengarkan atau tidak mau terbuka berdialog. Tanpa keberanian dan kesediaan untuk dialog terbuka dan sabar, maka akan terasa suatu hawa di dalam rumah kita bisa saja seperti hawa di lereng gunung berapi.Karena itu, sangat penting bahwa kita perlu belajar untuk bisa berbicara satu dengan yang lainnya, menemukan kekayaan pikiran, kekayaan batin, kekayaan spiritual satu sama lain, bahkan kita perlu belajar menyoroti hal apa yang mengikat kita bersama sebagai warga dan penghuni satu rumah

Memang menuliskan gagasan itu terasa lebih mudah daripada harus terjun ke lapangan untuk merealisasikannya. Multikultural, mungkinkah itu dilihat sebagai cara dan peluang untuk bertumbuh dan menghormati semua?

Peluang dan kebebasan untuk menanamkan nilai-nilai budaya sendiri di dalam rumah yang sama, dengan tetap bersikap terbuka terhadap yang lain dan budaya lain selalu memberikan makna dan perspektif baru, bahkan akan menjadi jauh lebih berarti lagi, jika ada kemauan untuk menyerap kebaikan yang datang dari pengalaman dan wawasan budaya orang lain.

Orang akan bisa menyerap kebaikan dari budaya lain, jika orang punya kemampuan dan kemauan untuk membangun dialog yang terbuka dan sabar. Kadang orang mampu berdialog, namun tidak sabar. Ada juga yang begitu sabar, namun tidak mampu melihat hubungan nilai yang berbeda-beda.

Tentu, antara kemampuan dan kemauan, sabar dan terbuka, sulit bisa ada bersama-sama, namun kesadaran bahwa Kita Satu Rumah perlu tetap menjadi pegangan bersama.

Dari kesadaran itu, sebenarnya kendala kecil bisa saja ibarat retakan pada dinding rumah yang bisa diperbaiki dan sama sekali tidak menggoyahkan tiang-tiangnya.  

Hal yang sering terjadi bahwa dinding hubungan dan kisi-kisi jendela dari rumah kita yang sedikit rusak, namun orang minta supaya tiang-tiang rumah kita diganti semua. Jujur sih, sebenarnya susah untuk memahami kecenderungan seperti itu dan bagaimana logika berpikir seperti itu bisa ada di dalam rumah kita.

Saya lebih melihat persoalan bangsa kita selama ini adalah persoalan di dalam rumah, selisih paham, salah paham, soal hubungan antara penghuni dan kepala rumah tangga dan anggota-anggotanya, tetapi bukan persoalan tentang tiang-tiang rumah. 

Tiang rumah kita sangat kokoh, karena pada tiang-tiang itu ada keyakinan bahwa kita penghuni rumah punya satu Tuhan yang sama. Kita punya tiang kemanusiaan yang adil dan beradab, kita punya tiang persatuan, dan musyawarah yang menghantar kita menjadi bijaksana dalam mengatur tata hidup sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia.Sekali lagi, itu semua mungkin akan menghasilkan percikan wawasan baru, jika orang mengerti apa artinya Polyeder, Setiap bagian dihormati dalam nilainya dan pada saat yang sama yang keseluruhan lebih dari sekedar satu bagian, dan  juga lebih dari sekedar jumlah.

Dua aspek yang terpancar dari gagasan terkait Polyeder itu merujuk pada usaha untuk memperjelas efek Pancasila tidak hanya dalam hal pembentukan identitas, tetapi juga terkait kehomogenan

1. Efek pembentukan identitas

Efek pertama dari Pancasila adalah pembentukan identitas. Pertanyaannya, identitas siapa? Sebenarnya hanya orang Indonesia yang punya hubungannya dengan Pancasila.

Pembentukan identitas anak bangsa tentunya. Mengapa disebut anak bangsa? Disebut anak bangsa karena orang tidak boleh lupa bahwa pembentukan identitas tidak lepas dari kebebasan individu untuk mengidentikan dirinya. Tidak keliru, jika pendidikan Pancasila sudah dipelajari sejak dini atau sejak Sekolah Dasar. 

Kerangka berpikir yang menjadi latar belakangnya adalah pembentukan identitas anak bangsa sejak dini.Oleh karena efek Pancasila terhadap pembentukan identitas itulah, maka Pancasila ditargetkan bukan saja sebagai suatu warisan sejarah Dasar Negara, tetapi lebih-lebih dipelajari, direnungkan makna, efek dan pesannya terkait situasi bangsa yang dekat dengan kekinian.

Harus diakui bahwa mungkin juga proses pembentukan identitas anak bangsa itu tidak berjalan dengan baik, hal ini bisa dibuktikan melalui suara-suara yang menginginkan ideologi Pancasila itu diganti dengan ideologi lainnya.

Fenomena seperti itu bisa saja terjadi oleh karena pengaruh perkembangan dan gagasan radikal lainnya yang tidak manusiawi, belum lagi seseorang tidak dengan cermat mempelajari Pancasila secara baik sejak dini. Saya yakin tidak ada yang berani membuktikan di mana letak kekurangan dari 5 Sila Pancasila itu sendiri. 

Sebaliknya kita mesti berbangga bahwa bangsa ini pernah melalui saat-saat pilu dijajah, lalu berawal dengan Pancasila itu, kita bertumbuh dan berkembang hingga sekarang. Pembentukan identitas bangsa adalah poin yang sangat penting sebagai efek dari Pancasila.

 Karena itu, alangkah baik, jika efek pembentukan identitas anak bangsa ini masuk dalam kerangka formasi pendidikan di tanah air dalam semua jenjangnya.Saya yakin bahwa jika pendidikan kita berperan aktif dengan visi pembentukan identitas anak bangsa yang sesuai dengan lima Sila Pancasila, maka radikalisme akan mudah ditepis, sehingga toleransi akan menjadi lebih nyata dan respek dan hormat menghormati menjadi warna hidup sehari-hari.

2. Efek kehomogenan

Efek kehomogenan itu sebetulnya sangat nyata ditemukan dalam keseharian hidup dan realitas bangsa. Sekalipun kita berbeda-beda, tetapi kita tetap satu; satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa.Kehomogenan yang perlu diangkat ke permukaan refleksi anak bangsa adalah bahwa kita punya Pancasila yang mana kelimanya kita terima baik secara pribadi maupun secara bersama.

Sederhananya orang bisa saja mengatakan, "saya tinggal di Indonesia, ya saya punya Tuhan, saya ingin dihormati, saya ingin supaya kita hidup bersatu, saya ingin kita bisa bermusyawarah, saya ingin supaya kita sejahtera dan adil."

Kerinduan dan pengakuan seperti ini bukan saja milik satu orang saja, tetapi dirindukan secara sama oleh seluruh rakyat Indonesia.  Jadi, sebenarnya antara kita tidak terdapat batas, yang juga tidak bisa dibedakan lagi, sehingga semua yang ada memiliki kerinduan yang sama pada setiap bagiannya. 

Bahkan setiap orang tidak dibatasi kerinduannya untuk belajar dan mengenal budaya lainnya. Kita satu rumah dan kita tidak dibatasi untuk saling mengenal dan saling menghormati.

Tanpa batas dalam konteks efek dari Pancasila bukan berarti sama dengan peleburan sampai tidak ada identitas, melainkan lebih pada kebebasan untuk mengenal dan menghormati semua yang beraneka ragam. Tentu berbeda dengan heterogen, karena di sana ada batas yang bisa dengan jelas dibedakan antara komponen penyusunnya.

Saya percaya gagasan seperti ini tetap perlu dikaji lebih jauh lagi oleh siapa saja. Semakin sering anak bangsa ini melihat efek-efek positif dari Pancasila, maka semakin bagus untuk memperluas dan memperdalam wawasan kehidupan berbangsa.Ini hanya merupakan gagasan pribadi yang muncul ketika membaca situs dalam bahasa Jerman tentang Pancasila.

Di sana tidak dijelaskan apa maksud dari efek Pancasila terkait kehomogenan. Tentu siapa saja bisa menjelaskan kemungkinan penafsiran terkait efek kehomogenan dari Pancasila. Saya menyadari bahwa Pancasila sungguh berarti dan bermakna bagi kehidupan bangsa yang multikultur. 

Demikian beberapa gagasan yang terkait dengan pesan polyeder dan juga efek dari Pancasila untuk kehidupan bangsa yang  memiliki budaya yang beraneka ragam. Refleksi ini tentu merupakan suatu cara pandang pribadi dengan maksud agar Pancasila bisa dipahami secara baru dan aktual melalui proses perjumpaan dengan gagasan-gagasan lain, yang memungkinkan nilai-nilai yang belum tampak diangkat ke permukaan untuk dikaji lebih dalam lagi. 

Salam berbagi, ino, 2.06.2021

Komentar
* Email tidak akan dipublikasikan di situs web.